perbaiki hati

“Tidak Ada yang Gratis di Dunia Ini. Jika Suatu Saat Kau Merasa Beruntung, Kau Pasti Harus Membayarnya di Kemudian Hari.”
____
Quote by: Dr. dr. Siti Pariani, M.Kes. PhD.
Dosen Ilmu Kedokteran Masyarakat-Kedokteran Pencegahan (IKM-KP)
RSU Dr. Soetomo – FK Unair Surabaya
… .

Suatu ketika, teman lama saya curhat via BB messenger. “Gimana caranya memaafkan diri sendiri? Gimana caranya memaafkan masa lalu?”

Saya kemudian teringat oleh quote dosen saya di atas. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jika suatu saat kau merasa beruntung, kau pasti harus membayarnya di kemudian hari.

Quote ini juga bisa pula berarti, kita mau enak di depan lalu bayar di belakang, atau mau bayar di depan lalu enak di belakang?

Saya yakin, memaafkan diri sendiri akan kesalahan di masa lalu juga bisa menggunakan cara ini: sistem bayar di depan.

Tebus kesalahanmu di masa lalu dengan berbuat baik di masa sekarang. Perbanyak! Seberapa banyak? Sampai kau merasa pantas untuk memaafkan dirimu sendiri. Bagaimana saya bisa menilai bahwa saya pantas dimaafkan? Adalah ketika sudah tidak ada lagi orang-orang yang tersakiti oleh karenamu.

Bagaimana bisa saya menjadi orang yang sempurna seperti itu? Ini bukan soal sempurna-tak sempurna. Tapi soal usaha. Seberapa ngotot kamu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarmu.

Inilah cara kita untuk memaafkan diri sendiri dan masa lalu. Kamu bayar kesalahan-kesalahanmu di masa lalu dengan kebaikan-kebaikan yang kamu lakukan sekarang. Meski kadang serasa ngga cukup, insya Allah kamu telah menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Pada akhirnya, orang-orang di sekitarmu akan mencintaimu lebih daripada sebelumya, dan merindukanmu lebih dari siapapun.

Itulah buah kebaikan-kebaikan yang kau lakukan.

Saat itulah, kau sudah memaafkan dirimu sendiri beserta masa lalumu, dan bersiap menjalani hari ini, sambil tetap tersenyum menatap masa depan..

Smile

… .

Dalam Islam, dikenal istilah ‘iqob’.

Suatu ketika seorang sahabat terlambat datang salat ashar berjamaah akibat berlama-lama di kerbun kurmanya. Tanpa pikir panjang, dia wakafkan sepertiga kebun kurmanya ke Baitul Maal. Hanya karena terlambat salat ashar berjamaah! Inilah yang disebut ‘iqob’, semirip arti dengan denda. Denda yang lebih bersifat mendidik, bukan sekedar mencederai.

Dari kisah sahabat tadi, iqob ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam prakteknya, iqob boleh disepakati perorangan untuk diri sendiri maupun disepakati dalam kelompok untuk keperluan bersama.

Misalnya seperti ini, “Pokoke siapapun di antara kita dapet nilai D ujian Parasitologi, harus traktir semua temannya!”

Apa bedanya dengan nadzar? Nadzar adalah janji yang kita tunaikan kepada Allah. Hubungan vertikal, manusia dengan Tuhannya. Kalau iqob, hubungan horizontal, sanksi/denda yang kita tunaikan manusia dengan manusia dengan tujuan untuk memperbaiki diri.

Lalu, apa iqobmu untuk masa lalumu? Hehehe..

Entah pengertian saya ini bener apa tidak. Wallahu alam bishawab.

… .

Advertisements