Tahun baru kemarin baru pertama kalinya warga Surabaya menikmati perayaan tahun baru yang tidak biasanya, dimana walikota kami mengosongkan empat ruas jalan utama untuk Car Free Night. Ketika menikmati hiruk pikuk tahun baru lalu di salah satu ruas jalan, salah seorang kolega saya berkomentar, “Bu Risma ini manajemennya kayak manajemen tukang cukur. Semua dikerjain sendiri.”

Saya sengaja berhenti lebih lama di tempat beliau berada. Mumpung beliau adalah punggawa properti dan pemegang hak franchise salah satu lembaga bimbingan belajar di Surabaya, saya ingin mendengar ocehannya tentang perjuangan beliau merintis bisnis. Pembicaraan kami mulai dari start up bisnis yang baik, menyewa tempat, prosedur pembebasan lahan oleh pemkot, hingga berujung tentang Bu Risma.

Bagi Anda pebisnis pemula, pasti familiar dengan istilah ini: Manajemen Tukang Cukur. Semua dilakukan sendiri, mulai dari promosi, mencatat berapa jumlah pelanggan yang datang, menerima pembayaran, memberi uang kembalian, menyapu sisa-sisa guntingan rambut, edukasi tentang creambath dan shampoo yang baik, semua dilakukan sendiri.

Beliau juga mengomentari profesi saya sebagai dokter. Manajemen Tukang Cukur itu dilakukan juga oleh dokter. Saya juga merasa, saat pertama kali membuka praktek, semua dilakukan sendiri. Mulai dari memasang plang nama dokter, memeriksa pasien, menulis resep, membuat racikan obat, menerima pembayaran, dan mengatakan “silakan datang kembali” seperti mba-mba di Indomaret.

Kolega saya berkomentar, “Kalau seperti itu hati-hati, bisa membuat kita tidak mudah percaya sama bawahan karena menganggap mereka tak sesempurna kita. Padahal ‘anggapan mereka tidak sempurna’ hanyalah bentuk dari ego kita pribadi yang tidak mudah puas. Padahal tugas pemimpin bukan hanya menyelesaikan suatu pekerjaan, melainkan mendidik dan melatih orang-orang di bawahnya.”

“Seorang pemimpin itu tak ubahnya guru, yang kata orang Jawa digugu lan ditiru—disegani dan diteladani. Apa jadinya kalau semua hal kita kerjakan sendiri? Selain bawahan kita semakin malas karena merasa ‘ah, nggak perlu saya, toh si bos bisa ngerjain semuanya,’ juga suatu saat kita akan lelah sendiri.”

Ini yang saya kenal sebagai burn out. Merasa sensitif, mudah emosi, karena merasa beban kerja terlalu banyak. Bukan sekedar overload—kalau overload biasanya soal manajemen pikiran aja. Tapi kalau burn out, rasanya hati ini ingin marah, dan rasanya mulut ini pengen makan orang. Itulah burn out. Anda pernah merasa seperti itu? Mungkin manajemen Anda masih tergolong seperti saya dan Bu Risma, Manajemen Tukang Cukur.

Namun sejak beberapa kali penampilan Bu Risma di layar kaca, pandangan saya kepada beliau berubah 180o. Bagaimana tidak. Justru dengan turun sendiri ke lapangan, mendampingi anak buahnya, melihat segala sesuatu dengan mata kepala sendiri, sebenarnya beliau sedang menjadi seorang guru—digugu lan ditiru. Menjadi sosok yang disegani dan menjadi teladan. Beliau mencontohkan sendiri menjadi leader yang memahami kondisi lapangan, mendengar langsung suara rakyat, memahami kesusahan anak buahnya, dan memastikan bahwa anak buahnya nyaman bekerja sesuai protap.

Dengan masa jabatan yang cukup pendek, Bu Risma ingin mengejar target agar banyak hal yang bisa dilakukan untuk warga Surabaya. Sebelum terpilih sebagai walikota, latar belakang beliau sebagai orang tata kota membuat beliau cukup akrab dengan program-program tata kota untuk membuat Surabaya semakin nyaman dengan suasana kotanya.

Sebagai seorang wanita, Bu Risma juga cukup berempati terhadap hak-hak wanita yang sedang terenggut di suatu tempat di Surabaya. Yakni di Dolly. Beliau sangat concern untuk mengentaskan kaum-kaumnya dari lokalisasi tersebut. Beliau bersikeras untuk menutup, dan melakukan rehabilitasi terpadu untuk ‘menyelamatkan’ kaum-kaumnya di sana. Atas usahanya ini, banyak teror yang beliau terima, baik secara pribadi maupun kepada keluarganya.

Bagi Anda, warga Surabaya atau bukan, saya mohon dukungannya untuk terus dukung Bu Risma menjadi walikota Surabaya, dan menyelesaikan tugasnya sebaik-baiknya. Jika Anda pengguna twitter, perbanyaklah nge-hastag: #SaveRisma

Jarang orang baik seperti ini bersedia mengambil pucuk pimpinan dan tanggung jawab yang besar. Kebanyakan pejabat getol berkoar ketika kampanye, namun saat menjabat, lupa sudah janjinya. Malah membuat program-program mercusuar demi pencitraan diri, dan tidak banyak manfaatnya untuk rakyat. Ada juga yang sampai bikin album lagu. Capek dehh..

Tentu saja model leadership seperti Bu Risma ini tidak bisa diterapkan saklek kepada semua pucuk pimpinan. Bergantung situasi dan kondisi. Manajemen Tukang Cukur ini juga dapat menumbuh-suburkan rasa tidak percaya antara pimpinan dengan bawahan. Apa yang terjadi seputar program BPJS dan kenaikan harga Elpiji menjadi contoh kasus yang baik. Ingat apa yang dilakukan presiden kita waktu itu?

Kurang dari dua minggu setelah menandatangani perpres tentang fasilitas pejabat untuk gratis berobat ke luar negeri, presiden segera membatalkannya. Alasannya, keputusan ini menyakiti hati rakyat. Emang nggak dibaca dulu sebelum teken, Pak?

Saya memahami posisi beliau, sih. Karena yang diurusi orang sak-Indonesia, makanya beliau sah-sah aja menaruh kepercayaan yang besar terhadap bawahannya. Beliau sedang tidak menerapkan Manajemen Tukang Cukur, lho. Namun apa yang terjadi pada saat itu? Apakah beliau tidak mempercayai anak buahnya, dan merasa ditelikung karena draft yang diajukan tidak sesuai asas keadilan sosial?

Demikian juga pada saat kenaikan harga elpiji. Pertamina (sejak dulu) menerima amanah sebagai lembaga negara yang bertugas mendapatkan profit. Wajar jika mindset pimpinannya adalah mengefektifkan produksi, mengurangi beban yang tidak perlu, untuk menghindari rugi. Jika dimungkinkan, Pertamina akan menaikkan profit sebagai sumber kas negara.

Untuk diketahui, total kerugian Pertamina adalah 6,7 triliun per tahun. Jadi, wajar dong jika harga elpiji dinaikkan, untuk menutup kerugian. Toh yang dinaikkan adalah 12kg, bukan elpiji 3kg yang masih bersubsidi. Kebanyakan konsumen elpiji 12kg adalah masyarakat menengah ke atas, sementara konsumen yang 3kg (elpiji subsidi) adalah masyarakat menengah ke bawah. Mengapa banyak masyarakat jadi sewot?

Banyak yang berkomentar, “Usut dulu korupsi pimpinan Pertamina, jangan asal naikkan harga.” Pliss deh, Bro. Teliti sebelum berkoar. Negara kita ini memang negara korupsi, tapi ya nggak semua kejadian dikait-kaitkan sama korupsi. Toh saya yakin yang berkoar itu nggak ngerti-ngerti amat posisi Pertamina kayak gimana. Lagipula, dia juga bukan pengguna elpiji 12kg. Tanyain emak di rumah, pakai 3kg apa 12kg? Kalau emak di rumah pakai 12kg, lalu boleh berkoar? Nggak usah. Sarankan emak pakai 3kg aja.

Seketika, presiden membatalkan kembali keputusan Pertamina tersebut. Kemudian mengadakan dengar pendapat antar pejabat yang terkait. Banyak yang lempar batu sembunyi tangan saat itu. Siapa yang patut bertanggung jawab tentang hal ini. Pliss deh, Pak. Kita sedang mencari solusi, bukan mencari kambing hitam. Untuk memecah kebuntuan ini, salah seorang angkat bicara.

“Ya sudah. Saya yang salah. Saya Menteri BUMN, saya yang mestinya bertanggung jawab atas semua ini. Saya yang salah,” ujar Pak Dahlan.

Saya tidak tahu apa yang dimaksudkan Pak Dahlan mengatakan hal itu. Banyak orang yang berkoar, Pak Dahlan tak ubahnya membangun citra diri. Hei, tumben caranya seperti itu. Biasanya kalau pejabat membangun citra diri adalah dengan hal-hal yang baik. Namun Pak Dahlan menimpakan semua kesalahan kepada dirinya. Mengapa beliau melakukan itu?

Kemudian, beberapa saat sebelum postingan ini dipublish, ada berita bahwa kantor Bu Risma telah dikosongkan. Mungkin tidak hanya Pak Dahlan yang berkubang dalam lumpur, Bu Risma juga. Mungkin Pak Presiden juga. Mereka sebenarnya orang baik, sayangnya tidak berada di lingkungan yang benar-benar baik.

Lalu, kepada siapa kita akan meletakkan harapan di pemilu nanti? Bagaimanapun bagi saya, golput bukan pilihan. Saya tidak akan menunggu ‘mereka’ menyiapkan negara untuk saya. Saya sendiri yang harus menyiapkan negara untuk saya, teman-teman saya, guru-guru saya, dan terpenting, keluarga saya. Maka, saya harus berpartisipasi aktif.

Jangan sampai orang-orang baik seperti Pak Dahlan, Bu Risma, mungkin juga pak presiden, berkubang dalam lumpur. Jangan sampai karena hal itu, mereka terpaksa menerapkan Manajemen Tukang Cukur.

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements