(Psiko = hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan; patologi = ilmu yang mempelajari tentang suatu abnormalitas; psikopatologi = ilmu yang mempelajari suatu abnormalitas yang berhubungan dengan kejiwaan).

Pernah cemburu? Apapun sumbernya, tetaplah cemburu. Mau sedikit, mau banyak.. Mau sering, mau jarang.. Tetaplah cemburu. Sayangnya, cemburu tiap orang berbeda-beda. Bisa jadi satu orang menganggap sesuatu itu menyakitkan, sementara orang lain tidak.

Seorang teman berkonsultasi, mengapa dirinya sangat mudah cemburu kepada pasangannya. Seolah-olah, dia mudah paranoid. Meski tidak pernah mengungkapkan kepada pasangannya, dia sendiri menjadi tidak nyaman dengan karena selalu berprasangka kepada pasangannya. Dan kali ini ia ingin menghilangkan prasangka itu.

Sekitar setahun lalu, dia pernah berkonflik dengan pasangannya ini. Ada pihak ketiga yang masuk dalam kehidupan mereka. Hubungan mereka sempat berguncang. Hampir mereka menyudahinya, namun mereka memilih bertahan hingga sekarang ini. Namun setelah setahun berlalu, teman saya ini belum benar-benar sembuh.

Teman saya benar-benar merasa terganggu dengan prasangka-prasangkanya. Baginya, satu tahun adalah waktu yang cukup lama. Mestinya ia sudah move on dan lebih bisa menikmati hubungan mereka. Setelah teman saya bercerita, saya membuat bagan seperti ini:

image

Bagan ini dibaca:
Ketika saya berkonflik dengan dia, dia jadi cuek, lebih sering keluar sama teman-temannya, dan pulang larut malam.

Pada awal-awal saat masih berkonflik, mereka sekuat tenaga memperbaiki hal-hal yang kurang romantis dalam hubungan mereka. Memang sulit, namun mereka terus mencoba.

Kadang makan malam rasanya hambar, tidak ada greget saat membicarakan suatu topik. Rasanya garing. Setiap malam mereka berusaha menyempatkan makan bersama. Meski kadang diam, tidak ada konversasi, mereka tetap membiasakan makan malam.

Lama kelamaan, kalau tidak makan malam bersama, tidak enak. Pelan-pelan mereka menjadi lebih intim karena ritual makan malam yang dibiasakan. It is beautiful, you know.

Akhir-akhir ini, teman saya menjadi tidak nyaman dengan perasaannya sendiri. Dia jadi mudah cemburu. Pekerjaan isterinya sudah semakin baik, dan menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Teman saya menjadi cemburu karena ritual makan malam mereka terganggu, dan mulailah luka lama tergali kembali.

Saat saya lakukan wawancara, sekarang ini, bagan itu dibaca:
Kalau dia cuek, keluar sama teman-temannya, dan pulang larut malam, BERARTI dia masih berkonflik dengan saya.

Nah, serasa tidak rasional, kan?

Inilah psikopatologi cemburu. Secara sederhana, saya gambarkan dengan peristiwa lain yang mirip. Seperti seorang wartawan televisi nasional yang pernah kami dampingi pasca tsunami 2004 berikut ini.

Wartawan ini memegangi kamera untuk merekam gelombang tsunami yang dahsyat. Parahnya, wartawan ini berpegangan pada sebuah tiang listrik untuk merekam gelombang ini melahap apapun yang dilewatinya.

Saat berada di kamp pengungsian, kami menyaksikan betapa ia trauma terhadap suara air. Ketika salah seorang relawan menyalakan keran air, dia sangat kaget lalu melompat keluar. Kami ikutan kaget.

Ketika kami lakukan pemeriksaan psikiatrik terhadapnya, ternyata didapatkan bagan sebagai berikut:

image

Pada saat terjadinya tsunami, dia mendengarkan suara air yang sangat deras. Saat ini di kamp pengungsian, dia menyimpulkan, “Jika saya mendengar suara air deras, berarti sedang tsunami.”

Proses penyembuhan cemburu teman saya yang patologis sama prinsipnya dengan penyembuhan trauma wartawan ini pasca tsunami. Hubungan antara peristiwa yang ada di dalam lingkaran harus diputuskan dari hal-hal yang ada di luar.

Salah satu caranya adalah dengan relaksasi. Tarik napas perlahan, lalu buang pelan-pelan. Rasakan tubuh Anda semakin segar saat menarik napas, dan semakin ringan saat menghembuskan napas. Fokus saja pada nafas.

Atau dengan terapi kognitif. Yakni dengan menyadari bahwa ada pikiran-pikiran otomatis yang muncul dan mencoba mengaitkan dengan peristiwa di masa lalu. Sadari, lalu coba temukan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa pikiran tersebut tidak realistis. Perbanyak bukti-buktinya.

Bisa juga dengan hipnosis. Menyentuh alam bawah sadar Anda yang menyimpan konflik tersebut, dan mengurainya pelan-pelan sesuai kehendak Anda. Ingat, jangan pilih hipnotist yang mengendalikan Anda, tapi mintalah Anda yang memegang kendali, agar jika terjadi kekambuhan, Anda bisa menyelesaikannya secara mandiri.

Teman saya ini memilih yang kedua, yakni terapi kognitif. Selain karena dia bukan termasuk orang yang percaya hipnosis, juga dia adalah seorang pencemas dan perfeksionis. Karenanya, terapi yang mengutamakan akal sehat dan alam sadar akan membuatnya lebih yakin.

Dia kumpulkan banyak bukti yang meyakinkan, bahwa pasangannya tidak sedang berkonflik dengannya. Bahwa pasangannya memang sekedar sibuk dengan pekerjaannya, tidak lebih.

Caranya mengumpulkan bukti adalah dengan mengajak pasangannya bicara, dan membiarkannya nyaman bercerita tentang pekerjaannya sebebas-bebasnya. Termasuk siapa yang flirting dengannya di tempat kerja, dan kepada siapa dia ngefans.

Awalnya memang tidak nyaman. Namun ia belajar bagaimana melakukan “radical acceptance” untuk menilai apakah reaksi cemburunya ini wajar atau tidak.

Teman saya juga belajar bagaimana mengeskpresikan cemburu dengan wajar, agar pasangannya mengerti dan tidak merasa tersinggung. Nyatanya, pasangannya makin menghargainya dan makin mengerti, karena baginya, kecemburuan teman saya ini adalah berkah bagi hubungan mereka.

Teman saya juga berkata, jika kita merasa cemburu, bukankah itu berarti kita sayang kepadanya? Kadang, kita memang tidak bisa bilang seberapa besar cinta kita kepada pasangan. Yang kita tahu hanyalah: kita cemburu, karena kita tidak mau kehilangan dia.

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements