image

Pernah melihat ajal?

Ajal itu tidak dapat dilihat, hanya dapat dirasa. Tak dapat diraba, hanya dibaca. Tak dapat dirupa, hanya dimakna. Tidak ada satu literatur pun yang sanggup menjelaskan secara gamblang apa itu ajal. Yang pada akhirnya menyerahkan definisi ajal itu kepada Tuhan semata.

Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng dan abadi kecuali Allah.
(
Pusara Dunia Pengembaraan)

ajal n batas hidup yg telah ditentukan Tuhan, saat mati, janji akan mati: menemui — nya; menghadap (menanti) — nya; sampai — nya;
sebelum — berpantang mati, pb
tidak akan mati sebelum sampai waktunya;
(Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Ajal sungguh bias, sungguh abstrak.
Tapi bagi Mandhe, ajal itu begitu nyata.

Dia adalah pemuda yang tangguh. Mengharuskan dirinya bangun lebih awal demi mengambil kesempatan mengumandangkan adzan di surau sebelah rumahnya. Lebih tepatnya, surau itulah rumahnya. Sejak kecil hidup diasuh tetangga yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya. Kini dia harus hidup sendiri setelah setahun lebih seminggu lalu ibu angkatnya mangkat. Hanya satu hal yang diwarisi dari ibu angkatnya itu: Sapu Lidi.

Dengan demikian sejak setahun lebih seminggu, Mandhe diterima dengan terpaksa sebagai tukang sapu jalanan sebagai ganti ibu angkatnya. Jangan salah, tukang sapu jalanan juga ada seleksinya, lho. Yang diterima adalah mereka yang berbadan kuat, tak peduli berapapun umurnya.

Tukang sapu jalanan adalah bagian dari pasukan kuning, yang sejak tahun 1998 banyak menerima anak putus sekolah seperti Mandhe. Entah kenapa mereka dianggap sebagai sukarelawan yang tak perlu seragam seperti pasukan kuning lainnya. Soal gaji, mereka tidak banyak protes. Topi oranye itulah yang menandakan kebanggaan mereka sebagai pahlawan kebersihan tanpa tanda jasa. Atau, tanpa tanda layak gaji.

Setidaknya itulah cerita Mandhe semenit yang lalu sebelum dia mengalami henti napas.

Kami terlalu sibuk untuk menghiraukan pasien lain. Kami terlalu sibuk memasang intubasi, memberi napas buatan kepada Mandhe, sementara saya terlalu sibuk akan ceritanya yang membayangi pikiran saya. Suaranya yang riang tidak bisa hilang dari telinga saya. Saya memutuskan untuk tidak turun dari atas Mandhe, sambil terus mendengarkan komando, semaksimal mungkin pijat jantung saya tidak boleh lengah.

Mandhe mengalami perdarahan otak. Tanda khas yang dia alami adalah adanya periode bebas-pingsan di antara dua periode pingsan. Menurut yang mengantar, Mandhe sempat mengalami pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit. Inilah yang mengharuskan kami melakukan observasi ketat untuk Mandhe selama enam sampai sembilan jam sejak kejadian. Meski dari CT-Scan kepala hanya menunjukkan sedikit perdarahan, kemungkinan besar terjadi perdarahan aktif yang terus-menerus mengisi ruang di kepalanya, sementara ruang kepala selalu dalam volume yang tetap.

Hanya karena alasan tidak punya uang, teman kerjanya menunda mengirim Mandhe ke rumah sakit. Akhirnya Mandhe yang saat itu sadar kembali, mengiyakan. Toh tidak ada luka apapun di sekujur tubuh Mandhe. Satu-satunya alasan Mandhe dan temannya pergi ke rumah sakit adalah karena Mandhe tiba-tiba merasa pusing dan muntah.

Hingga lima menit yang lalu Mandhe masih bisa bercerita banyak meski mulutnya tertutup masker oksigen. Dan sekarang suara riang itu telah hilang bersamaan dengan napasnya.

Tidak ada tangis. Tidak ada senyum. Tidak ada rasa menyesal. Tidak ada yang bersedih. Mandhe tidak punya keluarga di sini untuk menangisinya. Yang ada hanya temannya yang resah bagaimana harus mengantar tubuh Mandhe, kemana kepada siapa?

Kami sebagai tenaga medis tidak boleh terlalu terhanyut dalam suasana seperti ini. Saya pun meninggalkan ruangan, sambil membayangkan kejadian yang menimpa Mandhe: diseruduk motor dari belakang saat dia sedang menyapu jalanan. Sungguh malang.

Salah siapa?

(Setidaknya dia sudah menunaikan kewajibannya saat itu: mengumandangkan adzan, salat subuh, dan menyapu jalanan.)

… .

source gambar: www.khaeroni.net

Advertisements