jutek jadi 2

Sebagai awalan, resep ini dibikin untuk Mengubah Bete Jadi Bahagia dalam Semenit dulu. Tulisan berikutnya, barulah dibikin Sedetik. Biar ngga kaget, dan supaya bisa menyesuaikan.

Siaaap??

Oke, lanjuuutt..

Kawan, setuju kah kalau bete itu cuman soal cara pandang? Saya sempat ngga setuju sama kalimat ini, karena yang namanya bete ya bete. Kalau sudah ngga enak perasaannya, ya ngga enak.

Lama-lama saya jadi tambah bete, karena saya ngga bisa ngubah sumber pembuat ke-bete-an saya. Misalnya waktu dulu, saya nungguin mobil yang disewa* ngga kunjung balik, padahal mau saya pakai untuk dateng di suatu acara yang lain.

You can’t change the WIND direction, but you can change your WINGS direction.

Wings di sini artinya sayap, bukan deterjen lho, ya. Hahaha.. Bercanda.

Ya. Bete itu cuman soal cara pandang kita terhadap sesuatu. Hal yang bikin kita bete, belum tentu bikin orang lain bete. Lalu, gimana cara ngubah ke-Bete-an dalam semenit?

Saya kasih contoh kasus dulu.

Bangun tidur, anak bungsu rewel. Dimandiin, eh, kakaknya malah mbangkong. Padahal harus segera berangkat sekolah. Mau minta bantuan suami, suami juga sedang repot nyiapin materi rapat. Si mbok masih di pasar. Sementara, Anda sendiri harus berangkat pagi-pagi. Bete, ya?

Contoh lain lagi. Bangun tidur dapet sms temen. Ngga bisa masuk sekolah karena mendadak mencret. Badannya lemes. Akibatnya, ngga bisa ngerjain finishing tugas kelompok. Terpaksa Anda harus datang ke rumahnya segera, ambil tugas, sementara jalanan macet dan Anda terlambat datang ke sekolah. Disetrap, deh. Ditambah lagi, tugas kelompok yang ngga beres. Lengkap sudah kedongkolan hari ini.

Bete, ya?

Saya sendiri juga sudah pasti dongkol. Bete. Marah. Campur aduk lah.

Coba perhatikan baik-baik. Adakah dari kondisi tersebut yang bisa kita ubah? Bisa aja kita bilang sama temen, “Kamu tu ngga usah mencret po’o. Sumpel aja ama apaaa gitu..” Lalu dia bilang, “Sumpel tanganmu??” Ck ck ck.. Ngga selesai kan, masalahnya? Makin runyam..

Bisa aja kita marah-marah sama anak kita, “Duh, kamu tu jadi anak kok ngrepotin banget, siiih..??” Namanya juga anak-anak. Kalau ngga siap punya anak, ya jangan bikin anak, donk. Lalu anak kita jawab, “Aduuuh, mama ini ngapain sih pake punya anak segala..” Lho?? Jadi geje.

Atau bilang sama suami kita, “Mas, tolonglah urusin anakmu ini. Kan mas juga ikutan bikin..!” Lalu suami kita jawab, “Mama sih, waktu itu mijitin papa, jadinya kan papa pengen @&$&%$*#$!” (Disensor karena khusus acara suami-isteri).

Atau bilang sama si mbok, “Mbok, ngapain sih lama-lama di pasar?? Buruan balik, doonkk..” Lalu si mbok jawab, “Nya, gimana kalo Nyonya aja yang belanja di pasar? Saya di rumah aja mijitin suami Nyonya.” Lhooo.. Sudah, sudah. Makin geje aja.

Lalu, apa yang Anda lakukan pada kondisi seperti itu?

Hal-hal semacam ini bisa diselesaikan dengan dua macam solusi, yakni solusi mental dan solusi teknis. Kita bahas satu-satu, ya.

Karena bete hanyalah soal cara pandang, maka Anda perlu keberanian untuk mengubah cara pandang. Di sinilah solusi mental bekerja.

Seorang teman pernah ngedumel sama saya, “Duh, Fid, dari tadi pagi bangun tidur, sampe sekarang, kok sial terus sih?? Apa gara-gara rambut yang lupa gue kasih conditioner, yaa?? Sore ini malah lengket semua di helm! Komplit sudah penderitaan gue!”

See? Anda bisa menangkap sesuatu yang janggal di sana? Ya, ini adalah sudut pandang dia mengenai rambut. Rambut yang lupa diberi conditioner. Bagi saya, conditioner adalah masalah kecil. Bagi dia, ini adalah masalah besar.

