demo

Sebut namanya dokter Diaz. Dia bercita-cita semua pasien yang berobat padanya gratis. Dia tak ingin mengandalkan penghasilannya dengan menarik bayaran dari orang sakit. Dia tidak ingin menetapkan tarif. Kalaupun dia menerima upah, itu hanya ucap terimakasih dari pasiennya. Sekali lagi, dokter Diaz menerima upah atas jasanya bukan karena tarif.

Tentu, cita-cita ini butuh dana. Tidak mungkin dia hidup dengan mengandalkan penghasilan seadanya. Dia perlu mencari sumber pendapatan lain. Dia tak ingin profesinya sebagai seorang dokter terganggu dengan keinginan mendapat gaji lebih. Maka, dokter Diaz harus mencari sumber penghasilan lain yang nilainya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan penghasilannya sebagai seorang dokter. Konsekuensinya, dia harus bekerja dua kali lebih banyak daripada saya.

Sejatinya, dia butuh dana untuk mewujudkan impiannya. Demikian pula saya dan Anda. Kita boleh bercita-cita, namun take action jangan ketinggalan. Dan take action itu, selain membutuhkan perencanaan dan evaluasi, juga butuh dana.

Saya masih ingat pernah berdiri di balik pagar Grahadi. Meneriakkan protes apa saja yang saya tak suka tentang negeri ini. Suatu pagi ketika saya bersiap aksi sore harinya teman saya berkata, “Demonstrasi adalah suatu pekerjaan yang tidak penting, yang membuang waktu, yang seandainya kamu memakai hukum konversi, Fid, maka sekumpulan demonstran di Surabaya yang sedang berdemonstrasi 6 jam itu saja bisa menghasilkan sekian juta dolar.”

Oii, benarkah?

Pernyataan dia bisa salah bisa benar. Bagaimana jika justru ia yang berada pada kondisi keluarga yang tak berkecukupan seperti penjaja makanan yang biasa saya temui? Pasti teman saya itu berkata lain. Namun kalimat berikutnya membuat saya lebih terkejut lagi, “Orang Indonesia tu kurang kreatif, kalopun kreatif, maunya sendiri-sendiri, ngga bisa ngegrup. Ini inti permasalahannya, Bro.”

Kemudian di sinilah saya menemukan jawaban untuknya. 

Saya terinspirasi oleh seorang kawan yang pernah ngetwit tentang nasib petani di bumi pertiwi. Dia geram. Marah. Idealismenya tentang pemerataan kesejahteraan sosial terusik. Dia putuskan untuk salurkan amarahnya itu dengan mengembangkan sektor pertanian dalam menunjang ekonomi. Dimulai dari Nganjuk dan Jombang, kemudian saya tawarkan untuk menggarap sawah mbah kakung saya di Mojokerto akhit tahun ini.

image Sebenarnya motif awal saya cuma satu. Supaya sawah itu berdaya guna, hasil bumi dan berkahnya mengalir terus dalam keluarga kami. Jadi tak perlu ada lagi diskusi-setengah-debat yang panjang lebar untuk menjual sawah sehektar itu lalu dibagi-bagi ke anak-anaknya mbah. Akhirnya saya termakan juga oleh amarahnya untuk mengembangkan sawah. Lagipula, dengan memperbaiki ekonomi masyarakat desa, saya sebagai dokter pun ikut diuntungkan. Bagaimana tidak, karena para masyarakat desa pun akhirnya memiliki daya beli terhadap layanan kesehatan.

Menariknya lagi, kami punya ide untuk membuat Supermarket Desa. Kami potong jalur tengkulak dan membeli hasil sawah penduduk dengan harga pasar yang bagus sesuai end user price. Laba yang cukup besar nantinya diconvert menjadi dua hal: tunjangan pendidikan dan tunjangan kesehatan. Dari sinipun kawan saya ini menyediakan solusi, masyarakat desa tak perlu bingung menembus birokrasi ASKES/JPS atau cari utangan sana-sini untuk berobat.

Sip! Akhirnya ditemukanlah formula itu. Dan formula ini cukup menjawab hampir berbagai persoalan di bumi pertiwi, yang menurut teman saya tadi, bermula dari dua inti pokok karakter manusia kita: kurang kreatif, dan ngga bisa ngegrup.

Kreatif, ngga hanya thinking out of the box, tapi juga berani mengambil tindakan. Berani membidik bidang yang mulai ditinggalkan orang. Mengubahnya menjadi sesuatu yang menarik, yang menghasilkan, dan justru menjadi solusi bagi banyak orang. Bila banyak orang mulai berbondong-bondong ke kota, maka kawan saya ini menciptakan peluang usaha baru di desa, bahkan sektor krusial yang menjadi support untuk sektor yang lain.

Di saat para orang tua tani berpikir agar anaknya lebih baik tidak menjadi petani, maka hari ini petani di Jombang dan Nganjuk mulai optimis menggarap lagi sawah mereka dengan peningkatan hasil sawah mencapai 9 ton per hektar (semula hanya 4-5 ton berat basah untuk satu hektar padi).

Mau ngga mau, ide ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Bermunculanlah kelompok-kelompok tani di bawah bimbingannya untuk membuat sawah lebih menghasilkan. Usaha ini terus terduplikasi melalui berita dari mulut ke mulut. Untuk memudahkan transaksi, kami harus menggaet salah satu bank nasional.

Terjawab sudah dua persoalan inti: menjadi kreatif dan menguatkan team work.

Lalu, apa kaitannya dua hal ini dengan judul? Yah, nyambung ngga nyambung, saya hanya ingin bercerita bahwa sebuah idealisme hendaknya tidak berhenti pada ucapan, seperti yang saya lakukan di depan Grahadi. Namun harus berkembang menjadi sebuah langkah nyata seperti kawan saya ini. Dan yang terpenting, bermanfaat bagi semua orang.

🙂

Advertisements