kehujanan, tetep maksa foto :)))
kehujanan, tetep maksa foto :)))

Alhamdulillah pagi ini hujan!

Saya selalu merindukan bau tanah basah ketika hujan. Bener, lho. Haru jadinya. Kenapa? Ngga tau. Mungkin banyak memori yang bisa dibangkitkan ketika hujan.

Terlebih lagi, saya terlanjur mensugesti diri saya untuk menjadi pribadi yang hebat ketika tersentuh air. Percaya ngga percaya, semua ide kreatif saya temukan ketika mandi, ketika memejamkan mata, dan air mengguyur seluruh badan saya.

Dan inilah yang saya dapatkan pagi ini.

Boleh dibilang, saya lagi apes. Anehnya, saya ngga merasa apes sama sekali. Pagi ini Surabaya hujan, dan ketika saya sedang perjalanan dari kampung menuju kosan, ban bocor. Inilah terdakwa penyebab ban bocor saya:

mur! bukan paku..
mur! bukan paku..

Ban saya bocor di tiga-empat bagian berdekatan. Ini akibatnya kalau bocor tapi saya paksakan saya naiki. Kasihan Si Jago Merah.

Daripada ditambal dengan tambalan yang banyak, Si Tukang Bannya menyarankan untuk beli ban baru aja. Murah, cukup lima belas ribu rupiah.

Saya ngga langsung mengiyakan. Kayaknya untuk ukuran yang sama, harga ban saya lebih mahal. Merk federal. Katanya, ban bekas punya Si Tukang Ban itu merknya racing. Sebagus apapun merknya, bekas tetaplah bekas.

Akhirnya saya menyerah oleh saran Si Tukang Ban. Saya beli satu ban bekasnya. Mau gimana lagi, ternyata proses nambalnya lebih sulit dari yang saya kira. (Ya iya lah. Si Tukang Bannya kan lulusan S1 teknik tambal ban. Pastinya lebih PRO dibanding kamu, bung!)

Inilah Si Jago Merah yang lagi nge-ban bersama si Tukang Tambal Ban:

nge-ban asooy
nge-ban asooy

Saya merasa sedekah saya menurun selama UAS ini. Sibuk di kamar, sibuk baca bahan-bahan ujian, dan sibuk latihan soal. Iyah, sibuk. Sithik-sithik bubuk (sedikit-sedikit tidur, Jawa red.) Sampai lupa sedekah. Ya sudah, saya bayar lebih banyak sekalian saya niatkan sedekah.

Dan ini adalah booth-stand si Tukang Tambal Ban:

Ada sesuatu yang menarik di sini. Bisa Anda lihat, mana bagian yang menarik?

booth-stand tambal ban. tertarik? :D
booth-stand tambal ban. tertarik? 😀

Ketika saya katakan “tambal ban”, apa yang terpikir oleh Anda?

Ban? Ember setengah jadi yang isinya air kecoklatan? Atau kompressor warna merah-oranye seperti kapsul kapal selam? Saya yakin kompressor. Karena itulah yang menarik perhatian dan gampang dilihat di oleh pengendara.

Namun apa yang ada di booth-stand satu ini? Kompressor ngga ada, adanya pompa manual. Coba scroll ke atas, dan lihat ada pompa manual di dekat kaki-kaki Si Merah.

Booth-stand nya pun biasaaa banget. Ngga pake dicat. Papan tulisan “Tambal Ban” pun ngga kelihatan. Tapi ada satu yang menarik. Apa itu hayoo?

Ya, benar! Bannya dipajang satu-satu di atas. Hanya orang iseng yang jawab ketika ditanyain, “Tambal ban, Mas?,”
“Oh, bukan. Saya jualan nasi goreng.”
“Lha itu bannya buat apa?,”
“Lauknya, Mas.”
Lhoalah..

Ini namanya “keterlihatan”. Juga, Si Tukang Tambal Bannya naruh booth-stand ini di tikungan, jadi orang belok langsung bisa lihat dia. Pun, produknya di pajang di depan. Digantung sampaaii banyaaakk.

Inilah yang disebut feasibilitas (feasibillity). Jualan itu harus kelihatan. Pajang produknya di depan supaya orang bisa melihat, jangan disembunyikan. Jangan seperti orang ini –> “Eh, aku jual kendi, lho. Pengganti kulkas. Murah, cuman lima belas ribu sudah bisa membekukan air minum.”
“Wah hebat! Kendinya sakti, ya.. Ngomong-ngomong, kamu taruh mana kendinya?,”
“Itu tuh, di kulkas.”
Lhoalah..

Tambal Ban ini sudah mengawali usahanya dengan langkah yang bagus, tinggal melengkapinya dengan marketing mix: product, place, price, promotion. Kita bahas satu-satu, ya.

Productnya jelas dan spesifik, juga menyasar target market yang luas. Siapapun yang butuh tambal ban, pasti datang ke dia. Dia tidak berbisnis “palu gada,” alias “apa lu mau gua ada.”

Lagipula, bisnis palu gada makin riskan akhir-akhir ini, mengingat kompetitornya yakni “palu peyang lu,” alias “apa lu mau mintak sono ke eyang lu,” makin semarak. Sekali lagi, segmentasi pasar, ya.

Place, cucok. Seperti yang saya sebutkan soal feasibilitas di atas.

Nah, soal price dan promotion, saya punya ide yang patut dipertimbangkan.

Begini. Tadi, pada akhirnya saya beli ban bekasnya Rp. 15.000. Katakanlah, untungnya Rp. 5.000. Saya mau bikin promosi seperti ini:

“GABAN MERAH: Ganti Ban Di Sini, Menangkan Rumah Mewah!”

Lho, kok bisa? Bisa!
Ayo itung-itungan, ya.

Berapa harga rumah sekarang ini? Sebut saja, di City Home Sukolilo Surabaya, harga tipe London kalau ngga salah sekitar 273 juta. DP paling ngga 50juta. Berapa dikalikan 5.000 (laba tambal ban tadi), untuk mencapai 50 juta? Tentu dikalikan 10.000, artinya kita butuh sepuluh ribu kali layanan ganti ban!

Mustahil? Tidak!
Ayo dihitung lagi.

Sebut saja, saya naikkan ongkos ganti ban jadi 20.000. Tiga ribu saya makan, tujuh ribu saya masukkan sebagai cicilan DP. Tujuh ribu kali berapa untuk mencapai lima puluh juta? Ngga apa-apa, anggap saja 10.000 kali. Jaga-jaga kalau ada kenaikan DP karena kita masih menunggu duitnya terkumpul. (Biasa, permainan bisnis properti memang begitu).

Jadi setelah 10.000 kali layanan ganti ban, kita terkumpul 70juta sebagai down payment alias DP. Kok DP? Iya, sisanya si pemenang undian yang nambahin sebagai cicilan. Bisa ngga hadiahnya dirupakan duit aja? Ngga bisa. Pilih rumah atau hangus.

Lalu, soal 10.000 kali layanan ganti ban? Apa ngga jombrot tangan si Tukang Bannya? Ya enggak lah. Kuncinya, jangan sendirian. Kompakan seluruh tambal ban se-Surabaya. Bikin tulisan yang jelas di booth-stand tambal bannya, “Ganti Ban Di Sini Menangkan Rumah Mewah!” Promo ini hanya berlaku di Tambal Ban yang berlogo Gaban Merah.

Misalnya se-Surabaya ada 500 booth-stand tambal ban. Satu minggu rata-rata 10 aja orang ganti ban, maka 500 x 10 = 5.000 layanan ganti ban dalam seminggu se-Surabaya. Berarti dua minggu dana untuk DP sudah terkumpul, bukan?

Tentu setelah dua minggu, kita lakukan undian untuk pemenang Gaban Merah. Undang wartawan untuk meliput. Bikin berita yang sensasional “Gaban Merah: Revolusi Tambal Ban Surabaya.” Umumkan lewat blog. Maka, tidak sampai dua bulan, omset Tukang Tambal Ban ini bisa meledak.

Kita itung-itungan, ya?
Ayo, berapa profit si Tukang Tambal Bannya.

Untuk sekedar ganti ban dalam masa promosi ini, berapa untungnya? Tiga ribu per ganti ban. Seminggu berapa orang ganti ban? Sepuluh. Kalikan empat minggu. Berapa? Seratus dua puluh ribu sebulan. Masih kurang? Ini cuman yang ganti ban, loh. Belum yang tambal ban. Pasti lebih dari itu. Apalagi kalau ada promosi Gaban Merah.

Gampang, kan?

Siapa bilang jaman sekarang susah cari duit? Kita hanya perlu jadi orang yang kreatif dan lebih berani action aja. Selebihnya, mari sama-sama jadi pribadi yang bersyukur. Eh, bersyukur itu ada tiga komponen, lho. Intinya: menerima-mengevaluasi-mengambil tindakan. Menerima keadaan, Mengevaluasi (bukan menyesali) apakah ada yang perlu diperbaiki, lalu Mengambil tindakan perbaikan.

Ya, mungkin beberapa orang tertentu sih yang ngga mau kreatif. Saya sendiri suka miris kalau lihat pengemis di Gresik-Surabaya yang makin banyak. Bahkan, di perempatan jalan seolah jadi “ladangnya”.

Ya sudah, lah.

Nah ayo, jadi orang kreatif, yuk. 😉

… .

–pesan sponsor–

Ingin mengasah kreativitas yang Anda punya?

Atau, mungkin Anda belum tahu di bidang apa kreatvititas Anda bisa dimaksimalkan?

Kreativitas adalah inner power!

Mungkinkah, Anda ingin mengetahui inner power terbesar yang Anda punya, menggalinya lebih dalam, kemudian memaksimalkannya hingga mampu melipatgandakan penghasilan Anda sampai 3.500% lebih banyak?

Jika ya, segera kunjungi link ini! >>klik di sini<<

Anda akan menemukan cara sederhana namun powerfull untuk meledakkan inner power yang Anda punya!

Dan akhir tahun ini menjadi titik balik kehidupan Anda!

Temukan jawabannya di sini..

Advertisements