Bisa saja teman saya adalah artis, perlu menghadiri suatu acara dimana dia harus tampil prima. Bagi saya yang seorang cowok, tulen, berwibawa dan apa adanya *cieeh, malah promosi* conditioner bukanlah masalah utama.

Anda perlu sedikit lebih berani untuk mengubah sudut pandang. Saya katakan, sudut pandang adalah sesuatu yang secara tak sadar Anda yakini, dan sesuatu yang tak sadar itu berawal dari pengalaman yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaaan.

Anda berani memunculkan kebiasaan baru? Yakni dengan mengubah pertanyaan untuk diri Anda sendiri. Inilah inti langkah kita untuk Solusi Mental yang bisa kita lakukan. Seperti apa?

Contohnya begini. Pertanyaan awal saya kasih kode PA-1, Pertanyaan akhir saya kasih kode PA-2. Okee??

Lanjuut..

  • PA-1 “Ngga ada yang bisa beliin gue conditioner?”
  • PA-2 “Emangnya mood gue tergantung conditioner, ya?”
  • “Kalo orang lain ngeliat mood gue rusak gara2 conditioner, mereka bakalan maklum apa malah ngetawain, ya?”
  • “Kira2 orang bakal bilang apa, “Ooh, kasian ya, mood rusak gara2 conditioner..”
  • “Enak ngga ya klo gue denger orang ngomong kayak gitu?”
  • “Kalo pun mereka maklum, kira2 popularitas gue sebagai artis bakal turun apa naik, ya?”
  • “Trus, apa bedanya gue sama artis yang sok cari sensasi, yang mintanya dimaklumin terus sama media?”
  • “Apa yang harus gue lakukan biar tetep tampil cakep meski tanpa make up?”

 

  • PA-1 “Sial! Temen saya mencret, tugas kelompok jadinya ngga beres gini! Ngapain sih dia pake mencret segala??”
  • PA-2 “Kalo justru saya yang mencret gimana, ya? Mencret sampe dehidrasi, ngga ada kekuatan buat ngerjain tugas..”

 

  • “Kira-kira respon temen2 saya bakal simpati apa malah mengolok-olok, ya?”
  • “Kalo temen2 saya simpati, bener2 simpati apa cuman kasian sama saya?”
  • “Pantes ngga ya saya dikasihani?”
  • “Lalu apa bedanya sama pengemis yang cuman minta dikasihani?”
  • “Apa yang bisa saya kerjakan supaya tugas kelompok ini segera beres, dan kita semua ngga kena setrap?”
  • “Apa yang bisa saya katakan pada teman saya, supaya kalo ngerjakan tugas dicicil dan ngga mepet2 kayak gini?”
  • “Kira2 saya pake cara marah2 atau gimana ya, supaya dia ngerti dan mau jadi lebih baik?”
  • “Kalo ternyata dia ngga bisa berubah, apa perlu saya bagi tugas penting buat dia, atau dikasi aja yang ringan2 kayak njilid tugas?”

 

  • PA-1 “Duh, punya anak repot banget, sih.. Ngga bisa apa dikiiit aja ngga pake rewel??”
  • PA-2 “Kalo orang tua saya dulu ngeluh dan ngga ngerawat saya, bisa ngga saya jadi sampe kayak gini?”

 

  • “Kalo tiba2 anak gue ilang gimana?”
  • “Kalo gedenya anak saya ngga mau ngerawat saya, gara2 kecilnya saya males repot demi dia, gimana, ya?”
  • “Apa yang harus saya lakukan supaya anak saya segera mandiri, si kakak juga ngerti bahwa dia harus segera berangkat sekolah?”
  • “Kira2, kalau saya marah2, bawa perbaikan yang permanen atau malah ribet besok2nya?”
  • “Trus, cara apa yang bisa saya pakai supaya kerjaan hari ini beres, dan perbaikan itu sifatnya permanen?”

Daaan segala macam variasi pertanyaan yang bisa dikembangkan. Setuju, ya..

Okee. Lanjut solusi kedua. Yakni Solusi Teknis. Jeng jeeeenngg..

Coba liat lagi pertanyaan-pertanyaan (PA-2) yang kita munculkan di atas. Semua diakhiri “Apa yang harus saya lakukan..” Nah, inilah inti dari solusi teknis. Yakni mendekatkan diri pada solusi.

Setelah Anda berani mempraktekkan mengubah sudut pandang, maka pertanyaan-pertanyaan Anda telah berubah dari WHY menjadi WHAT. “Why is it happen..” berganti menjadi “What must I do..”

Dan pada saat inilah Anda sudah punya solusi untuk setiap masalah Anda. Anda sudah berani melangkah, karena Anda sudah merumuskan sendiri pemecahan untuk setiap masalah Anda. Ngga percaya?

Contoh lagi, nih. Anda pulang terlalu larut, pagar kosan sudah terkunci. Daripada ngedumel, (PA-1) “Bapak kos ini kenapa sih mesti lupa kalo saya sudah ijin pulang telat?” mendingan diubah, (PA-2) “Apa yang saya lakukan supaya bisa masuk? Dan besok pagi, apa yang harus saya lakukan supaya bapak kos ingat bahwa saya sering pulang telat?”

Berapa banyak waktu dan berapa besar energi yang terbuang hanya karena kita salah bertanya pada diri sendiri? Daripada habis waktu buat ngedumel, mending lakukan yang bisa dilakukan. Ubah Why menjadi What.
Okee, kaaan??

Coba perhatikan dua kalimat di bawah: (Kondisi ketika kita bete gara-gara teman yang suka menunda ngerjakan tugas kelompok):

PA-1: “Masbro, kira-kira kenapa kamu tuh suka nunda ngerjakan tugas?”
PA-2: “Masbro, apa yang kamu lakukan supaya tugas-tugas ini segera selesai? Dan apa yang bisa aku bantu supaya tugas-tugas ini segera selesai ngga pake ditunda ?”

See? Sesederhana itu, lho.

Saya katakan, tidak perlu Anda memaksakan diri untuk berpikir positif. Tidak perlu Anda mendahulukan ikhlas. Tidak perlu juga Anda memaksakan diri memahami orang lain. Cukup pahami diri Anda sendiri, bahwa menghentikan kebiasaan ngedumel dan negatif thinking adalah baik untuk kesehatan diri Anda. Setuju, ya? Anda tahu hati kecil Anda sendiri mengatakan ‘setuju’.

Mungkin Anda merasa, “Mas Hafid, kan ngga semua orang bisa ngubah pertanyaan jadi seperti di atas?” Saya katakan, “Apa yang bisa Anda lakukan supaya bisa mengubah seperti di atas?”

“Lho, saya kan beda, Mas. Jangan disamakan sama orang lain yang dengan gampangnya ngubah pertanyaan macam itu.” Saya katakan, “Apa yang membuat Anda berbeda sehingga orang lain bisa sedangkan Anda tidak bisa?”

“Ya kan masing-masing punya pengalaman, Mas. Masalahnya juga beda-beda, ngga bisa disamakan. Harus liat case-per-case.” Saya katakan, tidak ada yang berusaha menyamakan masalah. Hanya saja pertanyaan saya:

  • “Jika berkenan, silakan sebutkan case-per-case yang Anda maksudkan. Dan setelah Anda sebutkan satu-satu, maukah Anda menyelesaikannya, satu demi satu?”
  • “Apa yang harus Anda lakukan supaya berani mengubah sudut pandang?”
  • “Apa yang bisa saya bantu agar Anda berani mengubah sudut pandang?”

Saya tidak akan menawarkan cara yang instan. Silakan berlatih dan terus berlatih untuk mengubah bete menjadi bahagia dalam satu menit.

Bahkan untuk sebuah sesi hipnoterapi, manfaat yang ditawarkan hanya bertahan paling lama satu-dua minggu, setelah itu buuum..! Meledak di kemudian hari tanpa Anda sadari.

Maka, setelah menyelesaikan masalah di alam bawah sadar, Anda juga harus segera menyelesaikannya di alam sadar Anda.

Dan sekali lagi, Anda sendiri tahu Anda membutuhkan dua macam solusi ini, yakni Solusi Mental dan Solusi Teknis.

Solusi Mental adalah tahap untuk menyelesaikan dalam alam bawah sadar Anda, sedangkan Solusi Teknis adalah tahap untuk menyelesaikan dalam alam sadar Anda.

And now, there is a joke between two men..

  • Men-1 “Kenapa Tuhan begitu kejam sama saya, yaa..”
  • Men-2 “Lho, kenapa engga? Itu kan terserah Tuhan..”

Sementara segini dulu. Kita sambung di Jumat berikutnya, ya! 😉

Bersambung..! Yeah..!

… .

Note:

* (Oiya, saya ada sewa mobil lho. Dan karena saya masih belum full timer sebagai pengusaha, jadinya mobil yang saya sewakan kadang saya pakai sendiri. Temen-temen Entrepreneur Association menyebut saya “amfibi”. Hehehe..)

… .

Seri “Bete jadi Bahagia dalam Sedetik”:

… .

Advertisements