Anda percaya sama judul di atas?

Boleh nggak percaya, kok. Saya ngga maksa. Hanya saya tunjukkan aja bukti-buktinya.

Bukti yang saya paparkan adalah pengalaman saya pribadi, bukan orang lain. Sekali lagi, Anda boleh tak percaya. Selebihnya, apa yang saya ceritakan kepada Anda sekalian adalah hukum alam yang sudah pasti terjadi.

Hukum alam yang saya maksud adalah The Law of Harvest. Atau Hukum Tabur-Tuai. Siapa yang menanam, menuai. Apa yang ditanam, dituai. Dimana di tanam, di situlah di tuai.

Anda menanam kebaikan, menuai kemuliaan. Anda menanam keburukan, menuai keburukan yang bahkan bisa lebih buruk.

Sekarang saya sedang UAS spesialis di semester nol, alias semester kuliah umum. Kabarnya, siapa yang tidak lulus semester nol ini hanya akan diberikan kesempatan satu kali mengulang. Lebih dari itu pupus sudah impiannya sebagai dokter spesialis.

Wajar dong, mau ngga mau, suka ngga suka, kita mati-matian berjuang di sini. Ada juga sih yang santai, menunggu jawaban dari kawan sebelah, sementara dia sendiri belajar sebisanya. Ada pula kawan kami yang tidak belajar sama-sekali, karena harus ngurus suami dan anak-anaknya, serta segala macam tetek bengek keluarganya.

Saya termasuk salah satu di antara mereka. Bukan, bukan. Saya bukan sedang ngurusi isteri dan anak-anak saya. Saya masih bujang. Dan beberapa pekan terakhir harus sesering mungkin pulang kampung mengunjungi ibu yang sedang kurang sehat.

Saya kos di Surabaya. Ibu di rumah Gresik. Perjalanan kos-rumah hanya menempuh satu jam. Bisa lebih-bisa kurang. Namun namanya juga capek, nyampe rumah ya pinginnya tidur.

Yang saya lakukan di rumah hanya duduk di sebelah ibu, mendengarkan ceritanya, sambil saya pijit sana-sini. Kadang saya menyimak. Kadang juga tidak. Seringnya sliyut saking ngantuknya.

Walhasil, planning belajar tentu saja berantakan. Ala kadarnya saja, baca soal, sekali melirik diktat, selebihnya tidur. Besoknya harus berangkat pagi-pagi lagi ke Surabaya. Siangnya ujian.

Dan Anda tahu, Kawan?

Sebagian besar soal-soal lawas dikeluarkan kembali. Apa yang saya baca malemnya, selalu keluar esoknya. Alhamdulillaaah.. Sesekali soal baru yang saya ngga tau teorinya, saya bisa jawab. Entah itu multiple choice atau essay. Anda boleh sebut itu kebetulan aja, atau cuma keberuntungan yang kebetulan lewat.

Kalau kebetulan itu terjadi berulang-ulang? Masihkah disebut kebetulan? Tidak ada kebetulan yang terjadi berulang-ulang. Lagipula, tidak ada kebetulan di dunia ini. Kata Einstein, Tuhan tidak bermain dadu terhadap alam semesta.

Ataukah keberuntungan? Ya, ini lah yang ingin saya katakan. Keberuntungan. Anda boleh mengatakan ini hanyalah keberuntungan yang kebetulan lewat. Lalu, orang yang berulang kali mendapat keberuntungan dikatakan “emang sejak lahir dia pembawa HOKI, masbroo..”

Saya bilang, keberuntungan bisa diciptakan. Dan sekarang kita sedang membahas The Law of Harvest. Hukum Tabur Tuai. Apa yang kita tabur, kita tuai.

Anda tahu, dalam hati saya mengeluh. Tiap hari harus bolak-balik dari kampung-Surabaya. Saya tidak bilang saya tidak ikhlas. Saya berusaha ikhlas. Meski godaan nggrundel datang setiap saat. Kalau saya nggrundel, mijit orang jadi seenaknya. Ibu saya mungkin tak sesegar sekarang.

Saya pun baru sadar sekarang. Bahwa apa yang ditabur, pasti dituai. Dimana ditabur, di situ di tuai. Dan saya sedang menuai ridho ibu. Anda pasti tahu, ridho orang tua ridhonya Allah juga. Akhirnya semua bisa berjalan baik, dan di sinilah rejeki saya.

Anda hanya perlu menebarkan kebaikan. Kepada siapa? Siapa saja. Baik orang yang menyenangi Anda, atau menyakiti Anda. Kapan? Kapan saja, saat lapang maupun sempit. Dimana? Dimana saja Anda berada.

Bahkan jika Allah menghendaki, kapanpun, dimanapun, dari siapapun, bisa Anda tuai hasil kebaikan itu. Inilah yang disebut dengan, “Rejeki yang tak disangka-sangka arah datangnya.”

Berbagi lebih banyak, menuai lebih banyak. Jika Anda mampu bersedekah lebih banyak, bersedekahlah lebih banyak. Tidak ada ceritanya orang miskin gara-gara sedekah. Anda menjadikan miskin sebagai alasan tak bersedekah? Itu geblek, namanya. Sudah miskin, gak mau sedekah, susah bener hidupnya.

Jika tak mampu bersedekah dengan harta, dengan tenaga dan waktumu. Jika tak bisa, maka senyum adalah sedekah terbaik yang bisa kau berikan.

Namun jangan salah sangka, ada anak tetangga yang tak bisa sekolah karena kekurangan dana, masa’ mau disenyumi aja. Parahnya, ngajak orang sekampung untuk senyumin dia bareng-bareng. Kan senyum adalah sedekah? Ya, ini geblek namanya.

Menebar kebaikan dengan perbuatan nyata, ya. Bukan hanya niat baik. Tapi perbuatan yang baik. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Tebar kebaikan sebanyak-banyaknya!

Siaaappp???

… .

Iklan:

Hafid Algristian memang bukan orang baik, namun sedang berusaha menebar kebaikan, nih. Bersama Rio Purboyo dan Fuad Zakiy, mereka membentuk Trio Peledak Bakat. Dalam waktu dekat, mereka mengadakan seminar tentang bagaimana mengenali, menggali, dan menjual bakat Anda. Mau? Berikut informasinya:

sell your talent-logo

 

Ingin mengenali dan menggali bakat Anda?
Atau bahkan belum mengenali sama sekali?
Ingin meningkatkan kepercayaan diri dengan bakat yang Anda punya?
Ingin menjual bakat dan melipatgandakan pendapatan Anda sampai 3.500%..?

Maka jual bakat Anda..!

 Sell your Talent!

Bersama Trio Peledak Bakat:

1. Rio Purboyo | Penjinak Bakat.
www.riopurboyo.com

2. dr. Hafid Algristian | Erickssonian Hypnotherapist.
www.SmileLeadershipCentre.com

3. Fuad Zakiy | Motivator Ter-Enerjik di Indonesia.
www.Training-Motivasi.com

Waktu dan Tempat:

Minggu, 20 November 2011 (20.11.2011)
pk. 08.00-18.00
Hotel Narita Surabaya

Investasi:

Harga Normal Rp. 500.000
Dua orang daftar Rp. 300.000 berdua
Satu orang daftar Rp. 200.000

Early bird sampai 31 Oktober 211 hanya 100.000..!!

Transfer ke no. rekening berikut:
BCA: 130-218-6655
Mandiri: 141-000-558-44-53
a.n Veldi Mahartriasa

Setelah transfer, silakan sms ke: 0856.4844.3613
[nama lengkap_nama bank_nominal transfer]

Selengkapnya login di sini:

www.SmileLeadershipCentre.com

See you at the top!

Advertisements