Begitulah yang saya rasakan. Optimis tak selamanya sukses. Harus ada rencana tambahan dan sedikit improvisasi untuk memaksimalkan hasilnya.

Ceritanya begini.

KerupukLombok!

Saya punya dagangan baru, yakni Kerupuk Lombok. Bukan kerupuk yang berasal dari lombok, lho. Ini kerupuk ikan, dan pedesnya karena berbumbu lombok yang dikeringkan, lalu digongso. Jangan tanya saya digongso itu seperti apa. Yang jelas hasilnya seperti sambel bakso yang kekuningan itu, lho. Ilmiahnya, minyak atsiri lomboknya dikeluarkan untuk melipatgandakan pedesnya.

Niat awal saya cuman satu, yakni membantu teman parkiran nambahi duit untuk rumah tangganya. Isterinya sebentar lagi melahirkan. Dan gajinya sebagai tukang parkir kampus, yakni sebulan hanya 600.000, belum cukup untuk membiayai persalinan anaknya.

Gayung pun bersambut. Ada teman lain yang cerita soal krupuk barunya, dan begitu saya cicipin pedesnya bukan main. Saya memang ngga suka pedes. Namun kurang dari semenit, rasa pedes di lidah sudah hilang. Meski demikian, selama setengah jam keringet saya ngga berhenti mengucur.

Jadilah Kerupuk Lombok ini deal saya pasarkan bersama si tukang parkir tadi. Laba dibagi berdua.

Dua bulan berjalan, sub agen kami sudah terkumpul enam orang untuk enam lokasi yang berbeda. Laba per order pun mencapai 60.000 per orang. Sebut saja, dalam seminggu dua kali order saja, berarti sudah 120.000 per orang. Kalikan enam orang. Total 720.000 per minggu!

Ini yang membuat kami optimis untung besar di bazaar akhir minggu kemarin. Ketika saya ajukan business plannya ke panitia, mereka setuju untuk menampung kita di satu stand milik panitia. Saya pun tak perlu menambah pengeluaran untuk sewa stand.

Diskusi lebih lanjut, saya setuju untuk menaikkan harga sampai 15.000 per bungkusnya. Mengingat produk sejenis di luaran sana, bisa mencapai harga 22.000 per bungkusnya. Ya, Anda benar! Itulah Maichi.

Saya sediakan 450 bungkus untuk dijual di bazaar akhir minggu. Masing-masing per bungkusnya 15.000. Laba saya bisa mencapai 300% di sini. Maka ini adalah solusi terbaik bagi saya dan si tukang parkir untuk bikin bancaan buat kelahiran anaknya.

wallpaper_medspin_hd

Anda tahu berapa bungkus yang akhirnya terjual?

34..!

Iya, hanya tiga puluh empat bungkus!

Kenapa?

Saya sendiri masih menduga-duga sampai sekarang. Satu-satunya alasan rasional adalah karena harganya terlalu mahal untuk anak SMA. SMA? Iya, bazaar ini diadakan untuk melengkapi rangkaian acara Medical Science Application Competition (MEDSPIN) di kampus saya, yakni acara lomba IPA Kedokteran khusus anak-anak SMA.

Penjualnya sudah bagus. Mereka cerewet, gesit, lincah, dan terlebih lagi, good looking. Adik-adik kelas yang bersedia membantu saya ini suka mendadak melompat ke sana kemari untuk menawarkan Kerupuk Lomboknya, sampai ngga bisa saya ikutin gerakannya. Duh, pinggang dan lutut saya serasa mau copot. Hebat!

adik-adik kelas yang membantu kami

kostum kerupuk lombok

Taktik marketingnya pun sudah bagus. Ada sekitar 1800 lembar voucher yang disebar untuk peserta. Voucher 5.000, jadi untuk membeli kerupuknya cukup 10.000 saja. Dan, setiap pembelian dapet gratis 1 (satu) botol air mineral. Menarik, kan?

Mereka beramai-ramai menukarkan vouchernya. Giliran mau bayar, eh, kepentok harganya, karena masih harus nambah 10.000 lagi. Jumlah yang lumayan besar untuk anak SMA.

Namun, kenapa masih ada 34 bungkus yang terjual?

Saya amati, penampakan pembelinya memang tampak lebih berada. Dan kemungkinan membeli Kerupuk Lombok karena trend. Dengan harga yang segitu pun bagi mereka ngga masalah.

Lalu, apa Exit-Plan saya untuk 416 bungkus yang belum terjual?

Alhamdulillah, dalam dua hari ini sudah dilepas 210 bungkus ke sub-agen kami. Dikarenakan seminggu sebelum bazaar kami stop semua order dari sub-agen, untuk sementara fokus sama bazaar dulu. Stok yang lebih masih ada sekarang sekitar 200 bungkus lagi.

Semua pake sistem bayar mundur. Bayar di belakang setelah laku. Pun, masa kadaluwarsa kerupuk ini dua bulan, namun kami kasih stempel expired untuk satu setengah bulan, sehingga setengah bulan sisanya bisa kami putar ke tempat lain yang lebih laku.

Begitulah.

Optimis memang kadang tak membuat kita sukses begitu saja. Diperlukan kreativitas, dan kerendahan hati untuk belajar mengenali produk, teknik pemasaran, dan pasar itu sendiri. Selebihnya adalah kerja keras. Lalu biarkan Allah yang melihat kita pantas mendapatkan rezekiNya yang banyak dan berkah.

Dan yang ngga kalah penting, kita juga harus siap menang, terlalu menang, kalah, dan terlalu kalah. Terserah Allah ingin memberi kita seperti apa. Yang jelas, siapkan diri kita untuk segala kemungkinan. Terbaik dan Terburuk. Itulah gunanya Exit-Plan yang saya maksud di atas.

Kesimpulannya,

Optimis bukan jaminan sukses, namun tanpa optimis, sudah pasti jaminan gagal.

Anda setuju?

Keep optimist..!!
Sampai bertemu di puncak kesuksesan..

kartunama lombok!

… .

NB: Kerupuk Lombok, reseller welcome. Please visit www.LOMBOKers.com NOW..!!

… .

–pesan sponsor–

Ingin mengasah kreativitas yang Anda punya?

Atau, mungkin Anda belum tahu di bidang apa kreatvititas Anda bisa dimaksimalkan?

Kreativitas adalah inner power!

Mungkinkah, Anda ingin mengetahui inner power terbesar yang Anda punya, menggalinya lebih dalam, kemudian memaksimalkannya hingga mampu melipatgandakan penghasilan Anda sampai 3.500% lebih banyak?

Jika ya, segera kunjungi link ini! >>klik di sini<<

Anda akan menemukan cara sederhana namun powerfull untuk meledakkan inner power yang Anda punya!

Dan akhir tahun ini menjadi titik balik kehidupan Anda!

Temukan jawabannya di sini..

Advertisements