image

Entah saya harus malu atau bangga hari ini. Setelah sekian lama, kami baru sadar bahwa bapak itu punya kelainan pada kakinya.

 

Bapak itu sering ambil shaf terdepan dan terpojok. Saya baru ngeh kalau beliau perlu menyandarkan badannya pada tembok untuk membantunya berdiri. Dan hari ini, kami melihat beliau salat dengan selonjor.

Bubaran berjamaah subuh hari ini, beliau berjalan tertatih-tatih. Seperti biasanya. Setiap orang yang baru pertama kali salat di surau kami, pasti spontan menawarkan bantuan padanya. Namun seringkali beliau hanya tersenyum, dan segera berjabat tangan untuk menolak uluran tangan mereka.

Kali ini pun demikian. Tidak ada yang menawarinya bantuan untuk berjalan. Karena jawaban beliau selalu sama: tersenyum lalu mengajak berjabat tangan balik.

Anda tahu tempat jemuran handuk yang berkaki? Itulah yang beliau bawa hari ini. Bukan kruk, tapi alat penyangga yang biasa dipakai oleh mereka yang mengalami cedera sekitar tulang panggul.

Bisa membayangkan? Bentuknya mirip kaki jemuran handuk yang bisa diangkat dan dipindah-pindah. Itulah yang beliau bawa untuk membantunya berjalan.

Kali ini saya mendekati beliau, dan apa yang saya dapatkan bisa saya tebak: sebuah senyuman halus dan jabat tangan untuk menolak bantuan yang saya tawarkan. Sambil tertatih beliau memakai sandalnya, lalu tersenyum dan mengucap salam kepada kami semua.

Dua hari ini saya mengeluh kepada Allah, berusaha mengetuk pintuNya, dan secepat ini Allah menunjukkan bahwa saya tak pantas mengeluh. Entah saya harus malu atau bangga.

Si bapak itu pulang. Dia nyaris lumpuh, namun tidak pada imannya.

… .

Advertisements