“Saya merasa bertanggung jawab mengubahnya, menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.” -Mba FF

Suatu ketika saya mengucapkan selamat kepada seorang teman yang baru saja jadian. Saya tahu seharusnya saya tidak mendukungnya pacaran–meski saya pernah melakukannya–namun saya tahu saya tidak boleh memaksakan idealisme saya kepada orang lain.

Teman yang saya kenal di dunia media ini, menjadi cukup akrab dengan saya setelah dia diskusi tentang masalah percintaannya. Tidak seperti remaja gaul yang gampang galau, teman saya ini ingin lebih serius berpacaran. “Saya tidak ingin waktu saya habis hanya untuk mengurusi cinta yang menye-menye,” katanya.

Maklum, teman saya ini seorang wanita karir. Dia berjuang demi keluarganya, karena dia anak pertama, dan harus membantu ibunya menyekolahkan adiknya.

Ayahnya sudah wafat beberapa tahun silam. Setahun lalu ia memutuskan mengambil S2 Komunikasi di kampus yang sama dengan saya, dan dia harus menempuhnya dengan biaya sendiri, sehingga beban nafkahnya sekarang menjadi berpuluh kali lipat dibandingkan sebelumnya.

“Kalau bisa sampai nikah, Dok,” katanya saat saya tanya seberapa serius niatnya untuk menjalin hubungan kembali. Dia yakin pria yang dipacarinya ini sama seriusnya dengan dirinya.

“Tau darimana dia serius?,” tanya saya.

“Saya bisa menangkap dari perilakunya kepada saya.”

“Maksudnya?”

“Dia cemburuan.”

Oh. Saya berkomentar singkat. Pacarnya ini memang sangat jago cemburu. Kabarnya, beberapa kali si pacar protes karena menganggap teman saya terlalu dekat dengan orang lain.

“Bukannya kamu itu presenter yang harus deket sama banyak orang?”

“Iya,” jawabnya, “makanya dia sering cemburu. Dia tidak ingin saya terlalu dekat dengan orang lain.”

“Bagaimana menurutmu sikapnya yang cemburuan itu? Apa tidak mengganggu pekerjaanmu?”

“Awalnya, sih. Tapi, dengan saya menjalin hubungan dengan dia sekarang, saya pengen mengubah dia jadi lebih baik dari sekarang.”

“Lebih baik bagaimana maksudnya?”

“Ya supaya dia tidak cemburuan.”

“Sudah berapa lama kamu pacaran?”

“Baru sebulan, sih, Dok.”

“Dalam sebulan ini, gimana dia? Apa dia masih cemburuan?”

“Yaa.. Kan baru sebulan. Masih ada waktu buat ngubah dia.”

“Butuh berapa lama?”

“Nggak tahu. Ya mungkin enam bulan sampai setahun lah, ya.”

“Kalau meleset? Misalnya nantinya tidak berjalan sesuai rencanamu, dan tenyata waktu yang dibutuhkan cukup lama agar dia berubah.”

“Ya saya coba terus. Saya tidak boleh berhenti berusaha demi orang yang saya cintai.”

“Seandainya.. ya kan berandai-andai aja boleh, ya.. Seandainya kamu tidak bisa bertahan selama itu?”

“Belum tau, sih. Liat entar aja sih, Dok. Kan masa depan siapa yang tahu.”

“Kamu bisa bayangkan bagaimana masa depanmu bersama dia?”

“Asal kita saling mencintai ya pastinya bahagia, Dok. Semoga, sih.”

“Kalau ternyata di tengah-tengah perjalanan, salah satu di antara kalian berubah. Apa cinta kalian juga ikut berubah?”

“Maksudnya kami sudah tidak saling mencintai, gituh?”

“Sort of.”

“Ya putus, Dok. Berarti bukan jodohnya.”

“Kalau kamu atau dia merasa perubahan itu terjadi saat kalian sudah menikah?”

“Wah, ini yang susah. Namanya juga sudah nikah, Dok. Berarti bagaimanapun ya dipertahankan.”

“Good.”

“Yep.”

“Jadi sekarang berusahalah mengubah dia agar lebih baik. Selamat mencoba.”

“Siap, terimakasih, Dok.”

“Sama-sama.”

“Eh. Tapi bagaimana kalau dia tidak mau berubah, Dok?”

“Ya. Bagaimana menurutmu kalau dia tidak mau berubah, Mba?”

“Wah, bagaimana, ya..”

“Apa motivasimu untuk mencoba mengubah dia?”

“Ya agar dia jadi sosok yang lebih baik, Dok.”

“Kalau dia tidak berubah?”

“Ya berarti dia tidak jadi sosok yang lebih baik, Dok.”

“Sebenernya kalau dia berubah ke arah yang lebih baik, siapa sih yang diuntungkan?”

“Ya saya, Dok. Dia juga untung. Teman-temannya juga untung.”

“Kalau gitu siapa yang paling berkepentingan mengubah dia?”

“Ya dirinya sendiri sih, Dok.”

“Oke. Lalu apa sebabnya kamu mau bersusah payah untuk dia?”

“Ya karena kami saling mencintai, Dok.”

“Yakin cintamu sebesar itu?”

“Yakin, Dok.”

“Bagaimana dengan cinta dia, apa sebesar kamu?”

“Ya saya nggak tahu lah, Dok. Emang saya dukun.. Haha..”

“Haha.. Sapa tau kamu dukun. Nah, kalau kamu dukun, kira-kira tau nggak, bahwa dia tau kalau kamu ingin dia berubah?”

“Hmm, tau kali, ya. Apa nggak tau ya, Dok? Saya ragu-ragu.”

“Apa yang bikin kamu ragu?”

“Ya dia kadang-kadang mbantah saya, dan menyangkal bahwa dia cemburuan.”

“Kalau dia sendiri tidak ingin mengubah dirinya, lalu menurutmu sebesar apa cinta dia kepadamu?”

“Hmm.. Gitu ya, Dok. Berarti sebenernya dia gak cinta saya, ya?”

“Lha, situ yang dukun, kok tanya saya. Haha..”

“Ah, Dokter bisa aja.”

“Hmm.. Lalu sebenernya siapa yang paling berkepentingan untuk berubah, dia atau kamu, Mba?”

“Dia sih, Dok.”

“Lalu, apa sebabnya kamu bersusah payah untuk dirinya agar berubah?”

“Ya karena saya cinta, Dok.”

“Kalau cintanya tak sebesar cintamu?”

“Wah, susah juga, ya.”

“Jadi apa sebenarnya motivasimu untuk mengubah dia?”

“Hmm.. Apa saya yang buta ya, Dok?”

“Buta maksudnya tidak bisa melihat kenyataan, begitu kah, Mba?”

“Iya. Hmm.. Atau, saya bukan tidak bisa, tapi tidak mau melihat kenyataan ya, Dok. Sudah tau kenyataannya begitu masiiih aja menutup mata.”

“Hmm.. Mungkin benar apa yang kamu rasakan.”

“Mungkin saya aja yang keras kepala, Dok. Ngga menyadarinya dari awal. Bagaimana menurut Dokter?”

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements