Ada sebuah penelitian yang mengejutkan baru-baru ini.

Penelitian ini dilakukan oleh dr. Rudy Cahyono, SpKJ terhadap pasien kanker serviks (mulut rahim) di poli kandungan di sebuah rumah sakit di Surabaya. Penelitian yang melibatkan 31 responden ini mengaitkan antara tingkat religiusitas dengan derajat depresi. Harapannya, semakin tinggi tingkat religiusitasnya, semakin rendah derajat depresinya.

Namun ternyata tidak!

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 hingga 2013 itu menyebutkan tidak ada hubungan signifikan antara tingginya tingkat religiusitas dengan tingkat depresi. Semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, belum tentu orang tersebut tidak rentan depresi.

Saya sendiri kaget saat mengikuti pemaparan beliau. Sejak kecil saya diajarkan, salatlah atau bersedekahlah agar Allah meringankan bebanmu. Atau, jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu. Sampai sekarangpun saya meyakini sebuah kalimat, belilah semua persoalanmu dengan sedekah.

Bagaimana mungkin saya—dan orang-orang yang melakukan ritual keagamaan ini—masih memiliki kerentanan terhadap depresi?

Jawaban pertanyaan ini saya temukan di beberapa tulisan tentang spiritualitas. Mulai dari “The Healing Words” karya Larry Dossey, sampai yang terbaru “The Biology of Belief” karya Bruce Lipton. Ternyata dijelaskan, bahwa religiusitas sangat berbeda dengan spiritualitas.

Religiusitas berasal dari bahasa Latin “religare”, yang berarti “untuk mengikat bersama-sama.” Religion dalam bahasa Inggris, yang berarti ‘agama’, adalah sekumpulan ritual dan tata aturan untuk mencapai keridhaan Tuhan YME. Religion ini sifatnya komunal, berlaku untuk sekelompok orang dengan keyakinan yang sama, saling mengikat satu sama lain.

Sementara spiritualitas, dalam bahasa Latin berarti ‘nafas’. Gambaran spiritualitas lebih banyak mengenai pencarian makna dan tujuan hidup, nilai-nilai, transendensi atau menjadi bagian dari alam semesta, dan keterhubungan manusia dengan Tuhannya.

Boleh dibilang, religiusitas adalah cara untuk mencapai spiritualitas. Spiritualitas ibarat lantai atas, sementara religiusitas adalah anak tangga menuju ke sana. Dengan pengertian ini, rasanya sangat mustahil mencapai spiritualitas tanpa menjadi religius terlebih dahulu.

Penelitian dr. Rudy secara tidak langsung membuktikan betapa tidak efektifnya religi dalam menangkal gangguan jiwa. Religi tidak mempunyai efek proteksi pemakainya terhadap tekanan-tekanan kehidupan yang dia alami.

Hasil penelitian ini memberi tamparan kepada peserta seminar waktu itu. Betapa rutinitas ibadah kita tidak mampu menjamin bahwa kita bisa bebas depresi. Betapa kualitas ibadah kita ternyata tidak bertumbuh sejalan dengan semakin rutinnya kita beribadah.

Kenyataan sehari-hari, masyarakat masih menganggap bahwa meminta bantuan ke orang pintar adalah jalan untuk mencari kesembuhan. Seringkali gangguan jiwa pun dianggap sebagai fenomena kesurupan. Mereka mencari ‘obat’ ke ‘penasihat spiritual’ semacam ini, jika tidak berhasil, barulah menemui dokter atau psikiater.

Padahal sebagian besar masyarakat Indonesia meyakini adanya Tuhan Yang Esa. Hal ini juga didiskripsikan dari penelitian dr. Rudy. Yakni tidak ada yang menyangkal bahwa ketika Allah menurunkan suatu penyakit, pasti diturunkanNya pula terapinya. Lalu sebenarnya, apa yang sedang terjadi?

Memang mempercayai klenik adalah bagian dari budaya nusantara. Dalam kitab suci pun, disebutkan ada makhluk gaib seperti malaikat, syetan, dan jin. Namun, masyarakat Indonesia yang dikenal religius (dibandingkan masyarakat luar) seakan-akan lebih memilih meminta bantuan klenik untuk menyelesaikan masalahnya. Bukankah kita punya Allah, Tuhan Semesta Alam yang bahkan berkuasa atas makhluk gaib sekalipun?

Bahkan beberapa artis, politisi, dan orang-orang tenar lainnya berbondong-bondong memiliki ‘penasihat spiritual’ untuk membantu mereka mengurai masalah. ‘Penasihat spiritual’ ini melakukan upaya ‘bersih diri’ dengan cara-cara alternatif, yang tidak ada dalam ‘ajaran religi’. Seakan-akan, upaya menangkal bala adalah cara ‘spiritual-yang-mirip-klenik’.

Seakan-akan, untuk mencapai tingkatan spiritual yang tinggi sudah tidak perlu lagi melalui tahapan-tahapan dalam religi. Menurut saya sih, tetep perlu. Silakan berpegang teguh pada agama masing-masing untuk mencapai tingkat spiritualitas. Karena kalau tidak, kita akan terjebak mencampur adukkan agama satu dengan lainnya.

Bukan agamanya yang dikritik, dikatakan tidak fungsional untuk mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Melainkan individu yang menjalankan ajaran agama itu yang perlu dikritik. Sudah se-open minded apa dia untuk menjalankan ajaran kebaikan-kebaikan dari Tuhan?

Nah, bagaimana menurut njenengan?

                        

NB: glad to be back here. 🙂

Advertisements