Ikhlas emang ngga gampang, tapi bisa!

Dan inilah cara gampangnya.

Sebelum lanjut, saya mau minta maap dulu. Artikel ini telat. Mestinya terbit Jumat kemarin, eh, molor. Saya sedang UTS, tapi itu pun ngga bisa jadi alasan. Yah, diikhlasin aja yaa.. Muakasii.. Hehe..

Lanjut? Yuuk maree..

Saya terinspirasi sama tweetnya Rangga Umara (@ranggaumara)* beberapa hari lalu. Tweet itu tentang cara menangkap monyet di Afrika tanpa melukainya sedikitpun.

Penasaran?

ini monyet, monyet!

Yang penasaran berarti bangsa monyet. Yang ngga penasaran berarti uda pernah ketangkep. Yang ngakak berarti temennya monyet. Yang ngga ngakak berarti emaknya monyet.

Cuma yang nulis bener-bener manusia.. *dilempar bacok*

Hahahaha..

Stop becandanya. *ini serius, monyet*

Begini. Di Afrika, ada teknik namanya tanem toples. *nama karangan saya sendiri kok, nyet.* Nah, toples itu diisi sama kacang beraroma khusus, trus ditanem sampe yang keliatan cuman lubang toplesnya di atas tanah. Uniknya, toples ini punya leher yang sempit.

Nah, ketika si monyet ngambil kacangnya, otomatis tangannya ngga bisa keluar. Supaya bisa keluar, si monyet harus melepaskan genggamannya. Namanya juga monyet, uda dapet kacang, ya ngapain dilepas lagi. Sekuat apapun si monyet narik tangannya, ngga akan bisa keluar sebelum genggamannya dibuka. Ngga mungkin juga toples itu dibawa jalan, toh uda ditanem dalam tanah.

Nah, lho.

Pernah ngalamin kejadian seperti ini?

Simpelnya, suatu kenangan atau masalah, boleh dimisalkan kacang beraroma khusus. Kita, monyetnya. *loe aja, kaliii*

Kebanyakan kita *sekali lagi, loe aja kaliii* enggan melepaskan genggaman. Maunya ngurusiiin terus urusannya. Maunya harus segera selesai. Maunya SAAT itu juga selesai.

Saya ngga bilang ngga ngurusin masalah itu baik, lho. Yang pengen saya bilang, lepaskan sejenak genggamanmu, supaya punya banyak waktu untuk berpikir. Mundur sejenak ngga masalah, itu artinya memberikan kesempatan dirimu untuk menenangkan diri.

Menurut om Hans Selye, manusia *bukan monyet, lho* dalam menghadapi masalah ada beberapa tahap, bisa digambarkan dalam grafik ini:

image

Awal ada masalah masuk dalam tahap “alarm”, dimana tubuh mulai bereaksi dan kewaspadaan meningkat. Saat sedang berada dalam masalah, masuk dalam tahap “resistance”, dimana tubuh sedang bekerja. Dan saat berakhir, masuk dalam tahap “exhaustion”, saat energi tubuh sudah terkuras.

Kalau ada orang yang bilang, “Sudah, ngga usa dipikir, biarkan waktu yang menjawab..” Preeet!, saya bilang.

Justru, kita sedang bekerja untuk memperpendek masa penyelesaian masalah atau konflik tadi.

Saya ndak perlu nulis penelitian om Hans di sini, saya kasih aja linknya.. Nih.. Penelitian om Hans adalah tentang General Adaptation Syndrome (GAS). Saya juga punya teori GAS, atau Galau Analogue Score. Hahaha.. *ini serius, nyet*

Menurut grafik om Hans tadi, pe-er kita cuman dua: memperpendek waktu adaptasi, dan mengurangi selisih per tahap nya menjadi minimal. Apa maksudnya?

Memperpendek waktu adaptasi. Ada orang yang suka berlarut-larut dalam masalah. Sudah tau ngga bisa diselesaiin saat itu juga, masih mikiiiir aja. Galau ngga brenti-brenti. Jadinya mood seharian kacau. Ada juga orang yang dengan gampangnya melupakan masalah itu, tapi begitu inget, langsung bum!

Cara memperpendek waktu adaptasi yang paling gampang adalah dengan latihan. Membiasakan diri menghadapi masalah, bukan lari dari masalah. Sekalipun masalah tersebut adalah force de majeur alias di luar kekuasaan kita, misal seperti gempa, banjir, jerawat meletus, temen yang mendadak mules, dan sebagainya, bisa kok kita segera beradaptasi.

Saya ngga bilang semua masalah harus selesai saat itu juga. Kalau memang bisa selesai, ya selesaikan, kalau ngga bisa, minggirkan dulu. Prioritaskan yang bisa dikerjakan saat itu apa. Ngga usa mikirin yang ngga perlu dipikir. Tapi ingat, dicatat, lho. Supaya di kemudian hari kamu masih inget ada beberapa pe-er yang perlu diselesaikan.

Mengurangi selisih per tahap jadi minimal. Lihat grafik di atas. Ada orang yang begitu kena masalah langsung meninggi. Ada juga yang selisih sama “alarm state” nya ngga seberapa tinggi, dia optimis dan semangat, begitu selesai langsung exhausted. Ngga mood ngapa-ngapain.

Cara paling gampang untuk mengurangi selisih per tahap jadi minimal ini adalah dengan bersegera melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Dengan begitu kita tak perlu berlarut-larut dalam emosi, dan membawa perbaikan dengan segera.

Kalau kau bertanya, “Ya Tuhan, kenapa ini terjadi padakuu??,” maka Tuhan bisa aja menjawab, “Kenapa engga, monyet?!”

Silakan bersedih, silakan menangis, namun bikin catatan, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Ubahlah pertanyaannya. Ganti dengan, “Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?,” alias what next?.

Yap. Ubah ‘why’ dengan ‘what’. Inget artikel pertama dulu? Untuk sedikit mereview, ini linknya: Bete Jadi Bahagia dalam Sedetik.

Jadiii, dua kombinasi terbaik untuk menghadapi masalah adalah: berani bertahan sedikit lebih lama, dan menjadi bagian dari solusi.

Inget, masing-masing orang pasti punya kecenderungan sedih yang berbeda-beda. Saya ngga bilang sedih atau nangis itu buruk. Justru itulah yang bikin dirimu sooo human. Tapi, kalo keterusan, ya itulah yang membuatmu sooo monyet. *ini beneran, nyet.*

Ikhlas itu butuh waktu. Daripada mikirin ikhlas ngga ikhlas, lebih baik mikirin apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Maka ikhlas akan datang seiring berjalannya waktu. Kalau sudah terbiasa, maka si ikhlas akan cepat datang untuk membantumu memperpendek waktu adaptasi. *ikhlas ini nama orang, bukan monyet*

Saat dapat masalah kamu merasa perlu marah, maka marah lah. Karenanya kita perlu praktek gimana caranya marah yang baik dan benar. Ini juga ada di tulisan saya sebelumnya. Nih, silakan dibuka.. Marah Boleh, Tapi Ada Caranya..

Kebanyakan kita justru mendapat masalah dengan hal-hal sepele yang sering kita lupakan. Misal, belajar untuk ujian statistik, eh lupa ngga ngecek kalkulator bisa dipake apa engga.

Hal-hal sepele yang seharusnya bisa kita atasi ini malah bikin masalah. Nah, untuk antisipasi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, maka lakukanlah persiapan. Ini juga ada link artikelnya, lho.. Monggo.. Persiapan di Atas Segalanya!

Kalau memang pada akhirnya tetap ada sesuatu yang harus kita ikhlaskan, maka artikel inilah panduannya.

Sekali lagi, tidak perlu memaksa diri untuk ikhlas. Cukup paksa dirimu untuk melakukan yang perlu dilakukan pada saat itu. Lalu syukuri, bahwa kamu bisa mencapai apapun yang kamu inginkan tanpa perlu terganggu dengan orang lain.

Ini hidupmu, ini urusanmu. Sukses tidaknya hidupmu, adalah sepenuhnya ada di tanganmu. Daripada sibuk mikirin masalah yang ngga ada ujungnya, mendingan segera ambil langkah untuk bikin hari-harimu lebih cerah, lebih indah.

Jangan biarkan orang lain meruntuhkan moodmu dalam satu hari ini. Jikalau kau bisa menjaga moodmu satu hari ini, sangat mungkin kau juga bisa menjaga moodmu esok hari.

Jikalau kau bisa menjaga moodmu untuk dua hari, tiga, empat, bahkan satu minggu ini, maka sangat mungkin kau bisa menjaga moodmu dalam satu bulan. Bahkan sangat mungkin untuk dua bulan, tiga, empat, dan setahun! Bahkan seumur hidup!

Nah, percaya saja sama Allah. Selama kita berbuat baik, dan mau menjadikan diri kita lebih baik, maka sesungguhnya kita mengijinkan Allah membuat hidup kita lebih baik. Inilah yang disebut dengan berprasangka baik sama takdir Allah.

Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, jikalau bukan dia sendiri yang mengubah nasibnya. Apapun rencana kita, masih lebih indah rencana Allah untuk kita.

InsyAllah, ke depan hidup kita lebih baik dan lebih indah dari hari ini.

Siiaaappp??

… .

Tulisan ini adalah seri ke-4 dari tulisan “Bete Jadi Bahagia dalam Sedetik.

Possible Related Post by Me, “Bete Jadi Bahagia dalam Sedetik”series (terbit setiap Jumat Pagi di Bulan Ramadhan):

Another related posts:

  1. Galau Analogue Score
  2. Fight or Flight: Bersahabat dengan Masalah
  3. Hans Selye, all about (Wikipedia)
  4. General Adaptation Syndrome (Wikipedia)

… .

Advertisements