image

Saat kita saling mencintai, mungkinkah Tuhan cemburu?

 

Saat kita saling memiliki satu sama lain, mungkinkah Tuhan cemburu?

Sayang, aku yakin, Tuhan punya Cinta yang Sangat Besar. Yang tak mungkin bisa terbalas hanya dengan sekuntum mawar dan sekotak mahar yang kuberikan padamu kemarin sore. Yang tak mungkin terlukis dengan puisiku padamu saat pertama kita bertemu. Namun sungguh, Sayangku, Cinta Tuhan begitu Agung, hingga tak mungkin bisa dinilai dengan dunia seisinya.

Sayangku, aku yakin, CintaNya sungguh tulus tak berpamrih. Hanya saja aku merasa, kita perlu melibatkanNya dalam percintaan kita. Kau tahu alasannya, wahai Sayangku?

Ya, kau benar. Karena sesungguhnya segala cinta kita berasal dariNya. Dialah yang mengajari kita bagaimana mencintai dengan tulus. Dialah yang menunjukkan kepada kita bagaimana bentuk cinta yang murni, yang putih, yang tak bisa dinilai dengan apapun di dunia.

Kita pernah berkata bahwa kita dipertemukan oleh takdir. Disatukan takdir. Dan ditakdirkan bersama. Sayangku, bukankah takdir itu milik Tuhan, dan hanya Tuhan yang tahu rahasianya?

Demikian pula cinta kita. Bukankah Tuhan sendiri yang memutuskan bahwa cinta itu berhak kita miliki? Bukankah Tuhan sendiri yang menghembuskan nafas cinta itu kepada kita?

Sungguh dusta, Sayangku. Apa yang kita lakukan ini sungguh dusta. Nista. Sering kita mencinta, tapi tak pernah merasa Tuhan melihat kita. Kita sering merayu, tapi tak pernah ingat Tuhan mendengar kita. Pantaskah Tuhan cemburu?

Janganlah pernah terlampau mencintaiku, Sayangku. Tuhan bisa saja berkata, “Mengapa kau lebih mencintai lukisanKu daripada aku—sebagai Pelukisnya sendiri?”

Katakanlah kepada anak-anak kita nanti, bahwa Cinta terbaik adalah yang Tuhan berikan kepada mahlukNya. Cinta yang sejati adalah yang disandarkan pada Cinta kepadaNya. Tentu saja, Cinta yang suci adalah yang mengikuti sunnah dan tuntunan dari Yang Maha Mencintai.

Tuhan telah menurunkan anugerahNya yang demikian besar untuk kita, yaitu Cinta. Lalu, pantaskah Tuhan kita libatkan dalam percintaan kita? Pantas, tentu saja pantas, Sayangku.

Karena inilah sesungguhnya nikmat dari cintaNya. Karena sesungguhnyalah dengan bersikap setia untukmu, menjaga kehormatanmu, dan melindungi kesucianmu, kita telah melibatkan Tuhan dalam percintaan kita.

Dengan demikian, Tuhan tak akan lagi cemburu kepada kita.

… .

Advertisements