image

Yap. Inilah judul slide saya. Mirip judul buku populer. Slide yang saya gunakan untuk training di Himpunan Mahasiswa Kimia Brawijaya, Sabtu 2 Oktober 2010 kemarin. Tema training yang panitia berikan adalah tentang Leadership. Peserta training adalah para Mahasiswa Baru angkatan 2010. Menarik! So far, alhamdulillah tidak ada halangan yang berarti, kecuali slide saya yang sempat macet di tengah-tengah, karena memory laptop yang terlampau penuh. Cekidot, gan!

Training saya awali dengan slide bergambar Naruto dan Kyuubi, dengan back sound original theme song “Go!!!” dalam animenya. Saya sengaja memberi games energizer yang mengharuskan mereka berteriak mengingat sesi training saya siang hari selepas ishoma. Saya minta mereka berdiri, namun tidak sekedar berdiri. Mencontoh Pak Tung Desem Waringin, saya minta mereka berdiri sambil berteriak “yesss!!” Kurang lebih saya menghabiskan 5-7menit untuk satu-dua games energizer.

imageSlide kedua, saya bercerita tentang salah satu kejadian lucu ketika saya masih aktif di BEM kampus. Yakni Menteri Advokasi saya, yang ternyata mengirim undangan sarapan via sms ke semua BPH, termasuk saya. Tentu saya gregetan. Sudah tahu pukul 10tet kita harus rapat, pukul sepuluh kurang seperempat semua BPH kecuali saya kumpul di warung sebelah kampus untuk sarapan. Akhirnya kami memutuskan untuk membahas agenda rapat di warung tersebut.

Saya melempar pertanyaan kepada peserta training, “Lalu, siapakah Leader yang sesungguhnya, saya sebagai Ketua Umum BEM atau Menteri Advokasi saya?” Semua peserta meneriakkan nama menteri saya. “Jadi, apakah makna sesungguhnya dari Leadership itu?” Tak lain adalah ‘influence’. Pengaruh. Seorang leader, dimana pun jabatannya, pastilah orang yang mampu mempengaruhi orang lain.

Lalu, apa beda dengan provokator? Provokator pun seorang leader. Yang membedakan hanyalah dua hal: tujuan akhirnya, dan tanggung jawab sosial yang dimiliki. Apabila tujuan akhirnya untuk membangun dan memperbaiki, tentu ia bukanlah seorang provokator. Dan bila ia bersedia bertanggung jawab untuk membawa rekan-rekannya ke arah hidup lebih baik, sesungguhnya ia lah Leader sejati.

imageimageimage

Cerita berikutnya adalah tentang salah satu tokoh di bidang kimia, yang cukup familiar bagi para peserta training. Yakni Marie Curie. Kemudian saya minta mereka menyebutkan tokoh idola masing-masing beserta alasannya. Mulai dari Albert Einstein, Stalin, Presiden Soekarno, Naruto, sampai Hafid Algristian. *lhoh??*

 image image

Saya minta masing-masing peserta yang menyebutkan nama idolanya, membandingkan dengan idola saya, yakni Rasulullah SAW. Kita bandingkan mulai dari awal beliau lahir, tumbuh berkembang, skill yang dimiliki, hingga bagaimana beliau wafat. Dan yang terpenting, bagaimana beliau melahirkan leader-leader baru, hingga hasil karyanya tetap lestari hingga kini. Kemudian, bagaimana beliau mencapai prestasi hingga seperti itu?

Ada tiga langkah sederhana. Yakni: 1. Kekuatan Visi, 2. Investasi, 3. Re-Aksi.

imageLangkah pertama adalah Kekuatan Visi. Saya tanya kepada peserta training, “Bayangkan Anda sekarang sedang naik sepeda motor. Di saat hujan lebat, petir menggelegar, guntur menyambar-nyambar, angin berhembus kencang, jalan tergenang, hampir seperti sungai dalam yang menelan separuh ban motor kita. Apakah kita bisa sampai di rumah dengan selamat?”

“Bisaaaa!!” jawab mereka kompak. “Kenapa bisa?” Jawabannya bermacam-macam: karena bensin penuh, karena hati-hati, karena pake jas hujan, karena ada tumpangan mobil jadi motor dititipkan di pom bensin, karena ada lampu kota-kota, karena takdir sedang tidak kejam sehingga selamat sampai di rumah, dan sebagainya. Ada juga yang bilang, “Sampe ngga sampe tergantung yang dibonceng, Pak.” “Lho, kok bisa?” “Karena sama siapa kita berkendara, menentukan semangat kita. Kalo saya bonceng Bapak mungkin saya langsung patah semangat.” Gerrrr…

Jawaban saya sederhana. Kenapa kita sampai di rumah? Ya karena kita tahu di mana rumah kita. “Glodak!” Kata peserta training. Yahahaha… Meski bensin penuh, lalu hati-hati, pake jas hujan, lampu kota-kota menyala, sampai takdir sedang baik hati pun, kalau kita tidak tahu mau kemana, ya selamanya kita tidak akan pernah sampai.

imageLangkah kedua, adalah memilih apa yang kita investasikan untuk mencapai visi yang sudah kita tetapkan. Apakah uang/materi, dengan membangun relasi/link, mengasah kemampuan skill/knowledge, dan berinvestasi waktu. Satu hal yang ternyata dimiliki oleh semua orang dan diberikan secara cuma-cuma oleh Allah adalah nikmat ‘waktu’. Jika kamu tak punya banyak materi, seorang anak rantau seperti saya yang tidak punya banyak link, dan skill masih separuh badan, maka investasikanlah waktumu. Pilih salah satu di antara tiga hal tadi yang ingin kita perdalam.

