image Saya pernah tersinggung oleh ucapan seorang teman.

Lama tak bertemu, kami mengobrol tentang bagaimana kondisi sekarang dan seputar kesibukan masing-masing. Hingga suatu ketika saya bertanya, “Berapa gaji kau kerja di sana?,” tanyaku. “Kau mau dihargai hanya dengan gaji?,” jawabnya. Sejak saat itu, bila suatu saat kami bertemu lagi sedang dia kesusahan soal gaji, saya bersumpah menertawainya. *tssaah.. ‘bersumpah’.. lebaaayy..*

Bukan bermaksud apa, tapi kita bicara realita. Hampir sebagian besar dari yang saya lihat, kearmonisan rumah tangga tergantung dengan gaji. Setiap orang berusaha mencari kecukupan pangan. Buat apa ada pengamen. Buat apa ada pengemis. Buat apa ada orang banting tulang kerja siang-malam demi keluarganya.

Bahkan, demi pangan dan papan, mereka melupakan sandang. Bekerja dengan mengumbar aurat. Hei, mereka tidak pernah meminta nasib seperti itu. Mereka tidak pernah sengaja mengemis atau ngabisin waktu dan tenaga buat kerja. Itu semua demi dapur yang tetap mengepul.

Saya lalu bertanya padanya, “Apa dengan kamu dihargai di sana, serta merta gajimu akan naik?”

Belum tentu, Kawan. Sampai saya menulis ini, saya belum bisa merumuskan apa hubungan gaji dan pujian. Apakah mereka berbanding lurus, atau justru berbanding terbalik. Hampir pasti, terdapat hubungan erat antara gaji dan jabatan, dan hubungan tak langsung gaji dan pujian. Makin naik jabatanmu, makin naik gajimu. Untuk menaikkan jabatanmu dengan mudah, kau perlu memperbanyak pujian yang datang padamu. Bagaimana caranya? Gampang saja. Bagi sebagian orang: sikut kanan, sikut kiri, injak bawahan, jilat atasan.

Pheww..
Biarkan saya tarik napas dulu..
Meski jadinya sepersekian detik, menulis dengan emosi yang terlampau itu capek juga, ya.

Seberapa besar kemanfaatan dirimu, juga dihitung dari besarnya gaji, lho. Oiya? Ya, semakin besar gaji, semakin besar sumbangan/infaq seseorang. Untuk pembangunan masjid, seberapa manfaat infaq Rp. 1000 dengan Rp. 100.000 ? Keduanya bermanfaat, dong. Jikalau kita bicara seberapa besar pengaruh yang dibawanya, tentu kau setuju 100.000 lebih membawa pengaruh terhadap pembangunan masjid.

Hell no, kata sebagian teman, kemanfaatan infaq itu tergantung dari keikhlasan seseorang. Saya balik tanya, “Kamu lebih ikhlas mana, mengeluarkan seribu rupiah atau seratus ribu rupiah?” Kalau kau memilih seribu rupiah, keikhlasanmu masih kerdil, Kawan. Soal keikhlasan, saya bahas lain waktu aja, ya. (Sudah saya siapkan, kok. Tunggu gilirannya muncul aja.)

Katakanlah, kita semua punya kadar keikhlasan yang sama. Karena jujur, sampai sekarang pun saya tidak bisa dan tidak berhak menilai ikhlas tidaknya kau berinfaq. Namun sekali lagi, kalau kita bicara soal seberapa besar pengaruhnya, tentu berinfaq seribu dan seratus ribu sangat besar perbedaannya.

Jadi, ngga masalah kita kejar gaji tinggi, asal itu memang diarahkan untuk tujuan yang lebih besar. Tidak untuk diri sendiri, tidak serta merta untuk kepuasan pribadi. Kalau kau merasa sakit hati dengan gajimu yang kecil, sakit hatilah karena kau tak bisa berinfaq lebih besar dari biasanya.

Manusia yang paling beruntung adalah dia yang esok harinya lebih baik dari hari ini, kan? Nah, kejar lah gaji tinggi, supaya bisa berinfaq lebih hebat di kemudian hari. Masjid dan semua lembaga sosial kita membutuhkan donatur hebat sepertimu, Kawan.

source gambar: di sini.

Advertisements