menggenggam-dunia

“Ketika Kau Ingin Menggenggam Dunia, Pastikan Akhirat Berada dalam Hatimu.”
____
Quote by: Hafid Algristian, dr., CH., CHt.
Hypnotherapist. Trainer. Blogger. Writer. Entrepreneur.
… .

Lagi-lagi, tulisan ini terinspirasi oleh seorang teman. Teman yang sama yang curhat tentang memaafkan masa lalu.

Awalnya, kami berdiskusi tentang bisnis. Dia di Tuban, saya di Surabaya. Meskipun ada Blackberry Messenger, seperti mustahil bisnis ini untuk dilakukan. Namun dia berkata, “Untuk sebuah mimpi, apalah artinya jarak?”

Kami tertawa. Pada hampir kami mengakhiri pembicaraan, dia berkata bahwa tidak cukup modal yang dia miliki untuk memulai bisnis bersama saya. Kemudian saya berkata, “Untuk mimpi yang lebih besar, apalah artinya modal dua koma enam juta?”

Kami tertawa kembali. Akhirnya dia memutuskan tidak menjual spare part sepeda gowesnya, namun mencari sumber pemasukan yang lain. Akan dia putar dulu modal seratus delapan puluh ribunya ke hal lain, sebulan-dua bulan mendapat hasil, baru bergabung dengan Tim Surabaya.

Di akhir obrolan kami, dia berkata, “Tolong ingatkan aku bagaimana mengejar dunia namun tak melupakan akhirat. Atau mengingat akhirat namun tetap mampu mengejar dunia. Ee.. ya gitu lah. Hehe..”

Bagaimana caranya?

Saya sendiri ngga tau pasti. Hanya kemudian saya langsung teringat bagaimana Rasul Saw dulu membelanjakan kekayaannya. Mau tau? Lanjut bacanya!

Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya para fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasul saw. “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala dan tingkat-tingkat yang tinggi serta kesenangan yang abadi.”

Rasul saw bertanya, “Mengapa demikian?”

Jawab mereka, “Mereka salat sebagaimana kami, dan puasa sebagaimana kami, dan mereka bersedekah sedang kami tidak dapat memerdekakan budak.”

Hadist ini menunjukkan para sahabat yang tidak kaya sadar bahwa orang kaya yang beramal saleh mempunyai peluang lebih banyak dalam beribadah. Kemuliaan orang kaya yang beramal saleh di masa Rasul Saw telah membuat iri para sahabat yang tidak kaya.

Kawan, Anda pernah dengar kata zuhud? Kata pak Endi J Kurniawan, zuhud adalah meninggalkan dunia by choice, dengan pilihan sendiri. Sedang miskin adalah ditinggalkan dunia.

Sebagai gambaran bagaimana zuhudnya kehidupan Rasul Saw dan para sahabatnya, saya sadurkan dari buku Pak Endi yang berjudul “Think Dinar!” terbitan Asma Nadia Publishing House. Berikut kisahnya.

Muhammad muda telah menjadi pedagang internasional sejak 12 tahun. Beliau ikut pamannya melakukan perjalanan bisnis ke Syam (sekarang Suriah) dan sejak berumur 16 tahun beliau ke Yaman, Suriah, dan beberapa negara teluk sekarang.

Kemampuan bisnisnya membuat Muhammad muda menjadi seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Sebagai gambaran bisa kita lihat mahar (mas kawin) yang diberikan Muhammad muda ketika melamar Khadijah.

Ia menyerahkan 20 ekor unta sebagai mahar. Menurut suatu riwayat, ditambah dengan 12 uqiyah (ons) emas. Suatu jumlah yang sangat besar apabila dikonversi ke mata uang kita sekarang.

Harga unta standar sekarang mencapai 4.000 riyal (untuk unta pilihan tentu saja lebih mahal). Jika 1 riyal sama dengan Rp. 2.500, maka harga satu unta mencapai 10.000.000. Maka mahar unta yang diberikan Muhammad senilai Rp. 200.000.000.

Lalu, bagaimana dengan emasnya?

Satu uqiyah sama dengan 7,4 dinar. Satu dinar setara dengan Rp. 1,5 juta (ketika buku ini ditulis, harga dinar masih segitu. Sekarang sudah 1,8 juta). Artinya mahar emas yang diberikan Muhammad muda senilai dengan 12 uqiyah x 7,4 dinar/uqiyah x 1,5 juta, sama dengan Rp. 133.200.000.

Tidak pernah ada kisah Muhammad muda bangkrut gara-gara lamaran ini. Artinya, ada kemungkinan kekayaan sebenarnya masih lebih besar.

Gimana menurutmu, Kawan? Supaya lebih puas, ada suatu kisah lagi diceritakan. Datang kepada Rasul Saw seseorang yang meminta sesuatu.

Oleh Rasulullah diberikanlah orang itu kambing yang banyak sekali. Begitu banyaknya sampai memenuhi jalan antara dua bukit. Lalu orang itu kembali ke kaumnya dan berkata, “Masuk islamlah kamu sekalian. Sesungguhnya Muhammad bila memberi, dia seperti orang yang tidak takut miskin.”

Jadi Kawan, Anda ingin Miskin Bermartabat atau Kaya Bermanfaat?

Wallahu alam bishawab.

… .

Tidak boleh iri hati kecuali kepada dua macam; seseorang yang diberi oleh Allah Ta’ala harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak (kebenaran), dan seseorang yang diberi oleh Allah Ta’ala ilmu dan ia pergunakan dan diajarkannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

… .

Advertisements