Anda pernah mengikuti wawancara kerja? Kalau sudah pernah, alhamdulillah. Setidaknya, Anda beruntung karena punya pengalaman sebelumnya. Kalau saya, belum pernah. Sama sekali belum pernah. Dan di wawancara perdana saya ini, berulang kali lidah saya keseleo. Slip tongue. Pengennya sih tampil apa adanya. Tapi blunder!

Berikut saya kutip cuplikannya:

I (interviewer), S (saya).

Suka

I: “Kenapa Anda milih psikiatri?”
S: “Alasan pertama karena saya suka.” ..*hening sejenak*..

I: “Alasan kedua?”
S: “Belum tahu.”
I: “Kok?” *memandang heran*

(Skor 1-0)

Buku

(ibu interviewer yang baik hati ini ngga nyerah menggiring saya untuk menggali motivasi lebih dalam)

I: “Anda pernah menerbitkan buku Asam Urat. Kenapa ingin masuk psikiatri?”
S: “Emm.. Siapa tahu nanti menerbitkan buku tentang psikiatri.” ..*jawaban ngacooo*..

(Skor 2-0)

Kelemahan

I: “Di sini Anda tulis kelemahan diri Anda yakni mudah bosan, sering telat, mudah mengantuk.. Semuanya bikin Anda tidak cocok masuk psikiatri, lho.”
S: “Hehee.. Iya..” ..*ngapain saya iyakan?? pake ketawa malu-malu pulak*..
I: “Lalu?” ..*tetep memandang heran*..
S: “Manusiawi, bu..” *hening* “..Ee, maksud saya, semua itu membantu mengenali diri saya, Bu. Saya jadi tahu apa yang harus saya perbaiki.” *nice answer! hehe..*

(Skor 3-1)

Masuk FK

I: “Dulu masuk FK karena keinginan siapa?”
S: “Bapak, Bu.” ..*hening*.. “Ee, saya akhirnya tertarik sama Ilmu Kedokteran waktu semester dua, Bu, saat pelajaran anatomi tentang otak. Itu yang bikin saya ‘klik’ di kampus ini, Bu.” ..*maksud loe ‘klik’???*..
I: “Trus ceritanya bagaimana bisa tertarik ke psikiatri?”
(lagi-lagi, ibu interviewer yang baik hati ini tidak menyerah membantu saya menggali motivasi lebih dalam.)
S: “Dulu waktu semester akhir S-1, saya tertarik antara psikiatri dan neurologi, Bu. Akhirnya sampai sekarang, lebih cenderung ke psikiatri.” *yess!*

(Skor 4-2)

Setelah Lulus

I: “Masuk FK angkatan 2004, ya. Lulus 2010. Setelah lulus apa yang Anda lakukan?”
S: “Menganggur, Bu.” ..*hening*.. *langsung nyadar*.. “Karena kalau praktek harus ada STR dan SIP, dan itu saya dapat baru tiga bulan setelah pelantikan dokter, jadi saya lebih banyak jadi dokter pengganti di beberapa klinik dan tempat praktik dokter, Bu.” *sipp!*

(Skor 5-3)

Training

I: “Oh begitu. Lalu, banyak bertemu kasus psikiatri, ya?”
S: “Engga juga, Bu.” ..*siiinggg*.. “Saya malah lebih banyak memberikan training untuk mahasiswa. Motivasi, leadership, team work, dan sebagainya.”
I: “Lho, kok ngga nyambung. Apa hubungannya sama psikiatri?” *hwalah!*
S: “Ya karena banyak mengisi training itu tadi, Bu, saya jadi lebih terbiasa mempelajari pola perilaku manusia.”
I: “Oh iya, approaching nya ke orang lain, ya.”
S: “Betul, Bu. Dari situ saya tertarik psikiatri. Tresno jalaran soko kulino.” ..*ngapain saya tambahin pepatah Jawa??*
I: “Hahaha..” ..*si ibu malah ketawa. Alhamdulillah.. hehehe*

(Skor 6-5)

Bayaran

I: “Gosipnya lebih banyak mana bayarannya antara psikiatri sama neuro, nih?”
S: “Hahaha..” ..*ketawa ngakak*.. *ternyata satu ruangan melirik saya*.. *sadar, trus berlagak cool lagi*.. *lupa mau jawab apa*.. *akhirnya: “Ya, rejeki bisa dari mana-mana, Bu.” ..*sambil senyum malu*
I: “Mungkin Anda dengar-dengar gosip, gede yang mana nih bayarannya?” *ibu interviewer ini tidak menyerah!*
S: “Haha.. Kurang tau gosip, Bu..” *berusaha senyum cool, dalam hati: Saya punya bisnis jaringan yang cocok sama ibu, tertarik? Ayo, saya presentasi sekarang, Bu. Saya bawa brosurnya lengkap sama marketing plannya.*

(Skor 7-7)

Yeaayy..!

… .

Yaa.. begitulah cerita interview perdana saya. Masih banyak blunder saya yang lain, dan percaya ngga percaya, malah bikin si ibu tertawa. Alhamdulillah suasana cair, dan saya ngga menyangka di akhir wawancara beliau mengatakan, “Ya sudah, saya doakan diterima. Semoga bisa membawa suasana baru di bidang psikiatri, ya. Sukses untukmu, Dik.”

Alhamdulillaaaaahh.. 🙂

Advertisements