Psychosclerosis, simply put, is the mental health term used to describe an individual who may appear to be anxious and depressed but, instead, is suffering from a hardening of the mind, spirit and heart. When this occurs, the individual suffering from psychosclerosis will commonly exhibit symptoms which are perceived as lacking love and an overall enjoyment in life.

When the symptoms of psychosclerosis are untreated, the mental health sufferer may then develop physiological complications including cardiovascular disease, gastrointestinal complications and even complications of the immune system. For this reason, it is important to identify individuals who suffer from true depression and anxiety versus those who suffer from psychosclerosis.

To naturally remedy psychosclerosis, mental health professionals are working to educate the patient in the methods of natural self-healing. Evaluating boundaries and working on biofeedback, to enhance the emotional reaction to events, is crucial to improving psychosclerosis in a patient while educating the patient in the expression of emotions.

In addition to biofeedback, patients suffering from psychosclerosis often show some degree in improvement when they are exposed to new ideas, adventures and concepts and do so with an open mind, learning to grow and change with each new event. Reporting back, in verbal or written form, to the mental health professionals, the emotions felt during the event, will aide the psychosclerosis patient in the practice of expressing emotion, joy and, eventually, love of nature and of people.

Dari berbagai sumber di Mbah Google.

… .

Jadi, psikosklerosis itu seperti aterosklerosis, dimana aterosklerosis adalah pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan lemak yang tidak semestinya, sedangkan psikosklerosis adalah pengerasan pola berpikir akibat penumpukan masalah yang tak kunjung berhenti.

Penderita psikosklerosis ini tidak lagi merasa nyaman dengan hobinya, bosan dengan rutinitas, dan tak lagi menunjukkan gairah sebagaimana biasanya.

Dengan ilmu kesehatan jiwa saya yang masih perlu diupgrade ini, psikosklerosis bisa dimasukkan dalam gangguan depresi pada tingkatan ringan maupun sedang.

Namun beberapa psikolog, khususnya mereka yg menganut aliran positive psychology, mengatakan bahwa psikosklerosis bukanlah depresi karena sebenarnya tidak ada gangguan mood; penderitanya masih menunjukkan kualitas yang baik, dia masih bisa menjalankan hobinya, namun semua itu berjalan dengan stagnan. Tidak meningkat, juga tidak menurun.

Penderitanya menunjukkan gejala mudah mengeluh, mudah marah (iritabel alias senggol bacok), namun masih responsif terhadap jokes. Bukan juga termasuk gangguan cemas, namun penderitanya mudah sekali mengalami kecemasan; yakni hiperakitivitas otonomik (seperti kita yang mendadak sering mules-mules di pekan ujian akhir), dan hiperaktivitas motorik (agitatif, mondar-mandir tidak jelas, menjadi clumpsy atau ceroboh).

Ketika penderita psikosklerosis ini diajak bertemu dengan suasana baru, mendadak dia menjadi ceria, bahagia, lepas dan bebas.. Seolah-olah dia menerima energi baru yang dapat membuatnya beraktivitas lebih baik daripada biasanya. Ide-ide kreatif muncul semakin banyak, dan dia mampu membuatnya terwujud.

Dengan keadaan seperti ini, pengobatan medis konvensional (yakni menggunakan obat-obatan, seperti yang disebutkan dalam artikel di atas) tidak disarankan. Karena sebenarnya penderitanya hanya butuh dialihkan sementara dari rutinitas yang dia jalani.

Pengalihan inilah yang sebenarnya bisa dilakukannya kapan saja dimana saja. Bisa melalui rekreasi, karaoke, meditasi, yoga, atau bagi yang muslim salat lima waktu.. Apa saja yang penting keluar dari aktivitas. Karena kegiatan ini dapat menjadi pengalihan sementara, dan ketika tubuh relaks, pikiran kita kembali menuju gelombang alfa. Gelombang alfa menunjukkan dimana otak kita fokus, sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

Secara psikiatris–lagi-lagi dengan ilmu saya yang masih cupet ini–psikosklerosis dapat disimpulkan berada di antara gangguan cemas dan gangguan depresi.

Bagaimana menurut Anda?

Atau Anda sedang mengalami hal ini? Toss dulu kalau begitu.

Advertisements