rumah impian2

Total tagihan saya mencapai 75 juta rupiah..!

Bukan saya yang berhutang. Melainkan orang lain yang berhutang sama saya. Bagi saya yang baru lulus kuliah lima bulan lalu, dana sejumlah itu cukup besar. *ya iya lah!* Dana yang seharusnya bisa saya pakai buat beli ipad2, yaris sport warna putih, bikin resto.. yah, sekarang cuma bisa gigit jari.

Duit 75 juta itu sudah nyebar kemana-mana. Bilangnya untuk dipinjam, sampai sekarang belum kembali. Ada juga akad untuk modal bisnis, eh, yang pinjem modal malah ngga jalanin bisnisnya. Salah saya sendiri sih, pengembalian modalnya setelah usahanya berhasil. Lha kalo ngga jalan gini, saya mau nagihnya gimana?

 

Wis, macem-macem pokoknya. Yah, alhamdulillah ada beberapa yang dengan itikad baiknya berusaha untuk nyicil mengembalikan. Bukan saya ngga bersyukur, kalau diliat-liat lagi total duit yang nyebar, agak nyesel juga. Ngapain dulu saya pinjem-pinjemkan?

Saya pengennya jadi orang baik. Perhatian sama temen. Suka nolong temen. Eh, jadinya makan ati. Hohoho.. Kalau sudah gini, diri sendiri yang susah.

Saya pernah denger suatu nasehat seorang ayah kepada dua anaknya. “Nak, kalau kamu berniaga, jangan pernah menagih uang yang pernah kau pinjamkan.”

Beberapa waktu kemudian, kedua anak tumbuh dengan kondisi yang sangat berbeda. Yang satu, melaratnya tiada tara. Yang lain, makmurnya tiada tara. Kok bisa?

Selidik punya selidik, anak pertama ternyata suka meminjamkan uangnya tanpa pandang bulu. Anak kedua, tidak akan meminjamkan uangnya jikalau yang dipinjamkan tidak dia percayai. Akhirnya anak pertama terbelit kesulitannya untuk menagih pengembalian modal itu, sementara anak kedua justru mampu menjalin jaringan bisnis yang kuat.

Kondisi anak pertama itulah yang saya hadapi. Awalnya saya hanya berkeyakinan ingin menolong teman yang membutuhkan modal usaha. Eh, nyatanya tak seindah yang dibayangkan.

Seharusnya, kepercayaan untuk meminjamkan uang bukan soal dia teman atau bukan. Justru karena teman sendiri, kita jadi tau seberapa besar kemampuannya untuk mengembalikan modal. Bagaimana track recordnya, peluang usaha yang dia ajukan, sampai kemungkinan dia mangkir atau tidak.

Nah, saya sama sekali tidak membekali ilmu ini sebelumnya. Saya asal pinjamkan ajah, karena saya tau dan saya percaya teman saya bisa mengembalikan. Ternyata belum tentu.

Saya jadi belajar, bahwa untuk semua akad jual-beli, hutang-piutang, harus tercatat. Sekecil apapun itu. Dan adakanlah saksi di antara kamu berdua, dari pihak peminjam dan yang meminjamkan, yang sekaligus bertindak sebagai pencatat. Kenapa? Kok kesannya repot dan kejam gitu, sih. Kan sama temen sendiri, taruh saja kepercayaan di antara kamu berdua, kan beres?

Tidak sesimpel itu. Kalau sudah begini, repot juga, kan? Hutang kecil-kecil yang kalau ditotal mencapai 75 juta rupiah, akhirnya stress sendiri. Jadi sebaiknya, sekecil apapun itu, tetap dicatat. Jangan lupa, siapkan saksi dari kedua belah pihak.

Omong kosong kalau kita cuma ngomong kepercayaan. Kalau sudah begini, kepercayaan itu sendiri yang hancur berkeping-keping, lenyap tak berbekas. Hasilnya, justru persahabatan yang menjadi korban. Sama teman sendiri kayak bukan teman.

Trus, apa yang harus saya lakukan? Kata Ippho ‘Right’ Santosa, tagih 3x lalu ikhlaskan. Whattt???

Ikhlaskan, katamu???

Iya, ikhlaskan.

Trus, mau apa? Nagih? Terus aja tagih. Jadinya cuma kesel ati, akhirnya hubungan sama temen bisa jadi musuh.

Ya sudahlah. Tatap masa depan. Rejeki Allah luas, kok. Doakan aja temen kita makin luas rejekinya, makin lapang urusan-urusannya, hingga pada akhirnya nanti dia lunasi hutang yang dia punya.

Ya, ya. Tatap masa depan. Rejeki Allah sungguh luas. Harusnya, kalau saya yakin, maka saya tidak perlu kuatir akan kehilangan rejeki hanya karena duit saya nyebar kemana-mana. Anggap aja sedekah.

Bukannya seperti kata Yusuf Mansur, kalau ingin bisa beli rumah senilai 100 juta, maka berinfaqlah 10%nya, yakni 10juta. Betul?

Wow! Kalau saya niatkan 75 juta tadi adalah sedekah, maka Allah menggantinya dengan 750 juta, bahkan lebih!

Trus saya pilih mana, berusaha nagih hasilnya kesel ati dan temen jadi musuh, atau diikhlasin, diniatin jadi sedekah, dan Allah menggantinya 10x lipat lebih banyak??? Ya tentu aja pilih diikhlasin aja..!!

Setuju, yaaa..??

… .

NB: alhamdulillah, setelah saya praktekkan, rumah seharga 573 juta berhasil terbeli, dan dalam waktu dekat terbeli satu rumah lagi. wow..!

NB (lagi): saya ngga pengen sombong, ujub, takabur, atau apapun sejenisnya, lho. saya cuma pengen cerita, bahwa janji Allah yang berbunyi, “Aku sesuai persangkaan hambaKu,” adalah benar. Anda mau membuktikan? buktikan aja! 😉

Advertisements