image

“Bahwa apa yang kau alami hari ini, yang kau dapatkan sekarang, adalah akumulasi amal-amal dan doa-doamu di masa lalu.”

_____
Quote by: Hafid Algristian, dr.
Trainer SMILE Leadership Centre

… .

Pop up! Quote ini muncul justru setelah saya nonton Timnas kita kalah 3-0 di leg pertama. Nelangsa, kecewa, marah, campur aduk jadi satu. Mengapa lini belakang mudah dikecoh hanya oleh dua orang penyerang lawan.

Sungguh, pertandingan final AFF 2010 ini seharusnya menjadi kado terbaik bagi bangsa dan seluruh masyarakat untuk memulai semangat baru di tahun 2011. Setidaknya, kita bisa punya sedikit rasa optimis melangkah setelah rangkaian musibah menghajar bangsa kita di tahun ini.

Sebagian komentar di twitterland mengeluhkan adanya gangguan laser dari supporter lawan. Sebagian juga mengatakan, ini adalah akibat over exposed pemberitaan media elektronik sebelum Timnas bertanding. Saya setuju dengan yang kedua.

Over exposed? Ya, bisa jadi.

Selebrasi media massa yang mengunggulkan timnas menjadi perayaan yang terlalu cepat diadakan. Akhirnya, mental juaranya tak terbangun. Semenjak protes adanya gangguan laser, squad Timnas seperti kehilangan konsentrasinya.

Tidak, tidak. Konsentrasi itu sudah hilang di awal. Bukan hanya Timnas, tapi kita semua. Sangat berbeda dengan tim lawan yang mungkin bermain lebih loss. Bisa jadi mereka merasa lebih under-dog daripada kita. Akibatnya, mereka lebih nothing to lose dalam bermain.

Kita? Kita sudah merasa menang sebelum bertanding. Dimana pemberitaan itu over exposed. Dimana banyak ricuh akibat sistem pembelian tiket yang amburadul. Dimana sebelum bertanding kita sudah berniat ganyang tim lawan-ganyang juga negaranya sebagai pelajaran atas sikap terhadap produk budaya kita.

Seperti semudah membalik telapak tangan, takdir Allah berkata lain. Seperti sebuah tamparan keras, kita diingatkan bahwa ada yang lebih berkuasa di semesta ini yang semestinya tidak kita lupakan dalam hingar bingar final kemarin. Seperti semua niat ganyang-mengganyang dan kericuhan sehari sebelumnya berimbas pada hasil pertandingan leg pertama ini.

Kita terkoneksi jadi satu. Ibarat ada tali yang mengikat masyarakat Indonesia dengan perjuangan Timnas hari kemarin. Dan sehari sebelumnya, kita seperti lupa berdoa dan berserah diri.

Saya belum pernah melihat aura pertandingan yang sedemikian hebatnya seperti kemarin. Kita seperti berhenti satu hari. Saya amati, ada dua-tiga acara yang ratingnya turun, kalah oleh final AFF. Yakni, Opera van Java, adzan Magrib, dan adzan Isya. Baiklah, ini jadi instrospeksi.

Pertandingan final ini mempersatukan kita, Kawan. Di bangsa yang masih berkembang seperti ini, kita mengandalkan sepak bola untuk bersatu. Sudah cukup dengan bencana. Lebih baik unggulkan sepak bola. Hanya saja kita perlu berbenah di sana-sini untuk masa depan yang lebih baik.

Jika siang hari kemarin di TVOne ada ustad Tifatul Sembiring mengisi istighosah untuk memperingati enam tahun tsunami di Aceh. Maka malam harinya kita menelan pil pahit di akhir pertandingan.

Kita harus berbenah. Luruskan niat dulu. Semua orang, bukan hanya Timnas. Kalau perlu, sebut Timnas dalam sujudmu. Karena sekali lagi, dibalik semua musibah dan intrik politik negeri ini, kita lebih bisa berharap pada sepak bola untuk bersatu.

Bangkit Timnas ku! Harapan itu masih ada! Hajar leg kedua!

image 

Source gambar search di mbah google.

Advertisements