Some people are not meant together, even when they are together. –Tris

Kadang saya suka tidak paham bagaimana jalan pikiran anak muda (merasa tua nih, hehe). Apalagi ketika mereka sedang dimabuk cinta.

Namanya juga mabuk cinta. Orang mabuk kadang tidak bisa berpikir jernih. Memahami jalan pikiran mereka sama dengan mencicipi kopi klothok yang diseduh dengan rempah, bias, tidak konsisten, harus nyruput pelan-pelan kalau mau tahu detil rasanya.

Sebut saja namanya Tris. Dia sempat masuk tahanan karena dituduh memperkosa pacarnya. Menurut pengakuannya, perbuatannya itu bukan memperkosa, tapi atas dasar suka sama suka.

Saya mengenal Tris tidak secara langsung, melainkan dari pacarnya yang saat itu meminta pendampingan psikiater untuk menghadapi sidang. Kebetulan, saya ditugaskan di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Polda Jatim di RS Bhayangkara. Di sana, saya bertemu dengan–sebut saja–Laras, gadis 16 tahun yang telah kehilangan kegadisannya sejak setahun dia mengenal Tris.

Mereka berpacaran sejak lulus SD. Yah, fenomena ini sudah mewabah akhir-akhir ini. Bahwa anak-anak sekarang sudah dewasa lebih cepat dari jaman saya dulu.

Menginjak kelas dua SMP, mereka terdorong berhubungan suami isteri. Alasannya cuma satu: mereka menjadi bergairah setelah mengikuti pelajaran biologi di sekolah.

Mengapa bisa? “Soalnya ingin tahu,” jawab Tris. Nah, ini jawaban yang cukup miris, ya. Tapi begitulah kenyataannya. Kita tidak bisa memungkiri kalau energi mereka begitu besar di usia remaja, dan daya pertimbangan mereka menjadi kalah oleh risk taking behavior yang mereka punyai.

Yang menarik, Tris memutuskan untuk menghadapi orang tua Laras, setelah selama tiga bulan Laras tidak menstruasi. Orang tua Laras shocked setelah Tris mengabarkan bahwa hasil tes kehamilan Laras positif. Jadilah Tris dihajar habis-habisan oleh ayah Laras.

Di tengah pertengkaran itu, dengan tegar Tris bicara, “Kalau Bapak setuju, saya nikahi Laras minggu depan. Sudah saya siapkan penghulu dari teman bapak saya. Saya rela keluar dari sekolah untuk nemenin Laras merawat kehamilannya. Karena bagaimanapun itu adalah bayi kami.”

Alhasil, Tris semakin dihajar. Sambil memukuli, sang Bapak berkata, “Kamu kira penghulu bisa menikahkan anak saya yang sedang hamil, hah?? Haram! Haram, anak tidak tahu diuntung!” Karena dalam agama Bapak Laras, menikahkan perempuan yang sedang hamil itu hukumnya haram.

Singkat cerita, Tris batal menikahi Laras. Persis setahun sejak mereka pacaran, anak Laras lahir. Bersamaan dengan itu, Tris mendekam di tahanan. Bapak Laras mendaftarkan kasus mereka sebagai “perkosaan”.

Saat saya temui, Tris dalam kondisi yang cukup tegar. “Dua bulan lalu saya depresi sampai ingin bunuh diri, Dok,” katanya, “tapi saya ingat anak saya, jadi saya urungkan niat saya itu. Saya harus tegar, Dok.”

Dan dalam dua bulan ini, Tris akhirnya dibebaskan. Karena orang tua Tris mengajak orang tua Laras untuk berdamai, dan menawarkan opsi yang dulu pernah ditawarkan, yakni menikah.

Kedua orang tua setuju. Laras juga setuju. Sesuai arahan dari PPT Polda Jatim, kedua calon mempelai sebaiknya mendapat pendampingan psikolog atau psikiater agar lebih mantab dalam membina rumah tangga mereka. Keduanya setuju.

Di tempat terpisah, Laras kemudian mengungkapkan, “Saya ingin awal yang baru, Dok. Saya ingin memulai semuanya dengan baik, tidak seperti dulu lagi,” katanya sambil menangis, “saya tidak ingin menimbulkan kekesalan di mata keluarga.”

“Iya, Dek. Saya paham yang kamu alami memang cukup berat. Lalu, mungkin bisa kamu ceritakan, apa rencanamu selanjutnya?”

