Dia pernah. Tadi sore. Jenazah neneknya. Sesore kemarin berpelukan dalam hangat, sekarang sudah dingin. Badan terbujur kaku. Tak bergerak.

 

Pernah ditinggalkan seseorang yang kau cintai? Ditinggal pacar biasa. Ditinggal pacar meninggal pun—naudzubillah—masih biasa. Ditinggal anggota keluarga meninggal? Perasaan sedihnya tak terkira.

Menurut tradisi keluarga, kata Pak Modin, dia sebagai cucu harus mencium mayat neneknya. Lalu selama tujuh hari harus memakai bedak neneknya supaya tidak dikunjungi oleh arwahnya di hari ketujuh.

Mencium nenek sih oke, tapi pakai bedak? Iih, sebagai lelaki tulen dia harus menolak. Apa kata dunia?

Dan sensasi mencium jenazah pun dia rasakan sore tadi. Seakan rasa dingin dari tubuh almarhumah mengunci rahang bawahnya. Tak mampu bergerak. Tak mampu berkata-kata. Sampai akhirnya dia antarkan sang almarhumah ke peristirahatan terakhir, sejarak dua meter jauhnya di dalam tanah.

Sejak saat itu dia bisa berkata-kata lagi. Dan sekali lagi dia menolak anjuran Pak Modin untuk pakai bedak almarhumah.

Apa hasilnya? Tak lama, dia dikunjungi arwah si nenek. Sampai di Surabaya, dia ingin tidur bentar untuk meluruskan punggung. Namun sebelum sepenuhnya tidur, badannya terkunci. Seluruh sendinya kaku. Dada dan perutnya sesak. Suaranya tercekat. Lhoalah, ini tindihan, pikirnya.

Dan dia melihat sesosok bayangan masuk dari pintu kamarnya, menuju tempat tidurnya.

Dia melihat nenek. Nenek tersenyum padanya. Nenek memegang pergelangan kakinya. Memijit kakinya seperti sewaktu kecil dulu, saat nenek sedang memanjakannya.

Di tengah kangen dan ngeri, nafasnya semakin sesak. Dia baca ayat kursi. Aduh, ngga hafal. Dia baca Alfatihah. Aduh, kok belibet bacanya. Dia baca subhanallah, dan alhamdulillah. Ealah, lagi ketakutan kok alhamdulillah. Akhirnya dia baca bismillah. Emangnya mau makan? Jadinya dia ngga baca apa-apa. Cuma manggil neneknya. “Yangti..”

Neneknya tersenyum. Semanis-manisnya senyum nenek di ingatannya, dia ngga bisa balas senyumnya. “Lhoalah Yangti, aku kewedhen iki. Kewedhen mergane Yangti. Mangkane gak iso mesem.” (Lhoalah, Nek, saya ketakutan ini. Ketakutan gara-gara Nenek. Makanya ngga bisa senyum).

“Yo wis yo, Le. Digawe pupure. Assalamualaikuum..” (Ya sudah ya, Nak. Dipakai bedaknya.)

Akhirnya, saat cangkruk di Coffe Corner tadi, dia pakai bedak itu. “Lhoalah, Boy, ojo ngguyu, Boy. Iki timbangane aku disambangi yangti maneh..” (Lhoalah, Boy—panggilan akrab ke kita-kita, jangan ketawa, Boy. Ini daripada saya dikunjungi nenek lagi.)

“Yo, karepe kene priatin, Boy. Tapi dasar raimu lucu. Yo wes pitung dino mengarep koen sing sabar, Boy. Beno awak dhewe ngguyu, yo. Sing ikhlas, yo.” (Ya,  pengennya kita prihatin, Boy. Tapi dasar mukamu lucu. Ya sudah, tujuh hari ke depan kamu yang sabar, Boy. Biarin kita-kita ketawa, ya. Yang ikhlas, ya.)

“Lhoalah.. Gundulmu mblethak, Boy..” (Lhoalah.. Kepalamu &$#$$&%$!, Boy.. –guyonan sarkas khas suroboyoan.)

… .

–ini adalah konversasi aseli suroboyoan yang pengen saya dokumentasikan. sempat mengobati rindu saya akan keaslian bahasa setempat, setelah terlalu lama berkutat di dunia akademis. yah, semoga Anda para pembaca ngga risih, dan tetap bisa mengambil hikmah di balik kisahnya. thanks! 😉 —

–actually, saya ndak tau mau nulis apa. jadinya kok begini. ya sudahlah. awalnya pengen serius, penuh dengan makna dan nilai-nilai spiritualitas. *halah* tapi kalau membayangkan kembali kejadiannya, ya ngga bisa serius. lha wong dia sendiri menceritakan ceritanya dengan guyonan, kok. anyway, thanks for reading. 😉 —

Advertisements