Ada ungkapan menarik yang saya dapatkan dari twitter. Ungkapan ini ditujukan kepada semua orang yang pernah, atau sedang mengalami depresi. Yakni: “To all depressed people: earphones in, volume up, ignore the world.”

Saya tidak tahu depresi macam apa yang ditujukan oleh penganjur saran ini. Yang jelas, ada maksud baik di balik pesannya tersebut.

Mereka yang mengalami depresi biasanya berkubang lebih lama di dalam pikiran dan perasaan negatif mereka. Mereka dengan depresi sering mengalami agony. Pesimis, cenderung sensitif, mudah merasa bersalah, menarik diri, bahkan mengalami penelantaran diri hingga berhari-hari. Tidak selera makan, enggan beraktivitas, tidak ada gairah, dan hidup serasa tak berguna. Pada titik tertentu, akan timbul ide-ide bunuh diri.

Serem, kan? Ini namanya spiraling down. Pada umumnya orang yang merasakan kesedihan, tidak akan menimbulkan suatu rangkaian proses berpikir yang makin “turun ke bawah”. Maksud saya, kalaupun kita sedih, akan mudah dialihkan dengan kegiatan lain misalnya berjalan-jalan, makan-makan, minum-minum, dan sebagainya. Dalam beberapa saat, kesedihan itu teralihkan. Tidak sampai terus menerus.

Namun tidak untuk mereka dengan depresi. Sedikit saja hal yang dirasa menyedihkan, mereka akan mudah sekali memikirkannya sampai berhari-hari. Memang susunan kimiawi pada otak mereka dengan depresi, cukup berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka dengan depresi memiliki kadar serotonin yang lebih rendah dibanding orang lain. Hal inilah yang membuat mereka menjadi sosok yang melankolis dan reaktif terhadap rasa sedih.

Saran terbaik untuk memutus rantai spiraling down ini adalah dengan mengalihkan pikiran mereka dari tema-tema kesedihan. Cara ini memang tidak selalu berhasil, mengingat mereka membutuhkan rangsang bahagia yang benar-benar besar untuk membuat tertawa dan lupa akan kesedihannya. Setidaknya dengan earphones in, volume up, ignore the world “diharapkan” bisa berhasil. Setel lagu kencang-kencang, nikmati, lalu abaikan orang-orang di sekitar Anda.

Abaikan sih, abaikan. Tapi jangan sampai seperti orang berikut ini.

Seorang pengendara motor, sebut saja Mr. Paijo, berada di lajur tengah saat berkendara. Dengan kecepatan sedang, ia mengendarai motornya geal-geol dengan satu tangan. Ceroboh! Reckless driving! Ini yang membuat saya kesal. Dia tidak menggubris ketika saya klakson berulang kali, sampai pada akhirnya ia melihat kaca spion dan membiarkan mobil saya lewat. Ketika menyalipnya, saya melihat ia sedang mengenakan earphone-nya, bibirnya seperti melafalkan syair-syair lagu, dan tangan kirinya menjentik-jentik genit sambil menari-nari! Apa-apaan, Bung?!

Yang membuat saya kesal lagi, saat kendaraan kami berpapasan, ia melihat ke arah saya dengan acuh tak acuh, dan tetap meneruskan menyanyi. Gerakan mulutnya seperti bernyanyi jug-i-jag-i-jug-i-jag-i-jug-nya Kereta Malam. Nah, siapa yang tidak kesal, coba! Kok enak dia nyanyi sendiri, saya nggak diajak?? Hehehe..

Saya sendiri pernah berkendara motor seperti itu. Pasang earphone di telinga, dan berdendang berteriak-teriak sekehendak hati. Tujuan saya cuma satu, yakni agar tidak mengantuk. Satu-satunya hal yang sedang saya biasakan adalah berkompromi dengan rasa kantuk saat perjalanan panjang. Dan bernyanyi adalah hal yang cukup manjur hingga saat ini. Yang membedakan saya dengan Mr. Paijo adalah lagunya. Mr. Paijo suka Kereta Malam, kalau saya suka Oplosan. *eh 😛

Apa kesamaan orang depresi dengan pengendara motor yang reckless gini? They are prone to accident. Mereka rentan mengalami kecelakaan. Dua-duanya bisa mengalami penurunan konsentrasi, melamun, dan tidak perhatian dengan sekitarnya. Ignore the world too much.

Yang membedakan keduanya cuma satu: reckless driver biasanya mengalami kecelakaan karena memang kecerobohan, namun mereka dengan depresi “semacam ada dorongan” untuk melukai diri. Mengapa demikian? Karena ada rasa nyeri jiwa yang sulit dihilangkan dengan cara apapun, dan satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa nyeri jiwa itu adalah dengan meng-kompetisi-nya dengan nyeri yang lain, yakni nyeri fisik. Karenanya, mereka rentan terhadap perilaku-perilaku yang membahayakan diri.

Kebutuhan dua jenis orang ini—reckless driver dan depressed people, adalah sesuatu yang dapat mengalihkan mereka. Agar tidak mengantuk, agar tidak spiraling down. Dan bagi sebagian orang, earphones in, volume up, adalah cara yang terbaik untuk mengalihkan diri dari rasa kantuk atau depresi.

Namun, percuma jika Anda biarkan earphones itu bernyanyi sendirian. Anda harus ikut bernyanyi. Seburuk apapun perasaan Anda saat ini. Bernyanyilah seperti Mr. Paijo. Tapi ya, percuma juga kalau musik yang diputar bernada sedih dan berlirik mellow. Justru membuat spiraling down Anda bertambah parah.

Pilihlah lagu-lagu yang lebih rancak, dengan lirik yang lebih positif tentunya. Mungkin Anda lebih memilih lagu-lagu rohani? Atau berdzikir dan menggumamkan nama Tuhan? Apapun itu, nikmatilah. Nikmati lagunya, dan bergembiralah. Bernyanyilah, hingga hati Anda ikut bernyanyi bersamaNya.

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements