img

Mbah putri bingung mencari sesuatu. Aku yang sedari tadi memperhatikan, menjadi tertarik untuk menghampiri beliau. Nang endi, to?,” (Dimana, sih?) gumam mbah putri ketika mengetahui aku mendekat.

“Madosi napa, Mbah?” (Mencari apa, Mbah?) Tangan mbah putri mengibas, memintaku menyingkir dari depan kamar mbah kakung.

“Enggak, iki lho Le, wis tak gawekke kopi. Golekono mbah kungmu, Le, kongkonen mrene, ngopi dhisik.” (Enggak, ini lho, Nak, sudah saya buatkan kopi. Carilah mbah kungmu, Nak, suruh kesini, minum kopi dulu.)

Astaghfirullah, dadaku berdebar kencang seketika. “Mbah kung mbonten enten, Mbah. Pun seda… .” (Mbah kung sudah tidak ada, Mbah, sudah meninggal… .)

“Ya Allah, Laa haula wa laa quwwata illa billah… wis ga ono, ta? Tiwas tak gawekke kopi… .” (…sudah tidak ada, ya? Terlanjur kubuatkan kopi… .) Mbah putri menangis. Tapi tak sebanyak air mataku. Aku mendekap bahu beliau dari belakang. Mbah putri tiba-tiba lemas. Beliau kubopong memasuki kamar mbah kakung, kemudian membantu beliau duduk di atas tempat tidur.

“Mbah Kung mboten enten, Mbah. Mbah Putri kesupen, nggih…” (Mbah Kung sudah tidak ada, Mbah. Mbah Putri lupa, ya…)

“Iya, Nak. Iya, Nak. Laa haula wa laa quwwata illa billah…” Mbah putri menyandarkan kepalanya di dadaku. “Wis Nak, kopine mbah kung ombenen wae. Tak jupukna ta, Nak?,” (Sudah Nak, kopinya mbah kung kamu minum aja. Saya ambilkan ya, Nak?) mbah putri memandangku dari balik genangan air matanya.

“Mpun, mboten Mbah. Mbah putri mawon. Kula sampun teh, niki wau.” (Sudah, tidak usah Mbah. Mbah Putri saja yang minum. Saya barusan sudah minum teh.)

Mbah putri berdiri, beranjak dari kamar mbah kakung. “Nyoh, iki lho, Nak. Ombenen wae.” (Ayo, ini lho, Nak. Kamu saja yang minum.) Mbah putri menyodorkan kopi yang dibuatnya untuk mbah kakung kepadaku. Nada bicara mbah putri berbeda dengan beberapa detik lalu. Beliau lebih tegar.

“Nggih, matur nuwun, Mbah.” (Iya, terimakasih, Mbah.) Aku menghapus air mataku, dan meletakkan kopi itu di atas meja di sudut ruangan. Mbah putri berlalu, dengan cepat keluar dari kamar ini.

Aku memandangi tempat tidur mbah kakung. Aku masih ingat ketika beliau membacakan doa sebelum tidur kepadaku, beberapa tahun silam, ketika aku tak bisa berhenti dari tangisku.

Sudah empat puluh hari ini mbah kakung tiada. Sudah empat puluh hari ini pula kebiasaan mbah putri belum hilang. Kopi panas itu selalu terhidang di meja makan, seolah menanti kedatangan pemiliknya.


Cinta itu, sampai kapan kita lestari meresapi?

… .

sumber gambar: www.pasarkreasi.com

Advertisements