Sssspppp… *tarik napas dalam* huuffff… *buang pelan-pelan*

Salah satu alasan kenapa saya membatalkan scheduled post adalah karena saya ngga dapet feel menulisnya. *halah, gaya*

image

Iya, untuk postingan kali ini, saya sempat gelisah sendiri. Jalan mondar-mandir di depan kamar kos, gulung-gulung di kasur, sampai akhirnya saya memutuskan untuk tune in.

Tune in? Iya, maksudnya membayangkan saya berada pada kondisi yang akan saya bahas. Yakni kondisi marah.

*dan jangan tanya saya, apa kejadian yang bisa bikin saya marah.*

Yang jelas, karena hari ini alhamdulillah menyenangkan, maka perlu beberapa waktu untuk saya merecall kembali memori yang bisa bikin marah. Dan alhamdulillah bener-bener susah.

Dan akhirnya muncul juga memori itu.. *sekali lagi jangan tanya*

Dalam tiga puluh detik, inilah kalimat yang berhasil saya tulis:

“Terus terang aku kecewa sama hasilnya. Kita belum bergerak ke mana-mana semenjak ketemuan minggu lalu. Pengennya kerjasama ini terus berjalan. Gimana, bro? Kan kita ini pren, bro. Ayolah kalau kita ada planning, ya ditepati deadlinenya. Sori, yo. Aku terus terang. Dan semoga ke depan kita lebih baik.”

*sekali lagi jangan tanya ini saya sedang membayangkan apa.*

Dan ini satu lagi:

“Mas itu pengeeeen banget bisa nemenin jalan. Kemarin udah, dan sekarang mas perlu ngerjakan sesuatu. Mas minta waktunya, ya? Minta tolong distop dulu prasangkanya yang ngga-ngga. Dan meskipun kita ngga jadi jalan malam ini, sayangnya mas ngga berkurang, kok.”

See?

Apa yang bisa kita tangkap dari ungkapan di atas? Kita telaah satu-satu:

Paragraf-1 (paragraf kedua dianalisis sendiri, ya):

[Tell it and Mean it.] “Terus terang aku kecewa sama hasilnya. [Focused on what, not who] Kita belum bergerak ke mana-mana semenjak ketemuan minggu lalu. [Guarantee it] Pengennya kerjasama ini terus berjalan. Gimana, bro? Kan kita ini pren, bro. [Show what to do] Ayolah kalau kita ada planning, ya ditepati deadlinenya. [Tell it, Mean it, Guarantee it] Sori, yo. Aku terus terang. Dan semoga ke depan kita lebih baik.”

Bandingkan dengan yang satu ini:

“Terus terang aku kecewa sama hasilnya. Lagi ngga niat, ya? Lagi fokus sama yang lain? Aku sih pengennya kerjasama ini terus berjalan. Kita kan pren, bro. Kalau mau bareng-bareng ya ayo. Kalau sudah begini ya, ngga tahu lagi ke depannya kayak gimana.”

See? Sangat jauh perbedaannya.

Poin yang paling penting di sini adalah: Focused on what, not who.
Oiya, poin yang lain juga penting, lho. Tapi saya jelaskan mengapa poin yang satu ini paling besar pengaruh psikologisnya.

Untuk menjelaskannya, saya beri satu contoh lagi:

“Mama kecewa kalau kamu mencuri lagi, lho..”
–bandingkan dengan-
“Mama kecewa kalau anak mama pencuri, lho..”

Kalimat pertama kita mengkritik perbuatannya, kalimat kedua kita mengkritik orangnya. Meski di kalimat kedua coba dihaluskan dengan kata ‘anak mama’ yang terkesan memanjakan, tetap saja dia punya predikat ‘pencuri’.

Sama halnya dengan kalimat ini,
“Ayo belajar, Nak, jangan males-malesan gitu..”
wah, ini bisa jadi shock therapy buat anak kita.

Apa akibatnya? Bisa jadi dia berontak, “Ngga males, kok!” dia melengos, dan meneruskan bermain. Kalaupun belajar, pikirannya melayang kemana-mana. Kalaupun serius belajar, kepercayaan dirinya telah runtuh karena dicap sebagai pemalas.

See?

And words are worthed.

Ungkapan di atas bisa diganti,
“Ayo belajar, Nak, mama masih liat kamu belajar kurang dari sejam, lho..” (kritik perbuatannya, bukan orangnya).

Inilah lima poin dasar poin untuk mengungkapkan marah dengan cara yang benar:

  1. Tell it and Mean it: Ungkapkan apa yang Anda rasakan.
  2. Focused on what, not who: Kritik apa yang dilakukannya, bukan siapa dirinya.
  3. Show what to do: Saran dan koreksi atas apa yang dilakukannya, bukan atas dirinya.
  4. Guarantee it: Ungkapkan harapan agar hubungan senantiasa membaik, beri garansi.
  5. Smooth: Sampaikan dengan lemah lembut.

Kenapa teknik marah ini perlu dikuasai? Dengan marah yang benar, maka bete Anda akan selesai saat itu juga, Anda berpikir solutif karena memberikan suggestion on what to do, dan lawan bicara Anda tahu apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki diri.

Dengan dia memperbaiki diri, Anda terhindar dari bete yang ngga penting dan diulang-ulang. Kalaupun pada akhirnya dia tetep membandel, Anda tahu bahwa dia bukan termasuk orang yang perlu diurusin secara berlebihan.

Bagaimana jika dia adalah anak kita? Maka Anda perlu telaten untuk memarahi dengan teknik ini, karena percaya atau tidak, kepercayaan diri anak Anda tumbuh seiring waktu. Ditambah, dia memiliki sisi leadership yang diwarisinya dari Anda.

Selamat mencoba!

NB: Sekarang masuk dalam sepuluh hari kedua Ramadhan, dimana pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Semoga dosa-dosa kita di masa lalu dan di masa yang akan datang dilebur tuntassss.. dan semoga, postingan ini menjadi bekal untuk mengisi Ramadhan dan hari-hari setelahnya.

🙂

… .

Tulisan ini adalah seri ke-3 dari tulisan “Bete Jadi Bahagia dalam Sedetik.

Possible Related Post by Me, “Bete Jadi Bahagia dalam Sedetik”series (terbit setiap Jumat Pagi di Bulan Ramadhan):

… .

Advertisements