If go with you is a mistake, i’d rather go wrong to be with you.” – anonim.

Suatu ketika seorang klien, sebut saja Mba EM, mengeluh sikap suaminya yang makin lama semakin sering pulang terlambat karena lebih memilih sibuk di luar. Entah apa yang dilakukan suaminya di luar sana. Alasannya sih karena bertemu pembeli. Namun Mba EM mencurigai suaminya berselingkuh.

“Apa yang membuat Mba EM berpikir demikian?”

“Dia pernah selingkuh, Dok. Tentunya sangat mungkin sekarang ini dia berselingkuh lagi, ‘kan?”

“Mba EM tadi cerita, bahwa kejadian selingkuh itu ada sekitar empat tahun yang lalu. Selama empat tahun ini, apa yang membuat Mba menduga suaminya berselingkuh lagi?”

“Suami saya makin tidak sayang sama saya, Dok.”

“Tidak sayang bagaimana, Mba?”

“Ya dia nggak seperti dulu lagi, Dok. Dulu dia suka nggombal gitu, Dok. Sekarang nggak suka nggombal. Tapi lebih sering nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi. Kayaknya seru dan seneng banget waktu suami saya nyanyi. Kalau sudah keluar kamar mandi, kayaknya kok ekspresinya datar lagi. Keluar kamar mandi yang dilihat saya. Kayak susah gitu wajahnya kalau ketemu saya, Dok.”

Betapa seorang isteri sangat sensitif terhadap perubahan sikap yang demikian kecil, ya. Mereka, para isteri, dianugerahi perasaan yang halus hingga bisa merasakan hal-hal yang kecil ini. Sayangnya pihak suami menjadi kurang aware dan menganggap isteri tak lebih dari makhluk yang penuh keluhan. Ah, gap komunikasi ini harus sering-sering dijembatani, ya. Tidak perlu orang lain yang menjembatani, cukup diri sendiri saja.

Lanjut cerita, Mba EM, flashback ke masa-masa pertemuannya dengan suami. Suaminya dulu adalah seorang pemabuk. Mereka berdua adalah tetangga desa, sehingga sebenarnya cukup mengenal sejak mereka masih muda. Mba EM menganggap suaminya adalah perusuh, dan suka bikin keributan.

Namun ada titik balik di masa-masa remaja suaminya. Ayahnya meninggal mendadak, tidak sempat berwasiat apapun. Sementara ibunya tenggelam dalam kesedihannya, tidak mampu bangkit untuk membiayai lima orang anaknya. Suami Mba EM adalah anak kedua, dan saat itu segera memutuskan bersama kakak tertuanya untuk meneruskan usaha bakso ayahnya.

Karena mereka berdua masih kecil, mendorong gerobak bakso rasanya sangat tidak mungkin. Akhirnya diparkirlah gerobak bakso di bagian depan rumah, sementara ruang tamu disulap menjadi warung. Halaman depan untuk parkir motor. Satu bulan dua bulan, ternyata hasilnya lumayan. Usaha ini berlanjut sampai sekarang, dengan hak usaha dipegang oleh dua bersaudara ini.

Mba EM terkesima dengan cerita ini. Itulah yang membuatnya jatuh cinta, ketika si paman calon suaminya datang ke rumah melamar Mba EM untuk keponakannya. Mba EM sebenarnya juga mengetahui kalau calonnya masih punya kebiasaan mabuk, dan pada saat-saat tertentu senang pergi ke karaoke, bergendang gendut ditemani perempuan-perempuan malam.

“Tapi itu masa lalu suami saya, Dok,” kilah Mba EM, “saya percaya dia bisa berubah. Sampai sekarangpun saya masih percaya. Ada setitik kebaikan yang masih tersimpan dalam diri suami saya. Dan saya harus mempercayai adanya kebaikan itu. Meski sekarang terasa sulit, tapi saya harus mempertahankan rumah tangga ini.”

Saya terkesan dengan sikap Mba EM. Sengaja tidak saya ceritakan di awal, bahwa Mba EM ini terdiagnosis HIV positif sejak satu tahun yang lalu. Beruntung, kedua anaknya tidak. Kedua anaknya berusia masing-masing tiga tahun dan dua tahun. Mba EM menyimpulkan, jika kedua anaknya tidak terdampak, berarti memang infeksi ini dia dapatkan baru-baru ini, sebelum anaknya lahir. Inilah yang membuat Mba EM menduga bahwa suaminya selingkuh.

“Mau bagaimana lagi, Dok. Semua sudah terlanjur. Saya sudah positif (HIV, red). Tapi suami saya tidak mau periksa. Dia malah makin jutek sama saya. Padahal saya ini tidak pernah keluar rumah yang nemen kayak suami saya lho, Dok. Dan saya cuma berhubungan dengan suami saya. Demi Allah tidak pernah sama laki-laki lain. Cuma suami saya yang menyentuh tubuh saya. Berarti suami saya yang selingkuh kan, Dok?”

“Saya kalau boleh memilih, dan bisa mengulang kembali masa lalu, tidak akan saya terima lamaran suami saya, Dok. Kalau tahu akan begini kejadiannya, saya akan jauh-jauh dari suami saya. Tidak akan saya terima, Dok.. tidak akan saya terima..”

Selama sesi konsultasi, cukup sering Mba EM berdebat dengan dirinya sendiri. Betapa suasana perasaannya mudah naik, lalu terhempas kembali. Betapa ia menyesali masa lalu, namun sesaat kemudian bisa menenangkan diri dan bersikap dewasa.

Satu-satunya alasan Mba EM saat menerima lamaran suaminya dulu adalah: karena cinta.

Setelah kejadian ini, Mba EM menyimpulkan bahwa cinta saja tidak cukup. Bahkan ia merasa, ia telah ditipu oleh cinta. Cinta membuatnya buta. Atau ia sendiri yang sengaja membutakan mata dan hatinya, agar bisa mencintai?

Karena sebenarnya, jika mau melihat dan memahami, sebenarnya yang harus dia lakukan saat sebelum menikah adalah: lebih mencintai dirinya sendiri, sehingga tidak perlu melibatkan diri dalam urusan yang merepotkannya di kemudian hari.

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements