Tulisan ini sengaja saya buat untuk mempromosikan profesi saya sekarang, seorang psikiater, dan harap maklum jikalau isinya penuh dengan hal-hal manis tentangnya.

Dan, memang begitulah kenyataannya.

menjadi blogger yang bahagia

… .

MAAF YA, GALAU BUKAN PILIHAN.

Oleh: Hafid Algristian[i]

 

Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
(WR. Supratman)

“Setelah 66 tahun bangsa kita merdeka, syair lagu ini terasa makin cocok dengan kondisi bangsa sekarang ini,” demikian ungkap Dr. Marwah Daud Ibrahim, PhD, Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat. Simaklah betapa cerdas bangsa ini, oleh WR. Supratman, diajak untuk membangun JIWA terlebih dahulu, baru kemudian BADANnya untuk INDONESIA RAYA.

Kenapa cocok? Karena kita temukan banyak sekali gejala yang menunjukkan kurang seriusnya kita selama ini dalam membangun JIWA bangsa Indonesia. Kita senang berada di ranah “abu-abu”, cenderung membuat standar ganda dalam kehidupan kita. Bapak-ibu kita di pemerintahan yang berniat baik menjadi tak lagi baik karena terjebak dalam budaya korup. Sementara anak-anak mudanya, yang diharapkan menjadi generasi emas untuk bangsa, malah jadi alay[ii], perubahan cuaca dikit udah galau, bahkan bikin video porno yang dibintangi sendiri, terlibat narkoba, dan punya imej “merokoklah, karena merokok adalah gaya hidup.”

Sementara itu di lingkungan keluarga, saking luar biasa berkorbannya, seorang ayah jarang bertemu dengan anaknya sendiri. Mengapa? Harus berangkat kerja dini hari saat anaknya masih tidur. Pulang ke rumah sudah larut malam, anaknya sudah tidur. Ketika isterinya nyenggol dikit, sambil pasang tampang nesu sang suami menjawab, “Duh, Ma, capek. Jangan malam ini, ya.”

Ini gambaran sederhana mayoritas keluarga miskin dan kaya di negeri ini. Kalau seperti ini, mungkinkah seseorang selingkuh? Lalu, siapa yang bisa memberikan perhatian penuh untuk pendidikan sang anak, yang diharapkan membawa nama baik keluarga? Ahmad Faiz Zainuddin, founder Spiritual Emotional Freedom Technique (S-EFT) mengatakan, “Your every sadness and joy comes from home.” Setiap kesedihan dan kebahagiaanmu berasal dari rumah. Maka sekarang ini, kita sendiri perlu usaha ekstra untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Perubahan yang begitu cepat, menuntut saya dan Anda mengembangkan kemampuan adaptasinya. Diprediksikan oleh para ekonom, akan terjadi krisis pangan di seluruh dunia pada tahun 2020. Bagaimana dengan kita yang di Indonesia? Maka sekali lagi, kita harus cepat beradaptasi. Inilah yang di Ilmu Kedokteran Jiwa disebut sebagai coping mechanism, yang secara sederhana diartikan sebagai kemampuan dalam beradaptasi menghadapi stress yang ada. Stress sendiri terjadi apabila saya dan Anda tidak dapat beradapatasi terhadap kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.

Kita di Indonesia dengan dua musim, penyesuaian diri yang dibutuhkan relatif lebih mudah. Beda dengan masyarakat negara dengan empat musim. Mereka dituntut untuk lebih disiplin, lebih cepat beradaptasi agar survive. Contoh gampangnya, mengapa di luar negeri tidak ada orang yang, maaf, buang hajat di sungai? Karena di sana ada musim salju. Tentu saja, buang hajat di sungai saat musim salju adalah bukan pilihan yang cerdas.

Dr. Nalini Muhdi, dr. Sp. KJ (K) mengatakan, menurut International Association for Suicide Prevention (IASP), angka kejadian bunuh diri di Singapura mencapai 10,300,000 jiwa per tahun (data tahun 2006). Angka ini menempatkan Singapura di urutan ke 43 di antara negara dunia dengan kejadian bunuh diri terbanyak, sementara Thailand ada di urutan 59. Psikiater yang akrab dipanggil dr. Nalini ini menyayangkan, untuk Indonesia sendiri belum ada data. Dan semoga benar-benar tidak ada kejadian bunuh diri di bangsa kita.

World Health Organization (WHO) merumuskan ada 8 (delapan) kriteria jiwa yang sehat. Yakni;
1. dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk;
2. memperoleh kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya;
3. merasa lebih puas memberi daripada menerima;
4. merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan;
5. dapat berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan;
6. dapat menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari;
7. dapat mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif, dan;
8. mempunyai rasa kasih yang besar.

Sepertinya mudah diomongkan, akankah sulit diterapkan? Maka seorang psikiater hadir untuk membantu mengurai banyak hal terkait kesehatan jiwa tersebut. Seorang psikiater dilatih untuk menjadi pendengar yang baik, dan ekstrimnya, tidak akan mulai bicara jika belum dipersilakan. Dia akan membantu Anda dengan pertanyaan-pertanyaan kunci, sehingga Anda sendiri yang menemukan jawaban atas masalah Anda.

Bicara soal pasar kerja bagi Anda yang memilih profesi sebagai seorang psikiater, perlu diketahui bahwa bangsa kita sedang membutuhkan banyak orang seperti Anda. Seperti yang dikatakan oleh harian Kompas Online 30 November 2011, ditargetkan pada Januari 2014 Indonesia sudah bebas pasung. Artinya, perlu ada usaha yang ekstra dan terarah dari para frontliner kesehatan, yakni dokter umum yang ada di puskesmas, dan para psikiater yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mewujudkan cita-cita ini. Setiap orang berhak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang manusiawi dan sebaik-baiknya, maka program bebas pasung ini adalah cita-cita yang mulia.

Jangan khawatir, ranah kerja seorang psikiater cukup luas. Tidak hanya klinis, juga area publik. Dibuktikan sendiri oleh dr. Nalini, beberapa periode terakhir beliau didaulat secara rutin sebagai juri di event Deteksi Model. Di sanalah beliau mengampanyekan konsep anti-bullying kepada anak muda.

Kita pasti setuju bahwa bahagia adalah pilihan. Dan setiap orang berhak bahagia. Seperti yang diungkap dr. Mohammad Thohir Sp.KJ dalam bukunya Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa yang Sehat, “Kebahagiaan autentik (authentic happiness) hanya dirasakan oleh orang yang memiliki jiwa sehat. Tak ubahnya seperti tubuh sehat, jiwa sehat pun bisa kita raih melalui latihan, kesungguhan, dan disiplin diri.”

Maka di jaman sekarang ini, maaf ya kalau saya katakan, galau bukanlah pilihan.


[i] Family Hypnotherapist, Dokter Residen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNAIR-RSU DR. SOETOMO Surabaya
[ii] tanya saja pada anak-anak jaman sekarang, apa artinya.

… .

Dimuat di: Tabloid Kampus “Lingua”

… .

Ingin tahu seberapa galau Anda?

Check this picture link out!

image

Advertisements