Yang menyebalkan ketika masuk ke perkampungan adalah, jalan tiba-tiba ditutup karena hajatan dan kita harus mencari jalan lain agar bisa masuk. Sejak menikah setahun lalu, saya dan isteri memutuskan kontrak rumah di daerah ini. Dibandingkan kosan waktu bujang dulu, daerah ini memang agak lebih jauh dari tempat saya bekerja, namun cukup nyaman untuk menjauh dari hiruk pikuk rutinitas.

Kendalanya cuma satu: jalan menuju rumah kontrak ini hanya bisa dilalui satu setengah mobil. Kalau ada dua mobil berpapasan, salah satu harus menepi dengan ekstra hati-hati, karena kalau tidak, akan masuk selokan di pinggir jalan. Otomatis, dengan jalan sesempit ini, ketika ditutup untuk hajatan, maka mau tak mau harus mencari jalan lain agar bisa masuk.

Bodohnya, saya tidak menggubris peringatan di depan jalan tadi. Saya sebenarnya melihat tulisan “ada kegiatan”, namun saya memutuskan tetap masuk dengan asumsi panjang tenda hajatan ini tidak akan menutupi gerbang jalan masuk menuju kontrakan saya. Malam sebelumnya, saya sudah melewati jalan ini, dan menghitung panjang rangka tenda tidak sampai menutupi jalan masuk kontrakan saya.

Ternyata, hitungan saya meleset. Panjang tenda memang tidak bertambah, namun ada area yang dikosongkan melebihi tenda untuk parkir kendaraan. Otomatis, jalan menuju kontrakan tertutup. Satpam di dekat tulisan “ada kegiatan” tadi tetap mempersilakan saya masuk, secara saya terlihat memakai pakaian resmi sepulang dari on air di televisi lokal sore tadi. Mau tidak mau, saya turun dari mobil, dan minta tolong pak satpam untuk membantu saya keluar dari sini.

Ah, susahnya minta ampun. Mau mundur, kendaraan tamu di belakang saya sudah terlanjur masuk. Mau parkir, malah makin susah keluar kecuali acara selesai nanti. Untung isteri saya mengabarkan dirinya akan sampai di rumah agak malam dari dinas luar kota, sehingga saya tidak terburu-buru menjemputnya sore ini. Lalu, apa saya masuk aja sebagai tamu mempelai dan menikmati acaranya? Ya nggak gitu juga kalee.

Dalam hidup, seringkali kita mendapati peringatan-peringatan yang mengharuskan kita segera putar balik. Mencari jalan lain yang lebih mudah. Namun dengan berbagai macam alasan, kita tetap meneruskan perjalanan ini, berharap sampai di tujuan seperti yang dicita-citakan.

Saya tidak mengkritik apa tujuannya, namun saya menyoroti cara kita mencapai ke sana. Kalau memang harus sedikit memutar, kenapa tidak? Toh sama-sama sampai di sana. Sama-sama mencapai tujuan. Karena jalan yang kita lalui sedang banjir, banyak lubang, sehingga rawan kecelakaan.

Saya teringat kisah dari seorang sahabat saya yang sama-sama menggeluti dunia training. Pelatihan, maksud saya, bukan celana training lho ya.. emangnya saya penjahit, hehe. Dia bercerita tentang salah satu penggagas Neuro Linguistic Programming (NLP), Richard Bandler, dengan muridnya, Anthony Robbins yang kita kenal dengan firewalk training-nya.

Robbins mengenalkan aplikasi teknik incantation dalam NLP kepada gurunya. Incantation, dalam bahasa Indonesia yang berarti mantera, jampi, bacaan-bacaan. Incantation ini semacam afirmasi positif yang diulang-ulang agar dalam pikiran kita benar-benar terbentuk seperti yang kita inginkan. Dengan membentuk pikiran yang positif terhadap suatu hal, maka kita bisa make it happen di dunia nyata.

Dengan afirmasi positif ini, seseorang tidak akan merasakan panasnya api. Malah pada orang-orang yang suggestible, bisa membuat api itu memiliki sensasi dingin. Inilah yang digunakan dalam firewalk training, melatih afirmasi positif dari peserta agar dalam kehidupan sehari-hari bisa menggunakan teknik ini untuk membuat hal-hal yang baik bekerja dalam hidupnya.

Namun apa komentar Bandler? “Kalau kamu mau belajar NLP, ngapain susah-susah. Jalan di pinggirnya aja, menghindari api, jelas-jelas dingin dan tidak berbahaya. Kalau tujuannya sama, niat baiknya sama, ngapain nyusahin diri pake repot-repot jalan di atas api?”

Saya tidak menganjurkan mengambil jalan yang gampang, kalau ternyata jalan yang gampang itu malah mengantarkan kita dimurkai sama Allah. Kalau begitu sih, ya sama aja kayak jalan di atas bara api. Namun maksud dari tulisan ini adalah sebagai kritikan bagi mereka yang sudah tahu bahwa jalan yang dilalui akan membahayakan dirinya, namun masih bimbang memutuskan mau pergi atau tidak.

Segera putar balik!

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements