imageSaya ngga akan cerita siapa, namun ini benar terjadi. Teman saya mencium adik kelas kami di depan umum, saat acara kampus sedang puncaknya, sedang ramai-ramainya.

Hampir semua teman sekelas adik itu melihat mereka. Di tengah sesi foto bersama, adik kelas kami itu—sebut saja Bunga (19)—pingsan.

Asthma Attack!

Temen saya langsung ambil tindakan. Memanggil semua teman Bunga satu angkatan, mohon ijin sebagai senior yang paham gawat darurat untuk memberi pertolongan.

Ya, hanya dia yang paham gawat darurat. Yang lain? Tidak ada. Semua anak semester satu-dua. Panitia tidak menyiapkan Tim Bantuan Medis (TBM) untuk mengawal acara. (mungkin mentang-mentang anak kedokteran, yah? jadi merasa ngga pake TBM.)

Akhirnya ada kejadian gawat gini, ngga siap. Ngga ada asma reliever. Adanya cuman obat sejenis salbutamol. Itu pun ngga mempan. Kebetulan ada anak lain yang bawa oxycan, itupun tersisa setengah isinya.

Tidak ada masker untuk bantuan napas, tidak ada peralatan medis bahkan tandu sekalipun. Jadi Bunga tidak bisa dipindah, harus ditangani di situ juga.

Masya Allah, apneu!
Alias henti napas!

Ambil inisiatif! Teman-teman mahasiswa baru cuman bisa liat. Dasar culun! Katanya dalam hati. Mau gimana lagi, memang mereka ngga paham soal life saving. Baru kemarin mereka diospek. Dan dengan tradisi feodal kampus kami, praktis ospek tak ada bekal apa-apa kecuali ‘gimana cari selamat’ aja yang mereka pahami. Dia putuskan ambil tindakan saat itu juga…

…tiga siklus pijat jantung..
Bunga terbangun. Terbatuk satu dua kali, sambil menangis. Ketakutan. Nyawanya yang tadi di ujung tanduk ngga jadi pergi.

Khawatir bertemu pandang dengan Bunga, teman saya pergi saat itu juga dari tempat itu.

“Bibirnya masih terasa, Bro,” katanya padaku siang ini, “dia memang punya riwayat asma, dan bodohnya masih memaksa tampil nge-dance.”

“Nge-dance?,” tanggapan saya singkat, sambil membayangkan riasan seorang dancer. Cantik dan wangi. Yang pasti, pakai lipstik. Saya menelan ludah sambil nyeruput es teh. Pun rasa es teh jadi beraroma lipstik. “Dia ngga bawa obat?”

“Bawa, tapi ngga mempan. Beta-dua agonis. Pas foto-foto, dia biasa aja, mendadak sesak sampe ambruk. Ngga ada respon nyeri, ya sudah aku RJPO aja..”

“Bagus, kan?”

“Apanya? Ciumannya?”

“Geblek kamu. Maksudku tindakanmu. Time saving is live saving. Mau gimana lagi? Kalau ngga kamu tangani saat itu, wallahu ‘alam, mungkin dia ngga selamat, Bro. Anak-anak semester satu ngga ada yang tau PPGD. Kayaknya ospek kita harus ada materi PPGD, deh. Biar ngga kacau gini.”

Dia diam sejenak. Saya juga diam. Saya mencari-cari, mungkin ada satu-dua senyum yang dia simpan.

“Apa yang kamu kuatirkan?”

“Malu aku, Bro. Mestinya first kiss ku buat isteriku nanti. Tapi sekarang.. ya sudahlah.”

“Lho kok mikir gitu?”

“Ya pastinya lah, Bro. Tanggung jawabku kepada Tuhanku gimana, donk. Aku mengambil yang bukan hakku.”

“Kamu ada niatan cium dia?”

“Ya enggak, lah! Gila apa??”

Dia membuang muka. Mau saya teruskan goda dia, eh, kok kayaknya lagi serius. Mau saya pancing soal rasa bibirnya yang masih membekas entah sampai kapan…

…saya mendadak merinding. Membayangkan hal itu terjadi pada saya.

Jujur, sepertinya enak pada awalnya. Namun setelahnya jadi gelisah ngga karuan. Gelisah, antara rasa melayang yang ingin diulangi, dan rasa bersalah yang menghantui. Duh, ujian iman ini memang bikin saya rentan.

“Bro.. Kayaknya kita sebagai anak muda emang rentan sama hal-hal semacam ini. Rahasia hatimu-hatiku-hatinya, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Yang penting sekarang, what next? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya biar ngga ngecewakan Tuhan lagi? Mestinya, kalau kita sudah ngerasain gini, sebaiknya kita bikin prevensi, deh. Gawat kalau bikin Tuhan marah. Kita latih aja semua anak baru biar bisa lakukan PPGD sendiri. Oke, kan?”

“Yoi,” dia menjawab sekenanya. Tehnya diminum tiga perempat gelas sekaligus.

“Bedakan urusan cinta dengan life saving. Pekerjaan kita tidak membolehkan kita punya cinta. Mencintai pekerjaan boleh, namun mengerjakan cinta tidak boleh.”

“Gitu, ya?”

“Iya. Pekerjaan kita mengharuskan kita hati-hati dengan hati, Bro. Bahkan kalau mungkin, menumpulkan perasaan semenjak sekarang. Layaknya anak muda yang emosinya meluap-luap, menjadi tenaga medis di usia muda mewajibkan kita menutup semua pintu perasaan dari manapun, lalu sisakan satu pintu. Satu pintu itulah tempatmu berempati kepada pasienmu. Namun bukan simpati. Kasihan boleh, namun dilarang mengasihani.”

Dia mengangguk. Menyeruput es tehnya, dan kami beranjak.

“Namun masih ada satu yang aku khawatirkan,” katanya.

“Apa?”

“Si dia-yang kutaksir sejak dulu-melihatku melakukannya.”

Kami terdiam. Saling berpandangan. Menghela napas, lalu memacu motor lebih kencang. Kami berpisah di jalan.

Mungkin pekerjaan ini mengharuskan kami bekerja dua-tiga kali lebih keras untuk menjaga batasan-batasan, agar tak mengambil hak yang bukan miliknya. Juga agar Tuhan tak kecewa setelah membekali kami dengan ilmuNya.

Mungkin juga pekerjaan ini mengharuskan kami—dan siapapun yang mencintai kami—mengebaskan perasaan cemburu itu sampai sekebas-kebasnya.

… .

Note:

1. Beta-dua agonis: obat reliever asma, sejenis salbutamol.
2. RJPO: resusitasi jantung-paru-otak, metode penyelamatan korban dengan memberi napas buatan dan pijat jantung.
3. PPGD: pertolongan pertama gawat darurat.

Advertisements