Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Dia menjawab, mungkin akan tertunda beberapa waktu. Karena harus mengikuti alur di sini. Karena ia resmi pindah ke departemen ini per 1 Februari 2014, dan menurut gosipnya pemerintah Manado sudah mengikhlaskan ia memindah status PNS nya ke Surabaya, maka rekomendasi itu menjadi tidak berlaku. Lalu, apa tidak apa-apa menunda cita-cita yang sudah lama diperjuangkan? Dia menjawab, tidak apa-apa.

Saya masih belum puas dengan jawabannya. Apa rahasianya sehingga mudah sekali mengikhlaskan cita-citanya untuk tertunda. Maklum, seperti yang orang banyak ketahui, seseorang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar. Sekalipun ia berkata bahwa ia menyimak sepenuhnya. Dan itu yang terjadi pada saya sekarang. Saya hanya ingin mendengar alasan yang masuk akal bagi saya.

Kakak kelas saya ini mengatakan, bahwa ia mencintai psikiatri. Ia mencintai perjalanan hidupnya di psikiatri, bahwa menjadi psikiater bukanlah orang yang sempurna, bukanlah orang yang selalu benar, sehingga tidak patut menggunakan tata-nilai-pribadinya untuk berhadapan dengan klien. Belajar dari situ, ia melihat departemen psikiatri ini membutuhkan banyak anak-anak muda untuk mengembangkan diri. Sehingga, tidak masalah menunda beberapa waktu cita-citanya, asalkan bisa terlibat untuk mengembangkan departemen psikiatri yang ia cintai ini.

“Berarti Abang jadi martir, dong? Rela hancur demi kebahagiaan orang lain?,” saya mendesak.

Dia cuma tersenyum, lalu mengatakan, pada awalnya memang berpikir seperti apa yang saya pikir. Namun, ia merasakan cita-citanya telah bergeser. Ia ingin membuat cita-citanya lebih bermanfaat untuk orang lain daripada hanya memenuhi ambisi pribadinya. Dan, saya puas dengan jawaban ini.

Lain orang lain cerita. Cerita berikut seperti sinetron, namun benar terjadi. Seorang teman bercerita, ia mengalami tanda-tanda depresi karena ia tidak jadi menikah. Teman saya ini laki-laki, usia sepuluh tahun lebih tua dari saya, dan cukup mapan. Ia dokter dari departemen lain, bukan PNS, dan hebatnya ia punya usaha workshop mebel kecil-kecilan. Ia hanya mengorganisasikan pengrajin-pengrajin kayu di dekat rumahnya untuk membuat mebel sesuai pesanan orang kaya dari berbagai kota.

Sebut saja ia Mas NR. Mas NR, sebagaimana orang-orang lain yang sedang kasmaran, benar-benar berjuang buat cintanya. Ia telah membuatkan rumah untuk sang calon isteri. Bukan sok kaya lalu membeli cinta dengan rumah, namun Mas NR ini bernadzar kepada dirinya, jika akan menikah nanti, ia tak mau isterinya susah. Ia mau isterinya hidup bahagia dengannya. Ia kemudian menguras habis tabungannya untuk membeli rumah tersebut.

Menjelang pernikahannya, Mas NR menjadi bimbang. Karena sang calon isteri, yang beberapa bulan lalu telah bertunangan dengannya, mengakui lebih mencintai orang lain. Mas NR panik. Apakah perjalanan cintanya akan berakhir tepat sebelum mereka menikah?

Mas NR mengakui, bahwa selama pacaran, ia jarang memperhatikan si dia. Mas NR terlalu sibuk untuk mengejar cita-citanya sebagai dokter penyakit dalam. Ia mengatakan, “Kan masih pacaran, Mas. Belum pasti ia jadi isteri saya. Saya sekarang berjuang buat isteri saya, bukan buat pacar. Kecuali kalau ia mau saya nikahi, ya saya akan berjuang untuknya. Tapi ya nanti, pas statusnya sudah isteri, bukan pacar seperti sekarang.”

Mas NR menyadari, bahwa banyak kesalahan yang ia lakukan selama pacaran. Ia banyak tidak peduli, sibuk sendiri, namun satu-satunya kesalahan yang tak pernah ia lakukan adalah: menduakan si dia. Karenanya, ia merasa sakit hati ketika calon isterinya lebih mencintai orang lain, di hari-hari menjelang pernikahan mereka. Mas NR tahu bahwa sebenarnya calon isterinya sedang galau.

“Dia hanya bimbang, Mas,” katanya, “kalau status kami sudah menikah, apapun yang terjadi pasti saya perjuangkan. Kalau statusnya masih pacar begini, ya terserah. Apapun yang terjadi saya siap. Lebih baik menyesal sekarang daripada menyesal seumur hidup.”

Kemudian, karena menyadari bahwa dirinya mungkin sudah tidak lagi dicintai seperti dulu, ditambah lagi perasaan kecewa karena diduakan, Mas NR membebaskan si dia untuk memilih. Seperti yang saya kutip dari tulisan Mas NR di BBM, beginilah kata-katanya, “Jika engkau memang lebih mencintai dia, silakan. Silakan memilih dia. Lagipula aku tidak sudi kamu banding-bandingkan dengan orang lain. Aku menyadari, selama jalan sama kamu, aku banyak salah. Namun komitmenku kepadamu tidak akan berubah. Bahwa suatu saat aku akan menikahimu, dan menjadikanmu satu-satunya seorang putri dalam hidupku.

Kamu tidak perlu terbeban akan pernikahan kita. Pernikahan ini adalah keputusan seumur hidup, dan jangan sampai kau menyesal karenanya. Kalaupun harus berakhir di sini, ya sudah. Aku sadar, aku mungkin bukan yang terbaik untukmu. Aku sadar, ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya.”

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements