Saya pernah bekerja di sebuah lembaga yang khusus menangani pendidikan pra sekolah. Metodenya unik. Setiap guru harus belajar dengan cara main-main, karena selain memicu kreativitas, juga agar main-main ini meresap ke perilaku masing-masing guru. Diharapkan bila sudah meresap, para guru ini dapat dengan spontan mengemas pelajaran dengan cara bermain kepada murid-muridnya.

Setiap guru yang baru bergabung pasti kaget dengan cara ini. Mereka dipaksa belajar sekaligus bermain, mereka dipaksa melupakan aturan-aturan formal mengajar seperti halnya di institusi pendidikan pada umumnya. Sehingga kebanyakan, para guru baru ini bekerja keras membuat format bermain yang pas untuk menyampaikan pelajarannya.

Ada seorang guru baru yang tampak cemas di ujung ruangan. Kaki kanannya terus terusan bergerak. Karena dia duduk, otomatis kursi yang ditempatinya ikut berdecit mengikuti irama kakinya. Kami yang kebetulan sedang berada di ruangan itu, merasa terganggu dengan suara itu. Dasar guru-guru di tempat ini, kami mengingatkan dengan cara yang bercanda pula, “Duh, malam minggu kok galau, sih, Mba. Si suami gak pulang, ya? Sampai keliatan cemas gitu..,” seisi ruangan ketawa.

“Enggak, ini lho, Mba,” jawabnya, “mau dikemas kayak gimana lagi, ya? Saya nggak ada ide, nih.” Dia lalu bercerita mengenai content pelajaran yang ingin disampaikan, lalu mengeluhkan tentang cara delivery-nya. Menurut kami, caranya sudah cukup bagus untuk guru pemula. “Tapi rasanya masih ada yang kurang, Mba,” jawabnya.

Dan rasa kurang itu memicu kecemasannya semakin memuncak.

Seperti yang saya pernah cerita di postingan sebelumnya, hanya orang-orang yang paranoid produktif yang mampu bertahan hidup. Sementara kecemasan sendiri adalah bentuk emosi negatif yang bisa diolah menjadi sumber motivasi, misalnya untuk menyelesaikan pekerjaan kita agar lebih baik dari sebelumnya. Namun, sebagian orang yang “over-motivated” justru tampak perfeksionis dan cenderung menunda-nunda untuk segera take action, seperti si guru baru yang saya ceritakan ini.

Memang, ngomong sama orang perfeksionis kadang tak ada ujungnya. Mereka selalu ingin tampil sempurna, tampil lebih baik, dengan melakukan antisipasi-antisipasi hingga detil, sehingga mustahil orang lain mampu berencana ke arah sana. Mereka seakan-akan dikaruniai otak yang mampu memikirkan hal-hal detil yang terluput oleh orang biasa.

Sayang seribu sayang, mereka yang perfeksionis malah tidak pede ketika take action. Karena over-anticipated nya, mereka menjadi terlambat dalam mengambil langkah. Mungkin slogannya sama seperti di bus-bus dan angkot jaman dahulu, “biar lambar asal selamat”.

Sejuta cara tidak akan mempan untuk membuat mereka ikhlas dengan ketidaksempurnaan kinerja mereka yang sekarang. Mau rayuan gombal apapun, mereka tidak bergeming ketika mendengar kata-kata “tidak sempurna”. Sayangnya, sikap ini justru menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri.

Selain dianggap lambat mengambil keputusan, juga karena banyak hal-hal menyenangkan yang mereka lewatkan jika tidak bersegera take action, mereka juga mengalami kecemasan masif karena bertumpuk-tumpuk dalam pikirannya. Kecemasan itu tidak kunjung selesai karena mereka tidak mau sedikitpun terlepas dari apa yang sedang mereka kerjakan. Akhirnya, mereka bisa memikirkannya sampai berhari-hari. Mirip obsessive-compulsive lah.

Karena itu, untuk bernego dengan mereka, saya justru mendorong mereka untuk membuat target setinggi-tingginya. Mereka pasti setuju dengan target yang tinggi itu. Setelah mereka tampak puas men-setting target tinggi, maka saya minta mereka men-setting waktu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ke sana? Berapa lama pun waktunya, terserah, saya tidak perlu mengkritik.

Setelah waktu ditentukan, maka saya minta mereka mem-break down target tadi menjadi target kecil-kecil. Kalau perlu target jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek. Lalu saya minta mereka membubuhkan alokasi waktu untuk masing-masing target. Kalau perlu dicocokkan dengan sumber daya yang mereka punya, apakah target tersebut realistis atau tidak.

Karena mereka mudah kecewa dengan kata “gagal”, maka sejak awal disiapkan rencana cadangannya. Lalu, minta mereka mendeskripsikan disebut “sukses” itu apabila target tercapai minimal berapa persen, dan disebut “gagal” apabila target tidak tercapai maksimal berapa persen. Di antara itu, masih disebut sukses. Cara ini cukup efektif untuk “menyangkal dugaan” apabila mereka mulai menganggap usahanya gagal.

Meminta mereka untuk melakukan goal-setting memang cukup mudah. Mereka secara otomatis melakukannya. Namun kalau diminta melakukan ego-setting, agaknya kesulitan. Dan tidak otomatis.

Menetapkan target sangat perlu, lho. Ada resolusi tahun baru, resolusi ulang tahun, resolusi anniversary pernikahan, dan sebagainya. Target ini membuat kita lebih jelas dalam menjalani hidup, dan membuat hidup kita terasa lebih bermakna. Karena ada yang kita kejar.

Namun, melakukan goal-setting hendaknya dibarengi dengan ego-setting. Ego-setting ini diperlukan ketika menyadari goal kita rupa-rupanya bergesekan dengan orang lain. Rupanya membuat orang lain dirugikan. Atau melanggar etika tertentu. Atau yang paling sering, tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Karena kadang, apa yang kita rencanakan belum tentu baik buat kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan rencana terbaikNya untuk kita. Karenanya, cut your ego yang terlalu tinggi itu, agar tidak terlalu kecewa.

Ego-cutting dibutuhkan ketika kita harus berbesar hati menyadari kesalahan, lalu mengambil jalan memutar untuk mencapai tujuan. Ego-cutting dibutuhkan untuk berbesar hati berkolaborasi dengan orang lain—karena dengan silaturrahim sering membuat kita lebih cepat dalam mencapai goal. Ego-cutting diperlukan ketika kita harus berbesar hati memaknai, bahwa sebenarnya Allah berkuasa penuh terhadap hasil akhir yang telah dicukupkanNya untuk kita. Ego-cutting dibutuhkan untuk menyadari bahwa bukan hasil akhirlah yang menjadi tujuan kita, melainkan proses yang justru mendewasakan kita.

So, set your goal and cut your ego!

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements