staying in love

Untuk yang kesekian kalinya, mari kita belajar soal Komunikasi yang Baik dan Benar. Anda tahu kenapa? Karena komunikasi yang tidak baik dan tidak benar, menyebabkan semua permasalahan di muka bumi ini menjadi semakin runyam.

Katakanlah, masalah itu selalu ada. Tak bisa diprediksikan kapan munculnya, dan dimana, untuk siapa. Namun, ketika setiap masalah dapat dikomunikasikan dengan baik, alias dibicarakan dengan baik, maka tak perlulah dia membesar dan merembet kemana-mana.

Setujuuu??

Setuju aja, lah.

Nah, beberapa hari terakhir saya mendapat dua klien terapi yang ngga beres komunikasinya dengan pasangannya. Mereka berdua adalah seorang perempuan, satu menjadi korban, satu menjadi penyebab. Dan dua-duanya adalah orang yang siap menikah dengan pasangan masing-masing.

Anda tahu, bagi orang manapun di muka bumi ini, menikah adalah sesuatu yang sakral. Suci. Artis sekalipun yang suka kawin-cerai, tetap berusaha mempersiapkan acara suci ini sematang mungkin. Bahkan seheboh mungkin.

Bukan cuma acara dan materi, mental pun harus disiapkan. Agaknya kedua klien terapi saya ini sedikit terkendala soal persiapan mentalnya. Yang disayangkan, acara pertunangan mereka menjadi batal.

Klien pertama yang menjadi korban, tunangannya memutuskan dia karena satu alasan:

“Agaknya dirimu sulit berubah. Sepertinya karaktermu yang kurang sensitif membuat temen-temen kita menjauh dari kita. Selama setahun ini aku menahan untuk tidak mengatakannya kepadamu. Sekarang, mohon maaf, aku sudah tidak kuat. Dan kita putusnya baik-baik, ya?”

Klien kedua yang menjadi penyebab, memutuskan tunangannya karena satu alasan juga:

“Sepertinya aku bosan dengan hubungan kita. Tidak ada perkembangan selama dua tahun ini. Masa’ gini-gini aja, tidak ada variasi. Ya sudah, kita jalan sendiri-sendiri, ya.”

*jeda sebentar*

Kawan, apa yang kau rasakan ketika membaca kalimat tadi? Marah? Aneh? Jengkel? Kecewa?

(Btw, saya tidak berusaha membahasakannya dengan lebay, saya mencoba menulis apa adanya sesuai apa yang klien saya katakan kepada saya.)

Terlepas benar-salah keputusan mereka, saya yakin kita bisa membahasakannya dengan lebih baik. Tul, kan? Bukan bermaksud berpura-pura. Katakan apa adanya, namun tetap berusaha untuk menjaga hubungan menjadi lebih baik.

Anda bisa saja mengatakan langsung maksud dan tujuannya tanpa peduli bagaimana perasaan lawan bicara kita. Namun, inti dari komunikasi yang baik adalah terjadinya sikap dan perilaku lanjutan yang sesuai dengan harapan kita. *wah, mendadak teoritis, nih.*

Gampangnya, untuk memahami apa yang saya maksud adalah seperti ini. Anda bisa membayangkan apa yang akan dilakukan lawan bicara kedua klien saya? Atau coba bayangkan ketika Anda berada sebagai posisi lawan bicara kedua klien saya.

Untuk klien pertama, Anda menjadi penyebab.

“Agaknya dirimu sulit berubah. Sepertinya karaktermu yang kurang sensitif membuat temen-temen kita menjauh dari kita. Selama setahun ini aku menahan untuk tidak mengatakannya kepadamu. Sekarang, mohon maaf, aku sudah tidak kuat. Dan kita putusnya baik-baik, ya?”

Apa yang Anda rasakan?
Sepertinya ego Anda sedang tinggi.

Kalau memang begitu, mengapa tidak kau katakan saja sejak setahun yang lalu? Kenapa baru sekarang? Dan kalaupun aku harus berubah, apa yang harus aku ubah? Ketika aku berusaha berubah untukmu dan hubungan kita, kenapa kau malah tidak ada untukku?

Ini yang dikeluhkan klien saya sambil menangis.

Untuk klien kedua, Anda menjadi korban.

“Sepertinya aku bosan dengan hubungan kita. Tidak ada perkembangan selama dua tahun ini. Masa’ gini-gini aja, tidak ada variasi. Ya sudah, kita jalan sendiri-sendiri, ya.”

Apa yang Anda rasakan?
Sepertinya Anda ingin sekali makan orang. Iya, kan?

Anda mungkin juga mengatakan seperti yang dikatakan klien saya yang pertama. Kenapa baru sekarang? Dan kalaupun aku harus berubah, apa yang harus aku ubah? Ketika aku berusaha berubah untukmu dan hubungan kita, kenapa kau malah tidak ada untukku?

(Kawan, Anda ingin menangis? Silakan. Marah? Silakan. Asal jangan pecahkan layar monitornya. Hehehe..)

Hei, mereka sudah tunangan, lho!

DateNightSaya katakan, cinta adalah keputusan kalian berdua. Memilih mencintai dan dicintai. Memilih siapa mencintai dan siapa dicintai. Memilih satu sama lain, dimana kalian berbagi cinta.

Karena semua urusan cinta-mencintai ini adalah keputusan kalian sendiri, maka bertanggungjawablah! Setidaknya komunikasikan dengan baik apapun yang Anda rasakan saat itu.

(Saat sesi terapi, saya tidak mengungkit siapa yang benar, dan siapa yang salah. Namun di blog ini, khusus kita bahas bagaimana semestinya kita berkomunkasi tentang cinta, ya.)

Seorang dosen senior berkata pada saya, cara membangun komunikasi yang efektif itu gampang. Cukup dengan tiga hal.

Coba cermati kata “Komunikasi”.

Kom-Muni-Kasi. “Kom” maksudnya adalah “come” (bahasa Inggris), artinya “datang”. “Muni” (bahasa Jawa) artinya “bilang” atau “katakan”. “Kasi” maksudnya adalah “kasih”.

Jadi komunikasi adalah “datanglah, dan katakan dengan penuh kasih sayang.”

Ketiga komponen ini tak bisa dipisahkan. Bilang sayang di telepon, rasanya beda lho kalau datang ke tempatnya beneran. Meskipun datang dan ketemuan, saling sayang, tapi ngga ngobrol ya ngga lengkap rasanya. Meskipun datang, ngobrol, tapi malah marah-marah dan ngga ada kasih sayang, juga percuma.

Sederhana, kan?

(Ini pengertian asal-asalan, tapi gampang dimengerti, kan? Hehehe..)

Apapun keputusanmu terhadap cinta yang telah kau bangun, komunikasikan. Apakah baik pada akhirnya, atau buruk nantinya, komunikasikan.

Apapun perasaanmu saat mengambil keputusan, apakah sedih di dalamnya, marah, kecewa, sakit hati.. atau sebaliknya, bahagia, riang gembira, tetap komunikasikan.

Sedapat mungkin hindari sms atau telepon untuk berbagai hal yang penting menyangkut hubungan kalian berdua. Sekalipun kau di sini dia di sana, alias sedang long distance, komunkasikan. Datanglah, dan katakan dengan penuh kasih sayang.

Hindari penundaan. Karena rasa hari ini bisa berbeda dengan esok. Sekali lagi datanglah, dan katakan dengan penuh kasih sayang.

Bukan hanya urusan cinta, Kawan. Dengan siapapun. Kapanpun, dimanapun. Dengan bos di kantor, dengan rekan kerja, dengan bibi pembantu di rumah, tetangga.. siapapun!

Alangkah indahnya jika kita mampu berkomunkasi dengan baik satu sama lain. Masalah kecil tak perlu jadi besar, dan masalah besar malah bisa kita kecilkan.

Praktek sama-sama, yuk?

… .

–pesan sponsor–

Ingin mengasah kemampuan berbicara Anda?

Atau, kalau bukan bicara, mungkin Anda punya bakat lain yang terpendam dan belum sempat Anda munculkan?

Mungkinkah, Anda ingin mengetahui bakat terbesar yang Anda punya, menggalinya lebih dalam, kemudian menjualnya hingga mampu melipatgandakan penghasilan Anda sampai 3.500% lebih banyak?

Jika ya, segera kunjungi link ini! >>klik di sini<<

Anda akan menemukan cara sederhana namun powerfull untuk meledakkan bakat yang Anda punya!

Dan akhir tahun ini menjadi titik balik kehidupan Anda!

Temukan jawabannya di sini..

Advertisements