Kemudian saya attach juga video yang bercerita tentang Einstein kecil. Saya ingin peserta training memahami pentingnya berinvestasi waktu sejak dini, untuk mengasah salah satu yang prioritas dari tiga hal tersebut. Seperti saran Aa Gym, mulai dari sekarang, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari diri sendiri. Video ini adalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana Rasulullah SAW berinvestasi waktu sejak kecil, sepeninggal ibunya, saat beliau diasuh oleh pamannya, hingga perjalanan dagang dan dakwahnya bersama Siti Khadijah. Inilah video tersebut:

imageLangkah yang ketiga adalah Re-Aksi. Di sinilah letak evaluasi. Apa yang telah kita capai selama ini. Seberapa dekat kita dengan apa yang kita cita-citakan. Apakah cita-cita kita cukup relevan dengan apa yang kita lakukan sekarang. Jika ternyata tidak, maka harus ada yang dibenahi, baik dari usahanya maupun kesesuaian cita-cita dengan kondisi sekarang. Namun, ada satu hal yang perlu kita catat. Halangan apapun yang kita temui di jalan mencapai cita-cita, tidak membuat kita berhenti. Silakan berhenti sejenak untuk evaluasi diri. Setelahnya, take action lagi. Inilah yang saya sebut sebagai Re-Aksi. Re-evaluasi dan re-aksi yang dilakukan Rasulullah SAW adalah setiap saat beliau salat malam.

Rasulullah SAW selalu meluangkan diri (berinvestasi waktu) untuk mendengarkan sahabat-sahabatnya, bercengkrama dengan isterinya, bermain dengan anak-anaknya, bahkan mengunjungi rumah musuh-musuhnya. Dari silaturrahim inilah beliau mampu mengulirkan visinya menjadi impian bersama.

Pada slide ini pula saya bercerita tentang salah satu penulis Chicken Soup, Jack Canfield, bagaimana ia bisa menulis sebuah buku best seller. Sederhana, dia cukup menuliskan angka 1.000.000 dollar di selembar cek kosong. Tentu saja, dengan kondisinya sekarang tak mungkin ia mencairkannya. Dia tempelkan cek tersebut pada bagian kamar dimana ia mudah melihatnya. Dia ulang dan ulang terus apa yang dia impikan dalam pikirannya, kemudian berinvestasi waktu dan skillnya untuk menulis. Ditambah lagi ia bertemu dengan salah seorang wartawan majalah yang akhirnya menjadi relasi untuk penerbitan bukunya. Dalam satu tahun setelahnya ia berhasil mencairkan cek tersebut dengan penghasilan yang ia terima dari penjualan bukunya.

imageSlide berikutnya saya bercerita tentang dua sahabat saya, yakni Mas Hendro dan Mbak Tiwi. Semua bermula pada sepuluh hari kedua Ramadhan. Hanya dalam selisih satu hari, saya mendapat dua kabar duka. Ayah Mas Hendro meninggal karena infeksi paru-paru. Ayah Mba Tiwi meninggal karena sakit jantung. Kejadian ini begitu mendadak, dan kedua sahabat saya itu tidak sempat berada di samping saat sang ayah meninggal.

Seandainya kedua sahabat saya itu meluangkan waktu sedikiiit saja, setidaknya mereka bisa menggenggam tangan sang ayah saat beliau merasa kesakitan karena naza’. Saya ingin mengingatkan diri sendiri dan para peserta training bahwa ajal bisa datang kapan saja di mana saja kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Sepertinya kita semua tidak punya cukup waktu untuk mewujudkan semua visi kita. Allah memberi 24 jam yang sama kepada semua orang, yang membedakan hanyalah kualitas isinya.

Slide ini saya lengkapi dengan instrumentalia berjudul “Dancing Touch” dalam album Natural Massage Therapy. Tidak tahu juga hasil karya siapa. Saya membawa para peserta training dalam “kondisi alfa”. Saya minta mereka memejamkan mata, lalu membayangkan sebuah foto usang. Yakni foto sang ibu yang sedang tersenyum, sampai akhirnya mengajak membayangkan bagaimana seandainya kita kehilangan sang ibu tanpa sempat membuktikan bakti kita.

imageInilah sebuah energi dalam diri kita. Yakni energi berbakti. Berbuat terbaik demi orang yang dicintai, demi memberi manfaat kepada orang-orang di sekitar kita. Memilki kekuatan visi, kesediaan berinvestasi dan mengevaluasi diri, tidak akan cukup bila kita tak punya motivasi. Antusiasme itu menular.

Untuk memberi ilustrasi, saya attach video commercial produk Nike yang dibintangi Tiger Woods. Ilustrasi ini memberikan gambaran bahwa seorang Super Leader selalu bisa membuat dirinya termotivasi, dan mampu membuat orang-orang di sekitarnya makin antusias dengan usaha mencapai impian bersama. Video ini sekaligus menutup presentasi saya. Inilah videonya:

 

 

Advertisements