fight or flight

“Umumnya kita orang dihadapkan pada dua pilihan: hadapi atau hindari. Fight or Flight. Kamu pilih yang mana untuk masalahmu ini?”
____
Quote by: dr. Puji Lestari, M.Kes
Dosen Ilmu Kedokteran Masyarakat-Kedokteran Pencegahan (IKM-KP)
RSU Dr. Soetomo – Fk Unair Surabaya
… .

Saya pernah diberi dua pilihan ini, dan saya pilih diam di tempat. Saya menolak untuk mundur, namun saya enggan untuk maju. Jadinya? Saya stress sendiri. Masalah jadi ngga ada ujungnya. Ngga selesai-selesai.

Waktu itu, saya diberikan pilihan: mau mengulang mata kuliah IKM (Ilmu Kedokteran Masyarakat) yang sedang jeblok, atau pergi ke Jepang? Sama-sama pilihan sekali seumur hidup, lho.

Bagaimana tidak. Nilai IKM saya jeblok ngga karuan. Kalau ngga ngambil semester pendek, saya kehilangan satu-satunya kesempatan memperbaiki nilai di semester empat ini. Dan ini bisa bikin IP saya bukan cuman ndodok, tapi ndelosor.

Tapi, kalau ngga pergi ke Jepang, saya ngga ketemu Doraemon, donk?

 

Hahaha.. Bercanda.

Seorang adik kelas saya yang curhat kapan hari, juga menghadapi pilihan yang sama. Kalau masalahnya tidak dia hadapi, makin berlarut-larut. Kalau dia hadapi, UTS carut-marut.

Akhirnya, dia memberanikan diri untuk mundur sejenak. Tak apalah penyelesaiannya jadi makin lama, namun dia jadi punya waktu untuk dirinya sendiri. Dia memilih flight.

Ibarat tendangan pinalti, perlu mundur sejenak untuk melesakkan bola tepat ke arah gawang. Ngga apa-apa orang lain bilang kita malah mundur, seakan lari dari masalah, tapi sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang lebih besar: hidup kita sendiri.

Hidup kita, tanggung jawab kita. Orang lain ngga bisa ikut campur. Orang mau bilang apa, hidup kita tetap hidup kita. Kita yang menjalani. Kita sendiri yang terima konsekuensinya. Dan kita harus berprestasi di dalamnya.

Itulah yang dipilih oleh adik kelas saya. Dia lebih memilih untuk mempersiapkan diri menghadapi UTS. Ini adalah pilihan yang berat, sama beratnya jika dia memilih menghadapi masalahnya di tengah UTS sedang berlangsung.

Tapi pilihan untuk flight ini lebih mungkin untuk berhasil, karena dia hanya membutuhkan keterlibatan dirinya secara penuh untuk persiapan UTS itu. Akhirnya dia mengesampingkan masalanya dulu, lebih memilih fokus untuk UTS. Bismillah, katanya.

Apa yang dia hadapi bukan tanpa alasan. Dia yakin Allah sedang mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar. Dia yakin ada kejutan yang Allah bikin untuk dia, jadi suatu saat kejutan itu datang, dia sudah lebih siap. Everything happens for a reason. All we need to do is do the best, let God handle the rest.

Gimana menurutmu? Pilih fight or flight? Putuskan case by case, ya. Ngga bisa pukul rata semua dianggap sama. Ada kalanya kita perlu kasih waktu untuk diri kita terbiasa, ada kalanya juga kita perlu maju dan selesaikan masalahnya segera.

Makin sering kita bertemu dengan masalah, makin kita mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, kok. Dan inilah proses yang harus kita siapkan untuk diri kita sendiri.

Jangan takut sama masalah. Orang hidup pasti adaaaa aja masalahnya. Dan ingat, ikan hidup itu selalu berenang melawan arus sungai, memanfaatkannya untuk melaju lebih cepat. Kalau ikan mati? Pasrah-pasrah aja dia. Mau kebentur-bentur batu sungai, ngga kerasa. Akhirnya ngga sadar badannya hancur tidak berbentuk. Tentunya kita semua adalah ikan hidup, bukan?

Dan saat itu saya lebih memilih untuk pergi ke Jepang. Saya siap dengan konsekuensi yang saya terima sepulang dari sana. Kalaupun saya ngga lulus yudisium, yah, bismillah aja deh.

Toh, akhirnya, meski dengan IP yang empot-empotan, saya tetap bisa lulus dokter tepat waktu. Alhamdulillah.. Rejeki Allah ngga kemana, kok. 🙂

Wallahu alam bishawab..

Advertisements