imageAda yang bilang kalau menulis itu adalah proses meluapkan perasaan si penulis. Ada juga yang bilang, penulis sedang bermain-main dengan perasaan orang lain, yang sedang dimasukkan menjadi perasaannya sendiri, hingga ia menulis seolah-olah itu adalah perasaannya sendiri. Saya pernah melakukan proses yang kedua, dimana saya bukanlah tokoh utama, tapi dalam tulisan saya menggunakan kata ganti ‘saya’ supaya lebih menjiwai perasaan orang lain yang sedang saya perankan. Tapi dalam tulisan ini, kata ganti ‘saya’ tidak lain adalah diri saya sendiri.

SBY-Album

Saya sedang mengalami apa yang orang sebut dengan ‘lebay’. Memang saya tidak uring-uringan hari ini, tidak pula marah-marah kepada teman kos hanya karena lupa mengembalikan remote tivi pada tempatnya, tidak juga mengumpat-umpat pada cucian karena noda di kerah leher sulit sekali dihilangkan. Saya hanya diam, merutuk dalam hati, kok bisa-bisanya kepala negara kita bikin album ketiga sementara di depan mata saya seorang ibu menangis karena putranya tak kunjung sadar, sehabis beradu kepalanya dengan kepala truk, di suatu sore seminggu yang lalu.

Saya punya etika untuk tidak ngepost foto pasien saya itu: seorang bocah lelaki 15 tahun yang hanya bisa melek, tak bisa bicara, terpasang kateter kencing pada kemaluannya, dan terpasang selang nutrisi pada hidung yang menuju ke lambungnya. Selain saya tak kuasa mengambil fotonya, juga karena alasan profesi, yakni mejaga kerahasiaan pasien.

protes-nasabah-bank-century Bocah lelaki itu hanyalah salah satu alasan kenapa saya tidak tahan. Saya sedang tidak tahan apa yang sedang dihadapi negeri ini. Dimulai dari kasus century, kriminalisasi KPK, sampai obrakan di pasar tradisional yang dengan terpaksa menutup mata pencaharian sebagian warga di sana.

Katakanlah, saya dan teman-teman di sini bertugas memberi perhatian pada pasien-pasien kami, sebagai tanggung jawab kami memberi pelayanan sesuai profesi kami. Kami juga bagian dari republik ini. Kami hanya sebagian kecil masyarakat yang diberi tanggung jawab penuh untuk memberi pelayanan kesehatan. Sekali lagi, karena kami adalah bagian dari republik ini.

Kami bukanlah mereka yang mudah sekali mengungkapkan cinta. Kami tidak pandai, tapi kami tahu bagaimana caranya memanfaatkan kekuasaan yang ada dalam tangan kami untuk menggunakannya menjadi lebih baik. Sekali lagi, karena kami adalah bagian dari republik ini.

anak Saya hanya sedang tidak tahan. Setiap hari saya melihat orang yang terbaring lemah tak berdaya, pasrah pada nasib sementara ilmu pengetahuan modern tidak mampu menyelesaikan apa masalahnya. Saya melihat setiap hari, bagaimana ibu-ibu yang sungguh tegar pada mulanya, harus menghadapi kematian putra-putri mereka hanya karena alasan takdir. Ya, di sini mereka dipaksa menelan bulat-bulat keputusan takdir itu, sehingga mereka berteriak sedih: inna lillahii wa inna ilaihii raji’uun…

Dan saya melihat setiap hari, bagaimana setiap orang dengan angkuhnya bersaksi bahwa ‘keputusan ini dapat berdampak sistemik’, sementara banyak orang yang tak kunjung membaik kehidupannya, bahwa setiap orang sedang berjuang mencari makan dari kekuasaan republik yang sedang tidak berpihak pada mereka.

kammi yogya1 Suatu ketika dalam obrolan santai seusai sarapan, teman saya mengatakan bahwa demonstrasi untuk 100 hari pemerintahan republik ini adalah sia-sia belaka. Demonstrasi adalah suatu pekerjaan yang tidak penting, yang membuang waktu, yang seandainya kami saat itu memakai hukum konversi, maka sekumpulan demonstran di Surabaya yang sedang berdemonstrasi 6 jam itu saja bisa menghasilkan sekian juta dolar.

Yah, saya hanya tertawa saja. Tertawa karena tahu mereka mungkin tidak pernah mengecap kehidupan bawah. Menertawai karena mungkin mereka terbuai dalam keadaan yang berkecukupan sebagai penerus generasi kaya-raya, yang tidak pernah merasa lapar, yang tidak pernah bersusah payah mencari keadilan. Karena seperti yang dari dulu saya duga, bahwa keadilan tidak pernah mengurusi kaum bawah.

25demoSaya hanya tidak tahan. Hari ini saya bertengkar dengan seseorang—sebut saja bertengkar dalam cinta, meski saya bukan termasuk orang yang lihai dalam menunjukkan cintanya. Saya cuma pintar berkata-kata, lebih tepatnya, menggunakan kata-kata untuk menusuk-nusuk perasaannya. Akhirnya, dialah yang menjadi sasaran ketidaktahanan saya atas kondisi republik ini. Oh, maap sayang, saya hanya sedang tidak tahan.

Memang ada saat-saat tertentu kita tidak pantas mengeluh. Tapi hal itu tidak berlaku untuk kita, antara kamu dan saya.

… .

Sumber gambar: saya search di www.google.com

Advertisements