image

Selisih tiga detik, saya bisa ditabrak dari samping oleh sedan starlet itu.

Ceritanya, saya mengendarai motor teman yang lagi kehabisan bensin. Kami bertukar motor, dan dia pakai motor saya untuk dorong motornya dari belakang.

Ini dini hari, gitu lho. Pukul setengah satu pagi. Perempatan sepi, cuma ada satu-dua kendaraan. Pas lampu merah, kami putuskan untuk terobos aja.

Mendadak dia berhenti, “Fid awas mobil!,” teriaknya.

 

Saya antara bimbang mau ngegas—ya ngga mungkin toh motor ini mogok karena habis bensin, atau ngerem—wah, bisa-bisa saya berhenti di tengah perempatan dan setor nyawa.

Saya putuskan pasrah sama kecepatan motor mogok ini. Semoga daya dorong teman saya cukup kencang untuk mendahului sedan starlet itu.

Satu.. kalau motor mogok ini gagal, saya langsung lompat ke atas starlet kayak di film-film. Dua.. sekitar enam meter, starlet itu ngga mengurangi kecepatan!

Tiga! Saya lolos!

Saya noleh ke belakang dan teriak, “Ndak sekalian aku dilempar ke truk, Mas Bro??” Teman saya cuma terkekeh.

Bicara soal momen tiga detik, ada suatu fenomena menarik tentang naza’. Kamu tau naza’, Kawan?

Iyap, betul. Naza’ adalah saat seseorang menghadapi malaikat maut face-to-face, saat dia meregang nyawa.

Di tempat belajar selama dokter muda, saya sering melihat pasien-pasien yang sedang menghadapi maut. Entah karena kecelakaan, entah saat dia sedang dirawat karena sakit yang menahun, atau baruuu saja panas tadi sore dan sekarang sudah waktunya dipanggil olehNya.

Momen tiga detik itu selalu tampak jelas.

Adalah saat dia tiba-tiba dalam kondisi baik, denyut jantung kembali pada batas optimal, frekuensi dan amplitudo napas teratur, hanya saja suhu badannya tidak normal.

Inilah tanda-tandanya. Denyut jantung dan napas pasien membaik, coba kau pegang ibu jarinya. Pada pasien akan naza’, rasa dingin di ibu jari itu—dalam tiga detik—naik ke betis. Dan inilah yang seketika menimbulkan reaksi pada monitor EKG*: sinyalnya tidak normal dan mengeluarkan bunyi “bip” yang panjang.

Pada pasien yang—entah—punya kecenderungan baik, biasanya dia tenang, napasnya satu-satu, kelopak mata terkatub dan kadang menangis, bibir komat-kamit naik turun.

Pada pasien yang—juga entah—punya kecenderungan yang tidak baik, biasanya brutal, kejang, seperti saat kamu sedang menyaksikan korban pembunuhan yang dicekik dari belakang: kaki menendang-nendang, napas tercekat di tenggorokan, mata mendelik, lidah terjulur, dan kadang keluar air mata. Itulah air mata kesakitan.

Momen tiga detik. Momen ketika pasien tiba-tiba membaik—bahkan bisa sampai senda gurau dengan keluarganya—dan tiba-tiba pula terkapar tak berdaya di atas tempat tidur. Momen ketika rasa dingin di ibu jari mendadak naik ke betis. Seakan saat itulah malaikat izrail menarik nyawa keluar dari tubuhnya.

“Siapakah engkau sebenarnya?” tanya Nabi Idris a.s.

“Aku Malaikat Izrail,” jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?,” selidik Nabi Idris a.s serius.

“Tidak” Senyum Malaikat Izrail penuh hormat. “Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu,” jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. “Aku punya keinginan kepadamu,” tutur Nabi Idris a.s.

“Apa itu? Katakanlah!,” jawab Malaikat Izrail.

“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepadaNya dan meningkatkan amal ibadahku,” pinta Nabi Idris a.s.

“Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya,” tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah swt memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah swt agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan, Nabi Idris a.s. hidup kembali.

“Bagaimanakah rasa mati itu, Sahabatku?,” tanya Malaikat Izrail.

“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti.” Jawab Nabi Idris a.s.

“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu,” kata Malaikat Izrail.

Ya Allah, ini cara lembutnya malaikat maut, gimana kalo cara kasarnya? Naudzubillahimindzaliiiik…

Wallahu ‘alam. Saya sendiri bingung harus bahagia atau sedih kalau ingat-ingat kejadian dengan starlet tadi. Bahagia karena lolos dari maut, sedih karena ternyata belum yakin amalan saya cukup untuk dibawa menghadapNya.

Bagaimana denganmu, Kawan? Sudah siapkah kau mati?

Berapa banyak amalan yang telah kau siapkan? Dan amalan yang takkan terputus meskipun kita sudah tidak di dunia adalah amal jariyah. Amal ini terus mengalir, tak henti-henti, dan terus menambah tabungan amal kita.

Jika kau mengalami momen tiga detik itu sekarang, apa yang kau lakukan?

… .

sumber artikel dalam quote: di sini.

gambar diunduh: di sini.

*EKG: elektrokardiogram. sebuah alat penangkap aktivitas kelistrikan dari otot jantung. dari alat ini bisa diketahui kondisi jantung sedang baik atau tidak. di sinetron-sinetron, alat ini selalu digambarkan punya monitor yang menampilkan sinyal mendatar dan mengeluarkan bunyi “bip” panjang bila pasiennya meninggal.

Advertisements