image

Saya pernah mencintai hujan. Pernah saya utarakan di sini dan di sini. Tapi hari ini tidak lagi.

Tidak ada alasan khusus kenapa saya membencinya sekarang, selain membuat saya kehujanan tiap sore. Dalam seminggu ini, tercatat tujuh kali pula saya kehujanan. Dari yang rintik-rintik sampai gemebyor temeles kebes. Dari sendirian sampai berdua dengan dia.

Kalau dulu saya mencintainya karena hujan selalu bisa mengingatkan akan kegembiraan masa lalu, sekarang tidak. Keberadaan hujan malah membuat rencana saya berantakan dan tertunda. Kalaupun saya melaksanakan rencana itu, tetep aja ngga maksimal akhirnya bete.

Kesimpulan saya cuma satu.

Saya terlalu mencintai hujan. Hingga saya mengandalkan dia untuk membooster mood saya. Suatu ketika dia membuat kecewa, maka betenya minta ampun. Maka saya putuskan, saya tidak boleh mencintai dia sepenuh hati. Hanya sebagian hati saja cukup. Lalu saya beri hati saya untuk lainnya. Sehingga saya punya banyak hal untuk saya cintai.

Seperti halnya saya menabung duit tidak bisa pada satu bank. Jika suatu saat bank saya bermasalah, maka saya masih punya bank yang lain. Demikian pula jika saya punya harta. Maka harus saya persiapkan banyak hal sebagai keranjang aset saya.

Sehingga saya tak perlu membenci sesuatu jika dia bermasalah. Dan tak perlu terlampau bete jika dia tak seperti yang saya harapkan. Sekarang saya hanya perlu menggantungkan kegembiraan saya pada Yang Lebih Tinggi daripada hujan. Tentunya Yang Maha Mencintai. Karena saya tahu, di balik berantakannya planning saya, ada planning yang lebih indah darinya untuk saya nikmati. Tinggal tunggu waktu!

Pertanyaannya sekarang,
supaya tak terlampau kecewa, perlukah saya membagi hati terhadap seseorang yang saya cintai?
Tidak perlu, dong. Bisa-bisa saya dibunuh banyak orang. Hoho..

Tidak bisa disamakan “mencintai seseorang” dengan “mencintai sesuatu”.
Lalu apa perbedaannya? U tell me, guys. 😉

source gambar: mbah google

Advertisements