Seekor kerbau, senang berkubang dalam lumpur untuk membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran. Kutu, yang cukup parasit untuk kulitnya itu, akan terkikis bersama kulit arinya ketika berkubang dalam lumpur. Kerbau tidak bisa mengandalkan burung untuk membersihkan keseluruhan kutu di tubuhnya. Kalaupun bisa, kurang cepat. Keburu gatal. Kalaupun cepat, kurang bersih. Masih gatal.

Maka hewan-hewan seperti kerbau, gajah, dan babi perlu mencari lumpur tempat mereka berkubang membersihkan diri. Mereka juga membutuhkan lumpur untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap dingin dan lembab. Kalau pakai air biasa, akan mudah menguap. Kalau pakai lumpur, maka kelembabannya bisa dijaga. Yang jadi masalah kalau lumpur itu mulai mengering. Maka hewan-hewan ini membutuhkan cadangan lumpur lagi untuk berguling-guling membersihkan dan melembabkan tubuhnya.

Rupanya, metode membersihkan diri dengan lumpur ini ibarat menyelesaikan masalah tanpa solusi. Maunya selesai, namun usaha yang dipakai terlalu instan. Memang, menggunakan lumpur adalah cara mereka untuk mensiasati keterbatasan air, terutama di musim kemarau. Sehingga dibiarkannya air itu bercampur dengan tanah. Namun justru membuat masalah yang lebih besar ketika lumpurnya mengering.

Ya. Menyelesaikan masalah tanpa solusi. Usaha yang dipakai terlalu instan. Seperti Pak Dahlan Iskan. Lho, kok gitu? Apa kemudian saya menyamakan beliau dengan hewan-hewan itu? Oh, tidak. Tidak. Tentu tidak. Saya ngefans banget sama beliau, dan saya samasekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan beliau.

Namun bergabungnya beliau di konvensi Partai Demokrat saya anggap sebagai berkubang dalam lumpur. Menyelesaikan masalah tanpa solusi. Terlalu instan. Banyak yang mendukung Pak Dahlan menjadi presiden dari jalur non-partai (termasuk saya), namun terganjal aturan yang mengharuskannya maju melalui partai. Sayangnya partai yang dipilih adalah Partai Demokrat.

Saya menjadi enggan menjabarkan apa yang membuat saya menyayangkan Pak Dahlan masuk partai penguasa ini. Skandal SKK Migas, Kasus Impor Beras, Harga Elpiji 12 kg yang tarik-ulur tidak menentu, hingga masalah BPJS dan tunjangan kesehatan pejabat untuk berobat ke luar negeri—yang akhirnya dibatalkan sendiri oleh presiden setelah kurang dari seminggu ditandatangani. Konvensi Capres Partai Demokrat sendiri pun banyak menuai kritik di internal partainya sendiri. Belum lagi simpang siurnya harga kedelai dan cabai waktu itu.

Dan Pak Dahlan berada di tengah-tengah mereka? Ibarat berkubang dalam lumpur, Pak. Saya yakin Pak Dahlan orang baik. Punya jajaran orang-orang baik pula. Punya pendukung-pendukung yang tak hanya setia, tapi juga baik, karena sebagian besar dari mereka paham visi dan misi Pak Dahlan. Coba lihat, ketika Pak Dahlan diundang ke konvensi waktu itu. Banyak yang berkomentar, “Ini konvensi capres Partai Demokrat atau konvensi capres Dahlan?” Haha..

Kehadiran Pak Dahlan di konvensi itu sepertinya tidak akan membantu mendongkrak nama Partai Demokrat yang memang elektabilitasnya sudah turun. Malah, Pak Dahlan yang akan jadi sasaran tembak oleh pihak-pihak yang memang menginginkan Pak Dahlan tidak memenangi konvensi itu. Bahkan, Pak Dahlan sudah menulis sebuah surat yang kurang lebih berbunyi seperti ini,

“Dengan ini saya menyatakan agar panitia tidak ragu-ragu dan langsung mencoret nama saya dari daftar peserta konvensi manakala panitia berkeyakinan bahwa pengaduan tersebut benar adanya.”

Saya paham, mungkin surat itu bentuk kemarahan Bapak atas sejumlah kasus yang dialamatkan kepada Bapak. Banyak pihak yang “mendadak muncul” untuk mengungkap dosa-dosa Bapak. Apapun alasan mereka, bapak lebih memilih berkomentar, “Sebaiknya saya lebih banyak bekerja daripada menanggapi fitnah.”  Sungguh, saya lebih setuju Bapak dicoret dari kepesertaan konvensi tersebut.

Bersabar sajalah, Pak. Dukungan kepada Bapak sepertinya tidak akan surut. Suara-suara sumbang itu biarlah ada di sana. Itung-itung, membuat kita lebih waspada. Masih banyak orang yang bakal mendukung Bapak.

Kita tahu juga bahwa kans Bapak untuk maju dari jalur independen masih terbuka di 2019. Tidak perlulah berkubang dalam lumpur bersama mereka. Selama 5 tahun ini mari berfokus untuk bekerja, Pak. Kerja, kerja, kerja.

Bagaimana menurut Bapak?

Bagaimana menurut njenengan, wahai pembaca?

Advertisements