image

“Kami percaya, bahwa cinta hanyalah masalah selera. Dan selera adalah perpaduan antara logika dan rasa.”
____
Ini quote kami. 

*anestesi = bius, orang jawa bilang ‘pati roso’.

Tentu saja yang saya maksud di sini bukan hati yang berupa organ. Melainkan hati, atau qulub, atau meminjam istilah adik-adik kelas saya: perasaan.

Semenjak saya mendeklarasikan diri sebagai calon peserta pendidikan spesialis kedokteran jiwa, order curhat *ceile, order!* terus berdatangan. Puncaknya kemarin, dan baru kali itu saya mendapat order tiga sesi curhat berturut-turut.

Semua inti curhatnya sama, yakni berada di persimpangan antara persahabatan dan cinta.

Mereka harus memilih, sahabat yang sudah lama bersama mereka, atau cinta yang baru saja datang namun mempesona?

Perlu di catat, mereka naksir sama orang yang sama. Perlu dicatat pula, ada tiga adik kelas yang curhat, tiga kasus, tiga sahabat yang berbeda, tiga gebetan yang berbeda, namun satu inti cerita: bahwa mereka tidak mau berdiam diri pada pilihan ini.

Bukan apa-apa, saya hanya ingin mereka segera menyelesaikan apa yang mereka hadapi. Mereka sedang menghadapi UTS sekarang. Dan mayoritas mahasiswi kedokteran, UTS adalah masa sakral mereka untuk membuktikan bakti kepada orang tua bahwa mereka sanggup menjalani cita-cita.

Orang bilang, kadang penyelesaian persoalan yang melibatkan hati ini harus kita serahkan kepada waktu. Biar waktu yang menjawab. Biar waktu yang nantinya jadi jawaban.

Tapi saya tidak. Kami tidak. Mereka tidak. Kami tidak ingin masa muda tergerus oleh waktu karena kita bersikap diam. Mereka ingin bertindak.

Dan saya appreciate banget sama sikap adik-adik saya ini. Mereka ingin bersikap tegas. Mereka ingin lepas. Di saat yang sama, mereka tak ingin kehilangan keduanya: sahabat dan cinta mereka.

Kami gambar sebuah timeline. Saat mereka baru pertama kuliah, saat mereka baru mendeklarasikan bahwa mereka adalah sahabat. Saat mereka siap untuk selalu ada di kala senang dan susah, saat mereka menjadi pelindung dalam badai, saat mereka menjadi pelita ketika gelap.

Semester satu. Berjalan hingga kini. Semester empat. Sudah dua tahun mereka bersahabat. Kemudian ada sesuatu entah seseorang yang masuk dalam perjalanan waktu mereka. Tak sadar mereka berada dalam persimpangan. Mau tak mau mereka harus memilih. Sahabat atau cinta?

Kami percaya bahwa segala sesuatu bisa dibicarakan. Dan itu yang seharusnya kami lakukan kepada sahabat kami. Kenapa? Karena merekalah yang dari awal menemani kami. Merekalah yang dari awal terbukti mampu menjadi pelindung dan pelita kami. Merekalah yang semenjak dulu paling mengerti dengan kondisi kita sebenarnya.

Kami percaya, cinta hanyalah masalah selera. Dan selera adalah perpaduan antara logika dan rasa. Logika mengatakan bahwa dia adalah terbaik, namun jika rasa mengatakan tidak, maka dia bukanlah pilihan terbaik.

Kami juga percaya bahwa dalam kehidupan sebenarnya, persaingan selalu ada. Bahkan kita hidup dalam kompetisi-kompetisi untuk menjadi yang terbaik. Bukan terbaik untukmu. Bukan juga untuk orang lain. Tapi terbaik untuk diri kita sendiri.

Dan pada akhirnya, kami selalu percaya, jika pada akhirnya pilihan telah ditentukan, sahabat kami tetaplah orang yang terbaik. Karena dia selalu mampu menjadi pelindung meski dia sendiri sakit, dan dia selalu berusaha menjadi pelita meski angin berusaha meredupkannya. Sesungguhnya, sahabat kamilah cinta terbaik yang pernah kami miliki.

Sampai kapan pun, kami tak kan terpisah. Dalam badai sekalipun, kami selalu bersama. Kami melindungi satu sama lain. Kami selalu melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk sahabat kami.

Kami bukanlah lilin yang bercahaya namun membakar tubuh sendiri. Tapi kami adalah pelita, yang cahayanya bersumber dari cinta yang abadi. Cinta dari Yang Maha Mencintai.

Kami sadar, hati tak perlu dianestesi. Agar kami bisa merasa, meski itu benci atau cinta, adalah sebuah usaha untuk menjadi terbaik dalam versi kami masing-masing. Inilah proses pendewasaan. Yang nantinya tentu menjadi potongan cerita yang melengkapi hidup kami.

Kami pun sadar, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang mampu meretakkan persahabatan kami.

Yaa muqolibal quluub, tsabit quluubanaa alaa diinika.
(wahai Yang Maha Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hati kami pada agamaMu.)

Advertisements