Yak.. Berikut adalah komen beberapa teman terhadap status fesbuk saya.. Cekidot, gan! Hehehe..

image

Spontan saya langsung nge-like semua komen di sana. Semuanya bener. Ngga ada yang salah. Keikhlasan tidak ditentukan dengan nominal infaq yang kau keluarkan. Keikhlasan adalah sebuah rahasia antara hamba dengan Sang Pemilik Hati. Maka bukan kewenangan saya untuk menilai keikhlasan seseorang, apalagi dari infaq dan gaji. Hoho..

Namun, jika kita bisa berinfaq dengan nominal lebih besar, kenapa tidak?

Kita udah jauh tertinggal dengan saudara-saudari kita di agama tetangga, lho. Mereka berkomitmen untuk menyumbang minimal sepuluh persen dari gajinya kepada gereja. Demi kemajuan gereja. Demi pelayanan terhadap umatnya. Itu per orang yang uda punya gaji. Dan sepuluh persen itu minimal.

Kita? Masih bertahan dengan nominal dua setengah persen. Masih terjebak dengan kata “ikhlas”. Yang penting ikhlas. Yang penting ‘kan niatnya. Meski seribu rupiah ngga apa-apa.

Siapa bilang ngga boleh. Silahkan. Menyumbang berapapun, meski lima ratus rupiah atau recehan ke kota infaq pun ngga masalah. Karena memang hanya Allah yang menilai keikhlasan itu dalam hatimu. Saya tidak punya hak untuk membantah ataupun sok-sokan menilai.

Saya yakin kita semua punya visi untuk memajukan masjid. Menyantuni anak yatim dan miskin. Semua itu perlu dana dari infaqmu. Kalau kau bertahan pada angka “seribu rupiah”, saya yakin kita bisa lebih baik daripada itu. Dari komen di atas, saya setuju: “Infaq seribu rupiah kalau dari satu orang memang ngga akan memajukan masjid, tapi kalau dari 100-1000 orang, infaq itu bisa menjaga sebuah masjid untuk hidup…” Betul, Kawan. Apalagi kalau infaq seratus ribu rupiah dari seratus sampai seribu orang.

Saya harap kita tidak memperdebatkan keikhlasan di sini. Kadar keikhlasan hanya rahasia dia dan Allah.  Tapi kalau kita bisa menyumbang lebih besar dari seribu rupiah, kenapa tidak?

Ikhlas itu soal hati. Sebagaimana sisi emosional lainnya, keikhlasan itu bisa dilatih. Silakan berlatih dengan mulai berinfaq seribu rupiah, dua ribu rupiah, lima ribu rupiah, dan seterusnya hingga seratus ribu rupiah, bahkan lebih!

Allah menyukai ibadah yang sederhana namun lumintu, alias istiqamah. Berinfaq seribu rupiah asal rutin per hari itu bagus. Terlebih lagi, dengan kadar keikhlasan yang sama, kita bisa berinfaq seratus ribu per hari, bahkan lebih!

See? Paham dengan apa yang saya maksud sekarang?
Jangan bertahan pada seribu rupiah. Jangan bertahan pada hari Jumat. Jangan bertahan pada kata “yang penting ikhlas”.

Maksimalkan usahamu dulu untuk berinfaq, lalu rasa ikhlas akan mengikuti dengan sendirinya. Saya tulis sekali lagi, Kawan, keikhlasan itu bisa dilatih. Kerdil sekali bila kita bertahan dengan keikhlasan kita hari ini. Tingkatkan!

Inget kisah para sahabat Rasul saw dulu?
Pada saat akan perang Badar, Rasulullah saw mengumpulkan para sahabatnya lalu menawarkan peluang menafkahkan harta mereka di jalan Allah. Sambil melirik Abu Bakar ash-Shiddiq yang terus menerus menunduk, Umar bin Khattab lalu berdiri, “Saya nafkahkan separuh dari total harta saya ya Rasulullah!,” ucapnya sambil senyum-senyum. Abu Bakar masih menunduk. Senyum Umar makin lebar. Lalu Abu Bakar berdiri dan berujar, “Ya Rasulallah, saya infaqkan semua harta saya di jalan Allah!” Seluruh sahabat heran. “Apa yang tersisa untukmu dan keluargamu?,” tanya Rasul saw. “Cukuplah Allah dan RasulNya sebagai jaminan,” jawab Abu Bakar.

Saya yakin, setiap muslim di dunia ini bisa bersikap seperti Abu Bakar dan Umar, fastabihul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ayo, bangsa ini harus maju, Kawan.
Sebagai referensi, silakan cek di sini. (agak OOT, tapi disambung-sambungin aja).

source gambar: di akun fb saya ini..

Advertisements