“Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri, menjadi terbaik menurut versinya sendiri.” -Hafid Algristian,dr.

I’m sorry for what did happen yesterday, Mas Dok.. I’ve realized, he’s kind of that person. Lil bit of temprament. That’s why I’ve a dream, I supposed to change his personality for better future, indeed. As like usually, I beg, doanya yg terbaik ya, Dok..

Sepenggal BBM dari teman sekaligus klien saya, di suatu sore. Dalam sebuah sesi hipnoterapi, pacar teman saya ini marah. Saya dan beberapa orang di situ ditunjuk-tunjuk, lalu meminta saya sebaiknya menghipnosis orang lain saja, bukan pacarnya.

Kami meminta maaf. Kami merasa sudah meminta kesediaan teman saya, dan tidak menyangka kalau harus meminta kesediaan Mas A, selaku pacarnya. Sepanjang kami menjalani hidup, dua pihak selain klien yang kami minta persetujuan untuk tindakan medik adalah: pengampu (orang tua atau keluarga dekat), atau suami/isteri.

Jika ingatan kami tidak salah, kami tidak pernah meminta ijin kepada pacar. Tidak pernah sekalipun perlu meminta ijin kepada pacar. Entah mengapa kemudian Mas A masuk ke dalam ruang terapi, dan menunjuk-nunjuk kami setelahnya. Mungkin kasus ini termasuk pengecualian, ya.

Untung tidak di tengah-tengah terapi. Bisa berabe proses terapinya. “Tadi si Mbaknya sudah setuju, dan tanda tangan informed consent, Mas. Saya pikir itu sudah cukup,” saya mencoba menjelaskan.

Tapi Mas A tidak mau tahu. Dia terus saja bersikeras agar pacarnya tidak dilakukan hipnoterapi. Manajer saya yang sudah lebih dulu mengenal Mas A ini, kemudian tidak mau memperpanjang debat, dan meminta maaf atas ketidaknyamanan ini.

Selebihnya, manajer saya menyerahkan kepada sepasang kumbang pecinta ini untuk memilih meneruskan atau menghentikan program terapi. Dan mereka–lebih tepatnya Mas A–memilih berhenti. Oke. Kami minta dia tanda tangan di form penolakan tindakan medis.

Saya paham posisi Mas A, yang lama mengejar teman saya sampai akhirnya diterima sebagai pacarnya. Tentu hal yang sangat mengenakkan bagi orang lain–dalam hal ini saya–dan tidak mengenakkan dirinya bila pacarnya tampak lebih mempercayai orang lain meskipun semata-mata proses terapi. Saya menghormati keputusan mereka.

Sore harinya, saya menerima BBM dari teman saya. Saya pun menjawab panjang lebar:

“It is all rite. Doakan juga saya terbiasa menghadapi temen-temen yang tempramental, karena memang kerjaan saya sebagai dokter psikiatri tiap hari ya ngadepin orang dari berbagai macam karakter dan latar belakang..

“Changing his personality? Oh,no. Dont do that, dear. Dia berhak menjadi dirinya sendiri. Just accept him the way he is.

“Dont ever dream about changing person’s personality. Karena kita tidak berhak mengubah apapun dalam diri seseorang. Rasul saw sendiri pun ketika menyebarkan agama yang penuh berkah ini tidak pernah berusaha mengubah kepribadian seseorang.

“Dia ditugaskan Allah hanya sbg pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Soal mengubah karakter dan jalan hidup seseorang, Allah yg punya andil. Bukan kita.

“Menurut pengalaman klien, pasien, dan saya sendiri yang sudah menikah, changing our spouse’s personality tak ubahnya dengan ilusi-ilusi dalam pernikahan. Jika Mbak dan Masnya memang berniat serius, dont ever try or think about changing others personality.

“Ilusi itu bikin sakit hati, bikin pegel, bikin bete.. Karena tak jarang yang gagal akibat terlalu ingin mengubah karakter pasangannya. Dont ever dream about it, ya.

“After all, mencintalah dengan realistis. Karena in a relationship yang dijalani, serius gak serius, akan membentuk siapa dirimu yang sebenarnya. Dan menikah, adalah keputusan sekali seumur hidup yang besar konsekuensinya, namun besar juga pahalanya. Allah banyak menjanjikan kebaikan bagi seorang muslim/muslimah yang ikhlas melepas masa lajang.

“Be strong, and no drama, ya. 🙂

Bagaimana menurut njenengan?

Advertisements