Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya, orang yang mudah dihipnosis sama sekali tidak bodoh. Justru, dia termasuk cerdas.

Nah, beginilah cara kerja pikiran kita.

(Sebaiknya sediakan cemilan, posisikan duduk dengan nyaman, dan pastikan teman Anda menahan kentut agar tak mengganggu konsentrasi Anda. Kalau Anda yang kentut? Ya sudahlah, ngga apa-apa.)

Setelah browsing, saya ambilkan dasar teorinya dari wikipedia. Sederhananya ada di gambar berikut:

RobertFuddBewusstsein17Jh

Otak kita semacam mesin pengolah sensasi, dan apa yang ada di sekitarnya yang dapat ditangkap oleh indra, diterjemahkan, sehingga kita bisa memahami apa yang ada di sekitar kita.

Dari gambar itu bisa dilihat, ada empat hal yang dapat “disensasi” oleh otak. Yakni “mundus sensibilis” atau area sensible/nyata, “mundus imaginabilis” atau area imajinasi, “mundus intellectualis” atau area kecerdasan, dan area memori.

Kita sebut secara berurutan sebagai area 1 (“mundus sensibilis”), area 2 (“mundus imaginabilis”), area 3 (“mundus intellectualis”), dan area 4 (memori).

Gambar tersebut hanya menunjukkan satu area yang nyata; area materi yakni dunia seisinya, area 1, sementara tiga area lainnya adalah area yang kekal, atau tak terikat materi.

Mengapa area 2 dan area 3  dipisahkan? Karena area 2 lebih cenderung kepada subyektivitas kita, lebih karena pengalaman, atau imajinasi; sementara area 3 lebih bersifat inspirasional, seperti “idea”, sesuatu yang comes from nowhere”, tau-tau ada di kepala kita. Temen-temen neuroscience menyebutnya sebagai ‘God Spot’, yakni area yang menerima inspirasi tak terbatas.

Ketiga area ini, area 1, 2, dan 3, saling terhubung dengan baik. Ketiganya memberikan sensasi yang sama baiknya terhadap indera kita (ya, indera kita bukan cuma dipakai untuk merasa, melainkan juga untuk mengukur sesuatu! misalnya, kita mengatakan “perempuan itu cantik dan wangi, ya”—maka cantik adalah ukuran bagi mata/visus, dan wangi adalah ukuran bagi penghidu/odoratus.)

Nah, di sinilah ceritanya.
(jadi dari tadi belum cerita?? ckckck)

(Oke, siapkan cemilan, duduk yang nyaman, dan pastikan dia nahan kentut.)

Supaya lebih gampang memahami, saya pandu Anda dengan tiga paragraf berikut:

“Perempuan itu, berusia sekitar tiga puluh tahunan. Dari gurat wajahnya tampak dia bukanlah orang Jawa sembarangan. Mungkin Cina campuran Jawa, sebagaimana mayoritas warga propinsi ini. Licin bak porselen, halus bak sutera, kulitnya ibarat warna mutiara saat diterpa matahari. Dia menutupi dengan sebelah tangannya—sebagaimana semua wanita karir yang berusaha menjaga perawatan wajahnya.

“Ketika tangan kirinya terangkat ke atas, satu-dua bilah rambutnya turun menutupi matanya, dan saya baru tahu kalau rambutnya disemir hitam, kontras dengan warna kulitnya. Sebuah sensasi yang unik bagi siapapun yang ingin berjemur di tepi kolam renang private villa ini. Piyamanya terbuka dan ditanggalkannya di pinggiran kursi santai, o-oh one piece hitam, pertanda dia datang ke sini hanya untuk berenang, bukan berjemur.

“Satu-dua kali dia melihat ke arah saya, menyadari kalau saya mengamati. Terpaku, tak bergerak, semua air yang ada di sekitar menjerat membuat saya makin tak mau pergi. Jantung saya berdesir. Napas pendek-pendek, padahal saya samasekali belum mulai berenang. Pandangan kami bertemu. Tangannya menyentuh telinga saya. Merambati leher, dan sambil bergelayut di tangga kolam renang, dia masuk air dengan anggunnya, dan menyentuhkan bibir saya dengan bibirnya. “Selamat ulang tahun, Suamiku..”

See?

Sensasi apa yang Anda rasakan?

Hahaha.. Saya yakin, satu dua di antara Anda pasti membayangkan, dan ikut deg-degan ngga karuan, deh.

Nah, berdasar apa yang barusan Anda alami, penjelasan saya terlihat semakin mudah.

Saya tidak langsung menyatakan bahwa perempuan itu cantik. Namun saya perjelas bagian demi bagiannya, sehingga akan muncul imajinasi tentang perempuan di kepala Anda. Saya 100% yakin, bahwa Anda membayangkan seorang perempuan cantik menurut versi Anda.

Lalu, berapa banyak di antara Anda yang membayangkan bahwa perempuan ini punya rambut panjang? Ayo ngacuuunngg… Padahal saya samasekali tidak bilang bahwa perempuan ini berambut panjang, lhoo..

Hehehe..

Kita samasekali tidak menggunakan area 1, karena memang tidak ada obyek yang dilihat atau disentuh langsung. Melainkan, kita menggunakan area 2 dan area 3  untuk menerjemahkan sensasi dari tiga paragraf di atas.

Masing-masing Anda punya imajinasi yang berbeda tentang perempuan yang dimaksud. Dan itu memang kebebasan Anda dalam memilih. Semua berdasar pengalaman. Mungkin bagi Anda yang termasuk ‘terjaga’, alias frekuensi bertemu perempuan tidak sebanyak orang lain, mungkin Anda menggunakan area 3, yakni berusaha menyusun sendiri kepingan-kepingan “cantik” itu seperti apa, dan menyerah pada ide-ide yang muncul entah darimana.

Saya juga yakin, perasaan yang muncul saat menerjemahkan “cantik” dengan area 2 versus area 3, lebih emosional area 2 dibandingkan 3.

Oleh karenanya, saya munculkan kalimat yang terakhir, “Selamat ulang tahun, Suamiku,” dalam usaha untuk menetralisir imajinasi Anda yang terlalu liar gara-gara kalimat sebelumnya. Hahaha..

See?
Muncul perasaan yang berbeda dari awal membaca paragraf,
sampai di akhirnya.

RobertFuddBewusstsein17Jh

Tiga area yang disebutkan di awal adalah area aktif, sementara area terakhir, yakni area memori, adalah area pasif. Saya ceritakan lebih lanjut di tulisan berikutnya tentang area memori ini, dan keajaiban-keajaiban yang dimilikinya.

Yang jelas, tiga area terdepan, sensibilis, imajinasi, dan intelektualis, muncul saling berurutan. Pun ketika muncul, semuanya saling mempengaruhi satu sama lain, dari depan ke belakang, begitu sebaliknya.

Dan di sinilah kunci kecerdasan seseorang yang mudah dihipnotis.

Anda tahu, hipnosis adalah seni komunikasi alam bawah sadar. Sementara area 2 dan 3 adalah area bawah sadar. Area abstrak, tak terikat materi, bebas bergerak kemana suka.

Seseorang yang mudah dihipnosis adalah mereka yang mudah sekali mengakses area 2 dan 3 ini, sehingga mampu memunculkan sensasi yang sama baiknya dengan kenyataan meski mereka hanya berimajinasi.

Menariknya lagi, Einstein mengatakan, bahwa “Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited.”

Karenanya, seseorang yang mudah dihipnosis ternyata mereka yang memiliki impian yang besar, visioner, dan terarah. Termasuk orang yang tak mudah galau. Karena, apapun yang terjadi, seberat apapun, pasti mereka lewati dan mereka tahu kemana harus melangkah.

Mereka memaksimalkan area 2 dan 3 nya dengan luar biasa baik. Mereka memvisualisasikan impiannya seolah-olah itu telah terjadi.

Hati-hati!

Sampai di sini, kita perlu hati-hati. Karena ternyata kecerdasan itu harus dibayar mahal dengan action yang seimbang. Anda boleh bermimpi besar, namun tetap harus berani mengambil langkah-langkah kecil.

Jika tidak demikian, apa akhirnya? Maka impian Anda tak lebih dari isapan jempol, mimpi di siang bolong, tak terjangkau, lepas, dan mungkin menimbulkan luka, sehingga membuat Anda tak lagi berani bermimpi.

“To raise new questions, new possibilities, to regard old problems from a new angle, requires creative imagination and marks real advance in science.” Demikian kata Einstein.

Selain action, ada satu hal lagi yang ingin saya ceritakan. Yakni tentang area 2 versus area 3.

Kita simpan dulu untuk tulisan berikutnya, ya. Karena saya yakin, Anda sudah cukup puas untuk tulisan ini. Hehehe.. Kalau belum puas, saya kasih bocoran sedikit, yaa..

Tulisan berikutnya adalah mengenai bagaimana memaksimalkan alam bawah sadar untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah Anda tetapkan.

Stay tuned!

alias, Tongkrongin!

… .

Training SEFT Essential for Healing
Training SEFT Essential for Healing
Advertisements