(Tulisan ini diinspirasi oleh seorang calon psikiater muda, dr.Niniek Widiandriany).

Semua orang tahu kalau mengundang hadir seorang pejabat, pasti banyak susahnya. Terlepas apa kepentingan kita mengundang dia, setidaknya perlu menyisihkan hati selapang-lapangnya kalau-kalau ada birokrasi yang rumit soal undangan itu.

Masih enak kalau si pejabat bilang tidak hadir. Sakit hatinya satu kali. Kita tidak perlu terlalu berharap karena memang dia tidak bisa hadir. Lain ceritanya kalau si pejabat bilang bisa hadir. Maka kita perlu menyiapkan jamuan ini itu. Lalu mengosongkan jadwal yang sesuai dengan jadwalnya, dengan resiko kita menukar-nukar waktu dengan pembicara lain sesuai requestnya.

Hal itu juga yang terjadi pada kami, saat menjadi panitia acara suatu perhelatan nasional akhir tahun kemarin. Kami mengundang banyak orang penting, tak terkecuali bapak yang satu ini. Kami memintanya untuk berbicara seputar pemilu tahun depan, dan hal-hal sederhana yang ternyata dapat mengubah wajah negeri ini.

Si bapak berangkat dari kantornya di Jakarta. Sudah sejak berminggu-minggu sebelumnya kami mengirim suratnya, dan beraudiensi dengan ajudannya di sana. Jadwal telah disepakati. Undangan telah di-acc untuk dihadiri. Jadilah kami mengatur acara sedetil mungkin agar tidak menyalahi kesepakatan waktu yang telah dibuat.

Nyatanya saat hari-H, si bapak mengabarkan kehabisan tiket menuju Surabaya. Beliau terancam tidak dapat hadir sesuai yang dijadwalkan. Lho, kok tidak dibeli sehari sebelumnya? Rupa-rupanya cara berpikir kami yang bukan orang sibuk ini tidak bisa disamakan dengan si bapak yang super-sibuk. Apapun bisa terjadi menjelang keberangkatannya–termasuk dipanggil presiden yang sedang “membina” partainya, atau mendadak dipanggil KPK atas perbuatan yang belum tentu dia lakukan–sehingga beliau memutuskan tidak membeli tiket terlebih dahulu.

Jadilah kami yang harus menyesuaikan jadwal. Karena si bapak bicara sebagai panelis, maka ketiga pembicara lain yang satu panel dengannya kita geser mengikuti jadwal kedatangan si bapak. Sesi presentasi ilmiah siang juga kita oper ke pagi hari. Mau tidak mau, kami harus menghubungi sekitar 25 pembicara yang merupakan guru besar dari banyak kampus ternama di nusantara.

Menjelang acara dimulai, kami sudah berhasil melakukan pertukaran setengah mati: jadwal empat orang panelis menjadi siang hari, dan jadwal 25 guru besar menjadi pagi hari. Di tengah-tengah acara pembukaan, si bapak menghubungi bahwa dirinya memohon maaf karena tidak bisa datang–yang artinya beliau tidak akan membeli tiket pesawat samasekali–dan jadwalnya akan diisi oleh perwakilan dari kantor Surabaya–yang artinya jadwal tetap bisa dilaksanakan pagi.

Whaaaaatttt??

Kami sudah menggeser dua puluh lima profesor demi Anda, dan sekarang Anda seenaknya bilang bahwa hal tersebut tidak perlu digeser??

Mau ditaruh dimana muka kami di hadapan para profesor itu?? Mending Anda konfirm tidak bisa datang maka kami tidak perlu repot-repot meluangkan jadwal untuk instansi Anda! Ingat, Pak, bukan hanya Anda yang kami urusi!

… .

Tentu saja kami tidak berkata seperti itu. Hehe..

Serasa tulang kami patah. Serasa lutut kami lepas dari engselnya. Kami tak sanggup berdiri. Kami sudah memangkas urat malu, dan merasa tak sanggup kalau harus memangkasnya sekali lagi. Kami akhirnya mengadu ke supervisor kami.

Supervisor kami berkata, “Ya mau gimana lagi, ya. Kita yang butuh beliau. Memang waktu beliau sangat sibuk, jadi kita yang banyak menyesuaikan. Untungnya sekarang sudah ada kepastian bahwa beliau menyiapkan penggantinya. Kira-kira, dua puluh lima profesor itu bisa dihubungi untuk digeser lagi?”

Ya, sebenarnya bisa, sih. Kalau mau diusahakan ya bisa. Tapi kami merasa enggan karena diombang-ambingkan. Akhirnya meski ragu, kami jawab, “Ya bisa sih, Dok.” Cuman sungkan (yang ini dalam hati).

Supervisor kami, yang juga seorang psikiater senior, mungkin menangkap kegundahan hati kami. Lalu beliau bilang, “Kejadian ini jadi sumber stres, ya. Tapi stres ini justru melatih resiliensi kita, lho. Setidaknya kalau kita sudah terlatih, besok-besok berhadapan sama stres lagi, kita tidak sampai ngedrop banget.”

Seperti yang kau tahu, Kawan. Resiliensi itu ibarat bambu yg dibengkokkan, lalu ia melenting ke bentuknya semula. Ibarat pegas yang ditekan, lalu melontarkanmu ke posisi yang lebih tinggi.

Kalau kita punya sikap yang benar terhadap stres, maka kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semacam menyuntikkan imunisasi yang membuat anak-anak demam, tapi nantinya menjadi lebih kebal terhadap penyakit. Itulah gunanya stres.

Seorang mantan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman punya metode yang unik terhadap marahnya. Adakalanya seorang presiden merasa marah terhadap hal-hal yang terjadi pada negaranya. Kalau dirasa mendesak, maka ia harus melayangkan surat agar masalah itu segera diselesaikan.

Saat dirinya harus menulis surat kenegaraan sementara saat itu suasana hatinya sedang marah, maka ia tinggalkan surat itu selama 24 jam di mejanya. Keesokan harinya, ia baca lagi suratnya. Kalau ia masih juga merasa marah, maka ia kirimkan surat itu. Kalau marahnya sudah reda, maka ia simpan surat itu di lacinya, dan ia tulis ulang surat itu dengan suasana hati yang lebih baik.

Cara ini membantunya mengenali apakah kemarahannya adalah emosi sesaat atau bukan. Kalau emosi sesaat, maka sedapat mungkin dia tidak mau bereaksi terhadap emosi itu. Kalau memang ketika dibaca lagi ia tetap merasa marah, maka memang sudah saatnya dia marah.

Para pakar neuroscience sendiri mengatakan bahwa marah (anger) adalah bentuk wajar dari emosi seseorang. Bila diekspresikan dengan sehat, maka ia bersifat konstruktif, jika sebaliknya, bisa destruktif. Maka tak jarang anger yang destruktif ini punya nama lengkap “anger-aggression” atau dikenal dengan sinonim “rage”.

Ketika seseorang memiliki dorongan “anger-aggression”, dominasi otak yang aktif adalah sistem limbik. Overaktivitas pada area ini seringkali menunjukkan ketidakmampuan dari otak depannya (prefrontal cortex) untuk mengambil keputusan. Tak ayal, seseorang yang mudah marah jarang menggunakan otak depannya untuk berpikir, sehingga keputusan-keputusan dalam hidupnya didominasi oleh emosi.

Soal menata marah ini, Rasul saw mengajarkan, “Jika seseorang di antaramu marah sedang ia berdiri, maka duduklah. Jika tidak reda kemarahannya, maka berbaringlah. Jika tidak reda, maka berwudhulah dan lakukan salat sunnah dua rakaat.”

Sebuah pepatah bijak mengatakan, “When you angry in a second, you actually lost a moment of happiness.”

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements