Beberapa waktu lalu seorang teman menceritakan, betapa paranoidnya suaminya. Teman saya ini dokter, suaminya juga dokter. Keduanya bekerja di rumah sakit yang sama, berbeda departemen. Di kamar mandi ruang jaga dokter, suaminya berulang kali bertanya, “Ini ada CCTV nya, Ma? Kalau ada CCTV nya nanti Mama keliatan dong waktu mandi ama ganti baju.”

Pertanyaan ini konyol, namun rasanya masuk akal juga. Ngapain juga pihak rumah sakit masang CCTV di kamar mandi? Namun agaknya, bagi para suami yang sayang isterinya, pertanyaan ini wajar ditanyakan kalau tidak ingin isterinya menjadi sasaran otak kotornya orang lain. Saya sebagai laki-laki yang telah beristeri (ciee) juga merasakan hal yang sama sepertinya. Betapa rasa cemburu sering membuat kami paranoid jika orang lain coba-coba membicarakan kecantikan isteri kami. Apalagi sampai mencuri-curi pandang. Huh, kurang ajar bener, tuh.

Di waktu magrib kemarin, saya bertemu seorang teman. Dia berpengalaman beberapa lama bekerja di PMA farmasi yang punya pabrik di Pasuruan. Suatu ketika, dia menceritakan, bosnya kebetulan jalan-jalan mengitari pabrik, tanpa sengaja dia melihat ada beberapa serbuk putih yang tercecer di sungai. Si bos menduga, tercecernya serbuk ini asalnya pasti dari bagian produksi. Dia langsung meminta produksi dihentikan saat itu juga. Semua mesin harus mati. Tanpa terkecuali.

Si bos memerintahkan semua air sungai dari radius sekian kilometer yang menuju ke hilir diambil, ditampung dalam tangki dan dilakukan uji ke BLHD. Sekian puluh juta rupiah dihabiskan untuk melakukan uji keamanan limbah hingga pembersihan air sungai. Komentarnya, “Saya tidak mau sedikitpun limbah kita mencemari alam.”

Bukan sekali ini si bos, yang asli orang Amerika keturunan Jerman, membuat keputusan mengejutkan. Setiap hari filter cerobong pabrik harus diganti. Filter itu dibuat tiga level, dan masing-masing memiliki kemampuan 99,5% menyaring limbah asap,  sehingga yang dilepas ke udara bebas adalah benar-benar fresh air. Satu hari, perusahaan harus mengeluarkan dana tak kurang dari dua juta untuk masing-masing filter.

Menurut teman saya, bos nya ini paranoid. Dia tidak mau pekerjanya berada di lingkungan berbahaya. Contohnya, standar keamanan pekerja di bagian produksi harus terjamin. Satu set pakaian beserta maskernya itu berharga 1,5 juta. Kostum ini hanya berlaku sekali pakai. Ketika istirahat siang, harus dibuang. Selesai istirahat siang, pakai lagi yang baru. Begitu terus setiap hari. Bisa dibayangkan berapa dana yang dihabiskan hanya untuk kostum ini.

Oleh banyak anak buahnya, si bos ini dinilai berkomitmen tinggi. Ya. Komitmen adalah salah satu bentuk paranoid yang produktif. Beda halnya dengan paranoid yang tidak produktif. Isinya curigaaaa mulu. Main fitnah. Tusuk dari belakang. Ingin menjatuhkan orang lain padahal dirinya juga gak bagus-bagus amat.

Boleh kita contoh Amerika Serikat. Pasca peristiwa 9/11, negeri Paman Sam ini seolah-olah menjadi paranoid. Setiap orang luar Amerika yang masuk ke bandara harus di-screening ketat. Tidak boleh ada yang terlewat. Memang sih, paranoidnya keterlaluan. Namun karena paranoidnya itu, sistem keamanannya menjadi maju dan lebih efektif untuk mendeteksi ancaman sekecil apapun.

Pernah buang air besar di Jerman? Sekali-kali, mampirlah di toilet bandara di Jerman. Setelah melakukan flushing dan “membersihkan bagian yang penting”, muncul laser warna hijau yang mendadak menyapu bersih semua bagian toilet itu. Entah laser apa itu, yang jelas kemudian rasanya hawa di ruangan menjadi hangat. Tentunya hal ini terjadi ketika kita sudah keluar dari ruangan. Bisa dipastikan pengunjung yang masuk setelah kita tidak perlu khawatir bahwa kita “meninggalkan sedikit sisa-sisa kemanusiaan untuknya”. Hehe..

Ini juga buah dari paranoid yang produktif, lho. Paranoid terhadap bakteri patogen. Pengalaman saya sendiri waktu berkunjung ke Jepang, mereka tampaknya cukup paranoid terhadap “bakteri-bakteri saluran pencernaan”. Ketika saya menunjukkan paspor, saya langsung digiring ke tepi, dan ditanyai, “How many people died by typhoid in your country?” Wow, komentar saya. Nobody died, man. They only sick..

“Only sick you say? What about diarrhea? Your country is endemic,” kata si petugas. Saya tidak terima. Saya bilang, Our body contains natural vaccine for it. So dont worry. Do you want to take a blood sample of me? Bisa dipastikan jawabannya, No. (Ternyata kebetulan waktu itu baru saja terjadi outbreak diare di Hiroshima karena ikan laut yang tercemar, dan diduga dari Laut Cina Selatan—yang asal aja dituduhkan ke Indonesia).

Demikian juga sebenarnya, kita-kita ini paranoid. Paranoid yang disertai kecemasan. Jangan-jangan amal saya masih sedikit. Jangan-jangan ibadah saya masih kecampuran riya’. Jangan-jangan bekal mati saya belum cukup. Jangan-jangan, dan jangan-jangan. Justru jangan-jangan inilah yang membuat kita lebih waspada lalu menambah kualitas ibadah kita. Membuat kita makin istiqamah.

Ada beberapa orang yang justru paranoidnya berlebihan, sehingga menjadikan dia tidak produktif. Bisanya omdo, alias omong doang. Isi pikirannya dipenuhi ide-ide paranoid, namun tidak disertai dengan perilaku produktif untuk melakukan antisipasi.

Kadang memang kita membutuhkan ide-ide paranoid itu untuk membuat inovasi-inovasi, agar kita bisa survive. Supaya lebih produktif, usaha kita untuk survive hendaknya bukan dengan cara merendahkan atau menyerang orang lain. Melainkan dengan meningkatkan kapasitas diri. Seperti vaksin yang dibuat untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita. Maka seperti itulah paranoid, agar kita terdorong untuk meningkatkan kapasitas diri.

Dengan adanya sifat paranoid yang produktif ini pula, suami teman saya—di awal paragraf tadi—menjadi lebih khusyu’ dalam doanya, menjadi lebih bersikap lemah lembut untuk meningatkan isterinya. Bukan malah menjadi kasar dan membentak-bentak.

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements