flowerPernah dengar cerita tentang Socrates dan muridnya di taman bunga?

… .

Suatu kali, salah seorang murid Socrates bertanya tentang rahasia jodoh. Dia malu akan pertanyaannya, namun dia memberanikan diri menemui gurunya, meski hanya tertawaan yang dia peroleh. Murid Socrates yang lain tertawa, namun Socrates hanya tersenyum dan tetap memasang ekspresinya yang bersahaja.

“Pergilah ke taman bunga. Petikkan untukku sekuntum bunga yang terindah. Ingat, petikkan satu saja yang terindah.”

Maka pergilah si murid ke taman bunga terindah di Athena. Di sana terhampar berbagai macam bunga, yang bisa saja semaunya dia petik. Namun teringat pesan gurunya, “..hanya satu saja bunga terindah.” Maka dia putuskan untuk mencermati dengan sangat hati-hati setiap bunga yang dilewatinya.

Hari semakin terik, dia telah mencapai setengah bagian dari taman tersebut. Sungguh ini pekerjaan yang melelahkan. Socrates tak pernah menugaskan murid-muridnya untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia, maka dia bulatkan kembali tekadnya untuk memilih bunga terindah. Demi gurunya. Demi jawaban atas pertanyaannya.

Menjelang sore, dia telah menelusuri semua bagian taman tersebut. Di tangannya telah tergenggam enam-tujuh tangkai bunga terindah. Semuanya mewakili warna pelangi. Semuanya harum. Namun tidak semuanya berduri. Karenanya dia buang semua bunga yang berduri. Tersisa tiga bunga.

Dia berjalan kembali ke ujung taman tempat dia memulai, sambil berusaha melihat ketiga bunga itu dari berbagai sisi. Ah, matahari semakin surut. Tidak cukup sinar untuk menilai detil dari bunga-bunga ini. Lalu ia putuskan untuk menilai dari wanginya. Satu wangi lembut, dan dua wangi yang membangkitkan gairah. Dia harus membuang bunga dengan wangi yang lembut, karena dia ingin menjadikan hidupnya bergairah. Alasan inilah yang akan dikatakannya kepada gurunya.

Mendekati gerbang masuk taman, dia berhenti. Sepertinya dia menangkap aroma yang lebih wangi. Dia menoleh ke belakang. Dibuangnyalah dua tangkai bunga di tangannya, dan dia berlari ke arah sumber aroma. Aha! Dia temukan ada satu bunga yang tak begitu tinggi-mirip perdu-terselip hanya empat-lima sentimeter dari permukaan tanah. Ini bunga yang aku cari!

Malam menjelang, dia puas dengan apa yang dipilihnya. Segera berlari ke arah gerbang, khawatir gurunya menunggu terlalu lama. Oh, tunggu. Tunggu dulu. Apa yang terjadi kalau pagi menjelang? Tentunya bunga terindah tak hanya dinilai dari harumnya. Juga warnanya!

Merasa waktunya semakin habis, dia menyerah pada pilihannya. Dia menuju kediaman gurunya, dan mengutarakan penyesalannya. “Maaf, hanya ini bunga untukmu, wahai Guruku.”

“Mengapa kau menyesal?”

“Karena aku tak dapat memilihkan bunga terindah untukmu.”

“Bukankah kau telah memilih bunga yang terindah?”

“Tak cukup indah seperti yang kuperkirakan.”

“Kau menyesal?”

“Aku menyesal.”

“Maka sesungguhnya kau tak perlu menyesal. Karena sebenarnya kau telah memetik bunga terindah. Bunga terbaik dan paling pantas untuk kau miliki. Jika kau tetap bertahan di antara taman bunga itu, maka sampai kapan pun kau takkan mampu keluar darinya. Bahkan ketika kau telah memetik setangkai dari mereka. Tidak, tidak. Bahkan ketika kau telah memetik beberapa tangkai dari beberapa jenis bunga sekalipun.

“Itulah bukti bahwa kau harus mengendalikan keserakahanmu. Niscaya ketika kau tak mampu mengendalikannya, maka sekali lagi, keserakahanmu akan menghancurkan dirimu sendiri. Kau merasa banyak hal cantik yang sayang untuk kau lewatkan, padahal kau tak sadar hidupmu sedang meninggalkanmu.

“Begitu banyak perempuan cantik di luar sana, namun kau memberanikan diri untuk memilih salah satunya. Memberanikan diri untuk bersama dengannya sehidup-semati, dalam suka dan duka. Tuhan melalui takdirNya hanya memberimu sebuah taman bunga, maka kamu menentukan nasib dengan memilih salah satunya. Inilah jodohmu, dan jodohmu berada di tanganmu, yang kau minta dari Tuhan untuk kau miliki, kau rawat, dan kau sayangi sampai kapanpun.

“Melihat bunga yang cantik di luar sana hanyalah untuk membuatmu semakin mempererat genggamanmu pada setangkai bunga yang telah kau genggam. Membuatmu semakin yakin bahwa inilah pilihanmu, dan kau sanggup melahirkan benih-benih bunga yang lebih cantik dari kalian berdua.

“Inilah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang memberimu pilihan-pilihan untuk bertindak; tidak membuatmu menyerah pada takdir. Kehidupan yang berputar pada lingkaran waktu, ketika satu bunga tumbuh bermekaran, kau petik, dan kau lahirkan bunga tercantik darinya, untuk melahirkan bunga yang tak kalah cantik di kemudian hari.”

… .

Advertisements