patung berhala

Saya teringat apa yang dikatakan Eric Fromm, seorang psikoanalisis, bahwa manusia bukanlah makhluk yang telah “selesai” dan dikatakan sempurna. Dalam proses penciptaannya, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki terus menerus untuk mencapai kesempurnaan itu sendiri.

Inilah salah satu yang mendasari bahwa manusia tetap mencari makna dalam hidupnya, mengapa dia hidup, dan apa yang dilakukannya untuk tetap hidup. Dalam teori Pyramid of Human Needs oleh Abraham Maslow, pada tingkat tertingginya, manusia dapat mencapai apa yang disebut dengan aktualisasi diri, dimana manusia merasa perlu untuk berperan aktif dalam masyarakatnya.

Dalam perkembangannya, Pyramid of Human Needs ini dipasang terbalik. Semula yang ada di ujung, dibalik dan ditancapkan ke bawah sebagai pondasi. Inilah yang dilakukan oleh bapak Spiritual Quotient, Danah Zohar. Bahwa pada titik tertingginya, manusia tidak hanya mencapai level aktualisasi diri, melainkan transendensi, yakni ketika dirinya menyadari menjadi bagian dari alam semesta, dan berkepentingan untuk menjaga keseimbangan di dalamnya.

Dari sinilah kata excellence dan morallity diperoleh. Ketika manusia terus menerus mencari penyempurnaan dirinya, ketika manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk menjaga semua yang di dalamnya, dan tak boleh berhenti pada kebutuhan dasarnya sebagai makhluk hidup. Ini adalah keniscayaan bagi makhluk yang ditunjuk sebagai khalifah Tuhan di bumi, yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Sesuai dengan core competence seorang dokter, kita bisa melihat excellence with morallity ini secara menyeluruh. Excellence sangat dekat dengan hard-skill, dan morallity dapat diartikan sebagai soft-skill. Kita bahas satu persatu.

Untuk menjelaskan konsep excellence secara teknis, saya pakai sedikit ulasan Hermawan Kertajaya yang pernah dimuat koran Jawa Pos, entah tertanggal berapa. Di ulasan tersebut, beliau menjelaskan kriteria sumber daya manusia yang excellence dari sudut pandangnya sebagai pebisnis. Berikut adalah kriterianya:

  1. Commitment
  2. Opening your gift
  3. Motivation being the best you can be
  4. Continuous improvement

Empat kriteria ini dibutuhkan untuk mencapai titik excellence. Komitmen bermanfaat bagi bersama, meyakini bahwa setiap manusia memiliki gift atau kemampuan yang Tuhan berikan, memiliki motivasi untuk memberikan yang terbaik, dan terus menerus mengasah diri. Sekali lagi, empat kriteria ini harus ada untuk mencapai titik excellence.

Sumber daya manusia yang excellence dibutuhkan agar bisnisnya maju. Bisnis dikatakan maju bukanlah sekedar profitable growth, dimana sebuah bisnis berkembang karena secara stabil mendapatkan keuntungan dari perputaran asetnya. Melainkan bisnis yang sustainable growth, yakni bisnis yang ‘tidak perlu uang’ untuk bertumbuh.

Untuk menjalankan roda bisnis pada umumnya, seseorang membutuhkan tambahan modal untuk menutup kebutuhan operasional sana sini. Bisnis yang dikatakan telah sustained, tidak membutuhkan kembali modal tambahan untuk menjaganya terus berputar dan menghasilkan profit.

Dari sini bisa dilihat, bahwa excellence memiliki output berupa “growth”, yakni pertumbuhan. Dan bukan sekedar “growth”, melainkan sustainable growth.

Kalau bisnis cuma mengejar profit, suruh saja karyawannya jualan yang banyak. Kalau mengejar pertumbuhan, maka tata nilai menjadi fokus utama. Semakin besar nilai tambah (added value) yang diberikan kepada konsumennya, maka customer satisfaction meningkat. Kepuasan konsumen yang meningkat, meningkat pula loyalitas konsumen (customer loyality). Pada akhirnya, tidak dibutuhkan biaya promosi yang besar untuk mendatangkan pembeli. Margin profit pun stabil. Inilah bisnis yang sutained.

Melihat rangkaian di atas, sustainable growth bersumber dari satu titik, yakni added value atau nilai tambah. Nilai tambah yang dimaksud adalah berupa service atau layanan. Nah, di sinilah kuncinya. Inilah dasar dari morallity.

Biar orang lain mau jual barang yang sama dengan kita, tapi kita punya nilai tambah berupa layanan. Layanan ini dapat berupa kemampuan untuk mengkomunikasikan nilai lebih yang dimiliki produk kita kepada konsumen. Layanan inilah yang nantinya membuat bisnis kita berbeda dan mudah dikenali oleh konsumen.

Jangan salah. Kita sekarang berada pada sebuah bisnis yang besar. Yakni bisnis jasa kesehatan. Dengan ilmu (baca: produk dasar) kita yang makin khusus dan terspesialisasi, mengkomunikasikan added value menjadi lebih mudah. Added value ini salah satunya menempatkan kepentingan konsumen sebagai prioritas. Dalam pekerjaan kita sehari-hari sebagai PPDS, hal ini dicapai dengan mengutamakan kesehatan pasien.

Oleh Hippocrates, added value bagi seorang dokter dirumuskan dalam The Five Stars Doctor, yakni:

  1. The agent of change
  2. Care provider
  3. Decision maker
  4. Communicator
  5. Community leader

Namun yang menjadi pertanyaan dasar. Dapatkah kita mengkomunikasikan added value kalau belum menguasai ‘produk dasar’nya? Tentu saja non sense. Ibarat menjual pepesan kosong. Bermulut manis tapi tidak tahu yang dijual, omong kosong. Tahu yang dijual tapi tak pandai bermulut manis, ya sama saja.

Inilah pentingnya menguasai hard skill dan soft skill sekaligus. Tidak bisa dipisahkan. Orang pinter tapi keminter, bahaya kerusakan yang ditimbulkan sangat besar. Sehingga, excellence saja tidak cukup. Harus excellence with morality.

Sebagai penutup, saya mengusulkan satu kalimat untuk merealisasikan excellence with morallity ini. “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.”

Kalimat ini saya kutip dari Alquran surat Al Mujaadilah ayat 11. Di sini disebutkan beriman terlebih dahulu baru berilmu. Having morallity dulu, baru being excellence. Seperti hadist Rasul saw, salah satu amalan yang takkan terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Jadi, komunikasikanlah ilmumu sebaik-baiknya!

Demikianlah. Wallahu alam bishawab.

… .

Kok tiba-tiba saya posting tulisan ini? Ngga tau. Suka aja bacanya. Tulisan ini sebenarnya adalah tugas yang diberikan dosen Filsafat Ilmu untuk semua dokter spesialis baru.

Disuruh nulis pendapat pribadi tentang excellence with morallity, eh malah mirip referaat yang isinya menurut sumber ini itu. Ya sudahlah. Lha wong keluar idenya seperti ini. Yang penting orisinil. Hehehe..

Daaaann seperti biasanya, saya ngerjakan tugas macam gini selalu mepet deadline. Akhirnya keluar semua, deh! Hahahaha.. Kebiasaan yang tak patut dicontoh.

See ya next posting!

Open-mouthed smile

Advertisements