sedekah

Tulisan ini nyambung dengan tulisan saya sebelumnya, yakni Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan”.

Sekali lagi saya tidak ingin meragukan keikhlasan masing-masing orang, karena keikhlasan itu letaknya di hati, yang tahu hanya dirimu dan Tuhanmu. Saya tidak ingin ikut campur. Dan naudzubillah, saya tidak ingin sok tahu.

Saya hanya ingin berbagi di sini tentang apa yang saya rasakan, dan parahnya, saya ingin saya bagikan adalah rasa tertohok saya oleh kata-kata seseorang tentang infaq ini.

 

Anda tahu Ahmad Faiz Zainuddin? Yap, betul. Beliau adalah seorang trainer, tepatnya master trainer untuk SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Dan beliau lah yang menohok saya.

Beliau punya konsep, bahwa untuk menghilangkan kemiskinan di bumi Indonesia, 10% dari 0rang terkaya di Indonesia perlu menyumbangkan 20% saja dari total kekayaan bersihnya.

(Hal ini berdasar penelitian, lho. Anda mau data penelitiannya? Ada kok. Yakni penelitian oleh H.S. Dillon, pernah dimuat di Kompas Selasa, 17 Oktober 2006).

Sebuah cita-cita yang idealis. Saya lalu coba mengkalkulasi, jika saya satu hari punya penghasilan bersih 100.000, maka harus saya infaqkan 20.000. Ah, masih kecil.

Jikalau gaji saya sebulan 1.000.000, maka saya harus infaqkan 200.000. Hm, masih kecil juga. Kalau gaji saya sebulan 10.000.000, harus saya infaqkan 2.000.000. Mulai kerasa besar.

Jikalau suatu ketika saya punya 100juta, maka saya harus infaqkan 20juta. Wow, besar juga.

Hampir sebagian besar peserta training pasang tampang muka heran saat itu. Termasuk saya.

Kemudian Pak Faiz berkata, “Tuhan saja ndak pernah perhitungan kalau mau ngasih ke kita, kenapa kita harus perhitungan kalau mau ngasih ke Tuhan?”

Ada peserta yang nyeletuk, “Trus keluarga saya makan apa, Pak?”

Pak Faiz melotot. Sambil tersenyum, beliau bertanya, “Siapa yang kasih makan Bapak sekeluarga? Pak petani padi? Tukang sayur di pasar? Atau Tuhan?”

Kami tertohok. Dan kami betul-betul tertohok. Sungguh tak pantas kita meragukanNya.

Istiqamah berinfaq dengan jumlah sebesar ini bukan hanya butuh kekayaan harta, Kawan. Namun juga kekayaan hati. Kita punya harta banyak, namun jika kekayaan hati kita lebih sedikit, maka berinfaq model begini ya ngga akan dilakukan. Jangankan dilakukan, kepikir aja engga.

Punya harta yang ngga seberapa, bahkan bisa disebut miskin, namun jika punya kekayaan hati yang luar biasa, berinfaq dengan seluruh hartanya pun ngga ada masalah. Karena dia tahu, dia sedang bertransaksi dengan Tuhan Yang Maha Kaya. Yang ngga kurang kasih sayangNya sama kita.

Orang-orang semacam inilah yang pantas dinaikkan derajatnya di akhirat, dimudahkan melintasi Shirathal Mustaqim, dibebaskan dari api neraka. Lalu dipertemukan dengan RasulNya di surga, bersama orang-orang yang saleh, dan semua orang-orang yang dicintaiNya.

Anda lihat? Kesimpulan ngawur saya adalah: Infaq Anda mencerminkan apakah Anda layak disebut orang kaya atau tidak. Baik kaya harta ataupun kaya hati. Anda pilih mana?

Lalu, apa komentar Kawan-kawan sekalian?

Wallahu alam bishawab.

… .

NB: Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Mari bangkitkan negeri ini dengan kekuatan infaq, Kawan! Coba liat tulisan saya yang lain tentang kekuatan infaq:

NB (lagi): rame di BB messenger, Ketua Umum PB IDI, menyarankan tanggal 20 Mei yang bertepatan dengan Harkitnas ini, menjadi hari bakti dokter. Sejawat diminta untuk menggratiskan biaya layanan, atau bagi yang kerja di RS, silakan berinfaq/sumbangkan jasa medik ke rekening IDI. (Info selengkapnya silakan kontak pengurus IDI di wilayah masing-masing).

BANGKIT INDONESIAKU..!

NB (lagi-lagi): tentang terapi SEFT oleh Pak Ahmad Faiz Zainudin, silakan kunjungi website almumni SEFT di http://terapiseft.com/

Advertisements