‘Bencana’ bisa ditulis ulang menjadi ‘Rencana’. Kalau tidak mampu membuat ‘Rencana’ maka jadilah ‘Bencana’. Kalau mampu belajar dari ‘Bencana’, jadilah ‘Rencana’. Tetap saja, kalau hanya sebatas ‘Rencana’ dan tidak dikerjakan, maka datanglah ‘Bencana’. – Hafid Algristian, dr.

Ini cerita tentang hari Jumat kemarin, yang bertepatan pada tanggal 14/02/2014.

Selama ini kita—mungkin saya aja kali’—selalu mengidentikkan hujan dengan sesuatu yang sedih, sayu, kurang bersemangat, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Feeling blue lah, pokoknya. Mungkin terpengaruh film India ya. Ketika tokoh utamanya sedih, selalu ditampilkan adegan berlari di tengah hujan. Katanya, hujan bisa menutupi air matanya, dan menyembunyikan kesedihannya.. Lalala ~

Ternyata hari ini, saya belajar sesuatu yang berbeda. Bahwa, seperti kata om Chrisye, tak selamanya mendung itu kelabu. Tak selamanya hujan itu sayu.

Selepas salat subuh pagi tadi, langit fajar yang biasanya biru jadi coklat menguning. Matahari pun seperti senter yang dinyalakan di balik kabut. Rupa-rupanya, seperti yang diberitakan semalam, ada kemungkinan abu vulkanik Gunung Kelud sampai di sini karena mengikuti arah angin. Ah, jadwal cuci baju jadi tertunda. Beberapa jemuran pun jadi tersaput debu. Ini masih belum seberapa.

Ketika saya keluar, keramik teras depan yang bercorak merah-oranye, jadi berwarna putih. Jalanan, pepohonan, dan mobil-mobil warga yang diparkir di depan rumah pun berwarna putih-coklat. Titik-titik abu masih beterbangan di udara. Kata broadcast message yang santer sejak subuh tadi, abu vulkanik ini tidak boleh dihirup dan tidak boleh dikucek jika kena mata. Kesimpulannya, harus pakai masker dan kacamata sebagai antisipasi.

Beberapa daerah di Jawa Timur terdampak lebih parah dibanding Surabaya. Tayangan di tipi itu menunjukkan betapa jalanan di Madiun, Pujon, bahkan Magelang, Yogyakarta, Bandung, dan NTB, terdampak abu vulkanik Gunung Kelud yang ada di Kediri, Jawa Timur. Bandara Internasional Juanda terpaksa tutup karena fenomena alam ini. Aplikasi cuaca Nightstand di iphone pun tertulis “Surabaya: Blowing Sand”. Wow.

Saya mengeluh teras depan dan jemuran jadi tidak bersih, mobil dan udara jadi kotor karena abu vulkanik.. Tarpi setelah melihat berita di tipi, saya merasa betapa tidak pantas mengeluh karena saudara-saudara kami di sana mengalami yang lebih berat dari saya. Ah, saya merasa tertampar *plakk* ..sama tipi *bayangin tipi bisa nampar*

Sampai di rumah sakit (dinas saya di rumah sakit), saya dengar banyak tim siaga bencana yang sudah mengontak sejawat dokter dan tenaga medis yang ada di sekitar Gunung Kelud. Beberapa teman-teman isteri saya sebagai dokter internship pun mulai menggalang bantuan untuk pengungsi Gunung Kelud di Kediri. Kabarnya di beberapa kota yang terdampak abu vulkanik, stok masker telah kosong. Untuk mengantisipasi hal ini, warga bisa menggunakan apapun yang cukup efektif menutup hidung dan mulut agar tidak menghirup abu vulkanik.

Khatib Jumat pun menghimbau, jika tidak kebagian masker, bisa menggunakan handuk, baju, atau sajadah sebagai penutup hidung dan mulut. Untungnya khutbah Jumat memang disetting dua kali, sehingga khatib tidak kerepotan untuk membahas dua topik ini: Valentine dan Gunung Kelud. Mungkin khatib ini sudah mempersiapkan khutbah tentang larangan perayaan Valentine bagi umat muslim, namun topik ini harus bersaing dengan kondisi Gunung Kelud sekarang ini.

Tiba-tiba terdengar gemuruh yang sangat keras di ujung sana. Jamaah salat Jumat yang baru saja bubar ini pun semburat dan beristigfar beramai-ramai. Mereka menyangka bahwa gemuruh itu berasal dari letusan Gunung Kelud. “Itu geledek, Pak. Alias petir. Semoga sekarang sedang mendung.” salah seorang nyeletuk.

“Bukan, itu pasti letusan Gunung Kelud,” sahut yang lain, yang kayaknya kebanyakan baca hoax. Semua gemuruh jadinya dianggap suara letusan Gunung Kelud. “Iya, meski itu petir, di foto letusan Gunung Kelud juga ada petir-petirnya, Pak. Serem, kan..” ujar seorang pemuda dengan rambut setengah mohawk. Kayaknya dia anak gahul dengan gadget gahul dan suka mainan chat biar gahul, dimana Line ada di gadget yang ini, BBM di gadget yang itu, dan WhatsApp ada di gadget yang lain. Jadi gampang tercemari berita hoax tentang Gunung Kelud di BBM atau WhatsApp. Kayaknya dia ini yang beraliran “no pict = hoax” sementara gambar yang dia lihat jelas-jelas hoax.

Di tengah hiruk pikuk itu, hujan turun. Turun sederas-derasnya. Jamaah salat Jumat semakin semburat, tapi sambil berteriak, “Alhamdulillah..” Abu vulkanik yang dikeluhkan dari tadi, kini terhapus hujan. Inilah yang membuat saya yakin bahwa tak selamanya mendung itu kelabu. Tak selamanya hujan itu sayu. Seperti kata Om Chrisye.

Aroma tanah yang biasanya tercium ketika hujan turun terganti dengan aroma seperti bara api yang baru saja dipadamkan oleh air. Alhamdulillah.. tidak apa-apa, tidak masalah soal aroma. Yang penting udara di Surabaya kembali lebih bersahabat. Selain Surabaya yang hujan, juga ada Gresik, sebagian tempat di Sidoarjo dan Malang.  Semoga di kota lain juga segera hujan, ya. Terutama kota-kota yang cukup parah terdampak abu vulkanik. Agar udaranya segera bersih kembali.

Sayangnya, berita tentang hujan ini tidak begitu terdengar di social media. Yang masih diberitakan adalah evakuasi, pembagian masker, dan sebagainya. Menurut saya sih, pemberitaan tentang hujan ini perlu. Selain pemberitaan pemberian bantuan, kewaspadaan dini terhadap bencana, juga hujan yang ada di beberapa daerah perlu di-blow-up. Ini salah satu bagian dari jurnalisme positif ya. Supaya masyarakat merasa punya harapan, lebih optimis, dan mau berdoa sungguh-sungguh kepada Allah untuk minta hujan. Sebaiknya pawang hujan libur dulu untuk sementara, ya.

Sepertinya beda negara beda cara pemberitaan bencana, ya. Sebuah stasiun televisi di Jepang meliput kedua orang tua yang sedang bersusah payah memperbaiki atap rumah. Mereka hanya berdua, tidak dibantu siapapun. “Apa yang Anda lakukan sekarang?,” tanya sang reporter. “Saya dan isteri saya sedang mencari cara bagaimana memasang atap kami dengan baik,” jawab orang tua itu.

“Kemana anak-anak Anda?”

“Mereka pasti sibuk membetulkan rumah mereka.”

“Wah, hebat, ya. Anda berdua sedang berusaha. Ya, silakan teruskan perjuangan Anda. Kita semuanya sama-sama berusaha, ya!”

Namun, apa yang diungkap oleh reporter di negara kita?

“Apa saja yang terpaksa ditinggalkan di rumah, Bu?,” atau, “Kira-kira, berapa kerugian harta akibat abu vulkanik ini?,” atau, “Sudahkah ada tindak-lanjut dari pemerintah terkait musibah ini, Pak?,” atau yang paling sering, “Anda sudah menerima bantuan?”

Beda pertanyaan, beda isi pikir, Kawan. Beda pertanyaan, beda pula jawaban, beda juga sisi emosi yang “diangkat” oleh pertanyaan tersebut. Kalau reporter kita punya cara bertanya seperti ini, bisa diprediksi sisi emosi sedih aja yang “diangkat” oleh mereka. Karena ini diberitakan lewat media, jadinya yang dirasakan oleh juga pemirsa ya yang sedih-sedih aja. Ya kan, ya kan..

Tak bisakah kita mengubah pertanyaan-pertanyaan ini, sehingga kita bisa menulis ulang bencana? Semua berawal dari hal yang sederhana, yakni ‘mengubah pertanyaan’. Contoh yang pernah saya tulis tentang mengubah pertanyaan agar mampu memperbaiki suasana perasaan dan pola pikir, ada di sini. (Tulisan ini ketika saya masih muda, hehe)

Mari kita simak, apa yang telah dicapai dua negara berikut pasca bencana. Antara Jepang dan Indonesia. Oiya, mengapa saya menulis kedua negara ini? Karena alasan pribadi, sih. Saya tinggal di Indonesia sekarang, dan saya pernah berkunjung ke Jepang. Saya pernah membaca beberapa tulisan orang Jepang tentang Indonesia, salah satunya “Kangen Indonesia”.

Dua tahun pasca tsunami di Aceh, bantuan pemulihan justru dirasakan banyak dari orang lain. Sesuai dengan yang ditulis di artikel ini, terjadi penurunan peran serta korban dalam menolong dirinya sendiri. Sumbernya bisa dilihat di sini (struktur pertanyaan survey-nya pun memposisikan korban sebagai pihak yang pasif). Sementara dua tahun pasca gempa di Jepang, mereka bisa membuat deteksi dini tremor lempeng bumi sebagai prediktor gempa, dan berhasil membuat struktur bangunan anti gempa.

Perbedaan yang mencolok ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Kawan. Kalau mau menulis ulang bencana, awalilah dengan menulis ulang pertanyaan-pertanyaan yang menyertai kejadian tersebut.

Alkisah, seorang hamba berkeluh kesah kepada Tuhan atas bencana yang Dia turunkan kepada kaumnya, “Kenapa hal ini terjadi kepada kami, Tuhan?,” Tuhan pun menjawab, “Kenapa enggak?”

Mari menulis ulang bencana!

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements