menggenggam matahari

“Jikalau Berpikir Besar dan Berpikir Kerdil ongkosnya sama, yakni sama-sama capek, sama-sama buang waktu, kenapa ngga Berpikir yang Besar aja skalian?”

_____
Quote by: Bpk. Teguh
Platinum Associate PT TVI Express Indonesia
Peraih 1,2 M dalam 8 bulan

… .

Baik. Kali ini saya tidak ingin promosi soal perusahaan yang digeluti Pak Teguh, yang kebetulan sama dengan saya. Saya hanya ingin berbagi, bagaimana kita seharusnya bersikap untuk bangsa ini.

Jikalau sebelumnya saya menulis tentang kebangkitan Timnas di leg kedua Piala AFF, kali ini saya menulis tentang kaki. Lho, kok kaki?

Ya, kaki. Ide tulisan ini sepenuhnya diakibatkan karena kaki kiri saya yang bengkak kemarin sore. Bengkak karena saya jalan tergesa-gesa. Padahal jarak yang saya tempuh adalah yang saya lewati sehari-hari menuju kampus.

Nyeri yang awal saya lupakan, berakibat bengkak seperti ini. Bengkak di sekitar mata kaki. Nyeri terakumulasi. Namun terbayar dengan pencapaian hari ini, rasanya impas. Nyeri dan bengkak hanya angin lalu.

Saya jadi membayangkan, apa yang dipikirkan oleh seorang renta yang menjaja pisang pekan kemarin, ya? Tidak adakah cucu atau sanak keluarga lain yang menggantikan tugasnya berjualan keliling seperti itu? Tidak tega, bunda saya memborong semua pisangnya.

Kata bapak tua tadi, “Sudah kepepet, Nak. Saya mau makan apa? Masa’ hari ini saya mau makan pisang saya sendiri. Trus besok sarapan pisang, siangnya makan pisang lagi. Lak bosen se, Nak.” Dia terkekeh.

Kepepet. Itu alasannya.

Bagaimana dengan kita? Tidak cukupkah kondisi kepepet yang Allah ciptakan untuk bangsa ini supaya kita mau bekerja lebih keras dan lebih cerdas? Bencana, ricuh, Timnas kalah 3-0, isu simpang siur terhadap saudara sesama muslim, pemimpin bangsa yang tak lagi jadi teladan, dan segala macam dugaan korupsi yang melanda negeri? Tak cukupkah?

Ada sebuah cerita sederhana tentang kepepet.

Seorang anak laki-laki yang beranjak remaja, bertanya pada ayahnya. “Ayah, apakah cita-cita itu?” “Nak, ayah tidak bisa menjawabnya sekarang, namun ayah janji, besok pagi-pagi akan ayah tunjukkan kepadamu.”

Keesokan harinya mereka pergi ke pantai. “Apa yang kau lihat, Nak?”
”Ombak, yah. Bergulung-gulung menyapu Pantai. Biru Langit dan Laut bersatu di Cakrawala. Mentari pagi lembut mesra, Angin meliuk sehalus sutra. Indah, Yah.”

Tanpa sadar mereka semakin ke tengah laut. Saat air mencapai pinggang, sang ayah meraih tengkuk si anak, dan menenggelamkan kepalanya!

Tak peduli sekuat apapun si anak berusaha melawan, sang ayah tak akan melepaskannya! Si anak kehabisan napas! Nyawanya di ujung tanduk! Dia sebentar lagi mati!

Tiba-tiba sang ayah menariknya ke tepian, dan memeluk anaknya. “Apa yang kau rasa saat tenggelam tadi, Nak?” “Seperti mau mati, Yah! Apa yang Ayah lakukan?!” “Seperti itulah rasanya mengejar mimpi dan cita-cita, Nak. Kau sudah mengerti sekarang?”

“Tak peduli bagaimana caranya, tak peduli orang ngomong apa, sebesar apapun hambatannya, seterjal apapun perjalananmu, kau tetap bertahan untuk mencapai cita-citamu. Seperti itulah rasanya mengejar mimpi dan cita-cita.”

Sekarang, cita-cita lah yang membuat kita kepepet.

Sayangnya, kebanyakan kita tak mau keluar dari zona nyaman. Prinsip tabur-tuai tak banyak berlaku dalam sendi kehidupan kita. Bahwa apa yang kita tabur, kita tuai kemudian. Kita inginnya instan, kerja minimal, hasil maksimal.

Kata Bob Sadino tidak begitu. Hasil kerja pasti sebanding dengan resikonya. Kalau mau hasil besar, ya resikonya pasti besar. Tentu saja, ketika membayangkan proses kerjanya, kebanyakan kita sudah jiper duluan. Muntaber, mundur tanpe berita.

Akhirnya, idiom cita-cita setinggi langit tak berlaku lagi. Adanya cita-cita setinggi pohon semangka. Buahnya besar, tapi pohonnya pendek menjalar. Besar di mulut, pendek di action.

Kalau mau memperkecil resiko dengan tetap mempertahankan hasil yang besar, ya gunakan leverage, atau pendongkrak. Bangun sistem, tambal-sulam cara kerja yang ditempuh agar lebih efektif sambil meminimalisir resiko untuk mencapai hasil.

Ngga usah dipikir gimana caranya, yang penting lakukan. Learning by doing. Dievaluasi dan dihitung sambil jalan. Ngga usah dihitung-hitung dulu, malah ngga jalan-jalan, jadinya. Toh, makin kepepet, kita jadi makin kreatif.

Namun semua itu percuma kalau tidak didahului dengan menetapkan goal. Yap, goal setting. Apa yang kau inginkan untuk bangsa ini?

Oh iya, saya ingin jadi orang kaya, supaya bisa memprivatisasi persepakbolaan Indonesia sehingga bebas dari budaya korupnya PSSI. Atau, oh, saya ingin jadi insinyur, supaya bisa mendesain ulang rumput-rumput stadion di pelosok negeri, biar meningkatkan rating Visit Indonesia 2011 dari turnamen sepak bola.

Boleh bermimpi apaaa aja. Toh, Anda yang bermimpi. Asal harus ada take action nya. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu,” kata Arai dalam Sang Pemimpi.

Mari kita bermimpi. Mari kita berpikir besar sekarang. Demi Indonesia. Demi bangsa. Karena bekerja untuk Indonesia adalah ibadah. Sudah saatnya kita merasa kepepet!

Wallahu alam bishawab.

menelan matahari

… .

source gambar yang super duper kreatif ini ada di sini..

Advertisements