Ingin rasanya saya batalkan saja pertemuan petang kemarin, supaya bisa menulis postingan ini dengan lebih leluasa. Apalah dikata, pinta sudah bersambut, kata sudah terangkai, tidak mungkin saya membatalkan secara sepihak saja. Apalagi itu sudah janji.

Penjual_Gudeg [wiki] Sore kemarin saya kembali ke kosan dalam keadaan kehujanan, lapar, perut belum terisi nasi dari pagi. Karena ada perubahan rencana, petang ini juga saya harus kembali lagi ke rumah sakit. Daripada pingsan di tengah jalan, saya putuskan untuk mampir di warung makan tak jauh dari ruang rawat inap.

Terkagetlah saya, karena warung itu tak tampak sempurna seperti biasanya. Persis seperti gerobak yang terpotong dua, meja hanya tinggal sebiji, kursi plastik dua buah—itupun yang tak layak duduk karena penyok, dan kardus yang disusun terbalik di atas meja. Di atas kardus itu terdapat beberapa bungkus nasi yang disusun seperti piramida. Yang lebih mengejutkan, karena gerimis yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi, emak penjual nasinya melindungi semua dagangannya itu dengan payung ala kadarnya. Dia sendiri tidak berpayung, hanya mengandalkan topi jeraminya yang lebar yang pernah didapatnya dari seorang pelanggan. Dia tidak duduk, lebih tepatnya ndhodhok di pinggir trotoar. Untuk melawan angin yang semilir dingin, aduhai, tas kresek yang dimodifikasinya tampak seperti formalitas saja untuk disebut jas hujan. 

Habis obrakan, Nak,” ujarnya sambil terkekeh. Gigi serinya tinggal tiga, dua di atas satu di bawah.

Ha? Obrakan? Sore-sore gini, Mak?”

penjual-pecel-semanggi [jengjeng.matriphe.com] Rupanya warung-yang-tinggal-separuh itu adalah sisa harta yang bisa si emak selamatkan dari obrakan satpol PP. Yang mengagumkan, si emak masih terkekeh-kekeh, sama seperti biasanya ketika bercerita tentang cucu semata wayangnya. Emak sudah tua, 71 tahun, pernah kena HNP tapi tak sanggup operasi. Setiap orang yang datang ke warungnya tentu sungkan karena jalan si emak selalu membungkuk. Ya, tak heranlah dia tidak dapat menyelamatkan seluruh bagian warungnya yang hampir permanen itu.

Semua pedagang di Pasar Karangmenjangan ini ikut terkekeh. Mau bagaimana lagi, memang mereka sifatnya hanya numpang di sini. Tidak ada sewa lahan. Tidak ada retribusi, tidak ada tarikan, hanya urunan pedagang untuk iuran kebersihan. Mereka membayar sendiri, lebih tepatnya “nyangoni” petugas kebersihan yang berseragam oranye bertuliskan cleaning sevice untuk membantu membersihkan limbah dagangan mereka.

Seperti biasanya, hari ini satpol PP telah datang pukul 9 pagi. Saat itu emak dan cucunya hanya memasang satu meja plastik. Jadi ketika satpol PP mulai bergerak, semua dagangannya mudah diangkut dan bereslah urusan. Tak satupun yang disita. Setelah pukul sepuluh lewat, barulah emak memasang dua meja panjang dan satu meja plastik kecil. Tak dinyana, sore ini satpol PP datang lagi. Pedagang-pedagang itu pun kelabakan. Semua sibuk sama urusannya sendiri, tidak ada yang bisa membantu emak. Hanya beberapa pelanggan membantu mengangkat meja plastik, kerdus berisi nasi, dan emak mendekap kotak kasnya erat-erat. Habislah sudah.

“Mau gimana lagi, Nak. Namanya juga hidup, ada kembang kempisnya.” Si emak terkekeh lagi. “Kalo ngga dijalani, ya ngga bisa hidup.” Terkekeh dua kali. “Hidup mau banting saya kayak apa, ya harus tahan.” Tiga kali. “Kalo bukan saya yang menikmati urusan saya sendiri, siapa lagi?” Lima kali terkekeh. “Urusan perut, sih. Ngga makan ngga kumpul.” (Emak saingan sama Slank, nih, makan ngga makan asal kumpul.) Emak terkekeh selepas-lepasnya. Saya ikutan terkekeh karena bisa menghitung seluruh gigi emak: totalnya hanya tiga! Ya, hanya tiga di depan, grahamnya tidak ada!

Selain emak, rupanya ada orang lain yang begitu menikmati urusannya sendiri. Inilah dia:

sby album_karikatur

Kira-kira, ketika merepost karikatur ini, saya dipenjara tidak, ya? Ah, semoga tidak. Saya sendiri seorang fans tokoh demokrat satu ini, meskipun bukan dari satu partai. Saya termasuk yang kagum dengan slogan “Lanjutkan” beliau ketika pemilu kemarin. Ya, waktu itu tidak ada lagi yang layak dipercaya selain beliau, sih. Kira-kira, ketika saya berhadapan langsung dengan beliau dan menceritakan apa yang dihadapi emak, apa tanggapan beliau, ya?

Sebagai saudara seiman beliau, yang sama-sama solat, sama-sama puasa Ramadhan, saya berharap masih ada setitik dari ruang di hati beliau yang disempatkan untuk merasakan apa yang dirasakan emak. Mungkin juga emak-emak lain di seluruh penjuru pertiwi ini. Emm.. apa dari hasil penjualan album beliau dimanfaatkan untuk memberi modal emak untuk memajukan warung nasinya? Hmm.. siapa tahu.

Sampai sekarang pun, sejak 100 hari terakhir, saya tidak berusaha membangun kepercayaan untuk beliau lagi.

Kecuali ada hal lain yang patut saya banggakan dari beliau. Dan saya masih menunggu. Anda mau menunggu?

… .

Sumber gambar: saya search di www.google.com 

Advertisements