“Saya ingin urung menikah, Dok,” tangis Laras makin menjadi-jadi, “saya kasihan sama Mas Tris. Begitu berat beban yang dipikulnya..”

“Apa yang Laras lihat dari sikap Mas Tris terhadap beban itu?”

“Ya memang Mas Tris sudah berkorban banyak. Dia rela dipenjara demi saya. Tapi sepertinya saya belum siap menikah, Dok.”

“Baik. Setidaknya Laras sudah bisa mengukur kesiapan diri sendiri. Tentang semua persiapan dari kedua orang tua, bagaimana pendapat Laras?”

“Sudah saya sampaikan ke orang tua saya, Dok. Saya belum siap. Saya hanya ingin merawat bayi ini sebagaimana kewajiban ibu kepada anaknya. Tapi untuk menikah.. Sepertinya tidak, Dok..”

“Niatan yang bagus lho untuk merawat bayinya. Lalu bagaimana tanggapan orang tua tentang keinginan Laras untuk tidak menikah?”

“Ya mereka marah, Dok. Padahal saya sudah dibela-belain mati-matian. Katanya dengan rencana tidak menikah itu berarti mencoreng nama baik keluarga.”

“Bagaimana komentar Laras selanjutnya?”

“Sejak pacaran, saya sudah mencoreng nama baik keluarga, Dok. Kehamilan saya dan sampai anak saya lahir sekarang, semua peristiwa yang mengikutinya hanya memperberat. Karenanya, saya ingin menebus masa lalu, dan memulai semuanya bener-bener baru..”

“Termasuk keputusan tidak ingin menikah?”

“Iya, Dok. Menikahi Mas Tris sama saja saya masih terkungkung dengan masa lalu. Saya terlalu sakit mengingatnya. Saya hargai kebaikan hati Mas Tris, tapi ya sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Semuanya kesalahan kami. Saya hanya tidak ingin terbayang-bayang masa lalu, Dok.”

Ada banyak hal yang bisa dipelajari saat sesi bersama Laras. Bagaimana perjuangan seorang perempuan yang berani menentukan sikapnya, bertanggung jawab terhadap masa lalunya, dan berani mengambil resiko untuk masa depannya.

Tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Bagi Laras, saat ini yang paling penting adalah segera menentukan sikap. Jika pilihannya salah, dia rela menanggung resikonya, dan siap bangkit lagi untuk belajar.

Lain lagi dengan Tris. Dia kaget ketika Laras mengambil keputusan seperti itu. “Setelah apa yang kita lalui, dan kau memilih pergi?,” hardiknya. Laras hanya menangis.

Tris sadar tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membujuk Laras. Dia memahami Laras sepenuhnya. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa lebih baik dari sekarang ini.

Hanya saja, Laras merasa bahwa kebersamaan mereka hanya memunculkan sumber konflik baru di kemudian hari karena sebenarnya mereka belum benar-benar dewasa.

Tris tidak membantah. Dia berbalik mendukung Laras apa adanya. Laras sudah memutuskan, dan Tris bisa melihat bahwa keputusan itu sudah final bagi Laras. Dia mendekap Laras, dan mengecup kening Laras dan putranya untuk yang terakhir kalinya.

Saat saya ngobrol lagi dengan Tris, dia bilang, “Saya hanya tidak ingin terlalu banyak berharap, Dok,” Tris menengadah, menatap cahaya matahari yang menyisip dari balik jeruji besi.

“Saya sudah melakukan hal terbesar yang bisa saya lakukan untuk orang yang saya cintai, Dok. Saya juga melewati hal-hal buruk sejak saya masuk tahanan. Saya belajar banyak. Dan saya bangga kepada diri saya. Ternyata saya bisa melewati itu semua.”

Tris berjarak satu hasta dengan saya. Tampak jelas dia berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya. Dia masih menikmati mengingat hal-hal gila yang pernah dia lakukan untuk Laras. Termasuk mendekam di tahanan sebelum kasusnya selesai diproses.

“Mengetahui bahwa tidak bisa bersama orang yang kita sayangi memang menyakitkan ya, Dok.” Saya diam, dan mengangguk pelan. Tris masih tidak memandang saya.

“Tapi saya jadi sadar. Saya merasa bisa mensyukuri kebebasan setelah tahu rasanya dipenjara. Saya jadi lebih mensyukuri indahnya pertemuan setelah merasakan pedihnya perpisahan. Saya jadi lebih menghargai apa yang saya miliki karena tahu betapa sakitnya kehilangan dia.”

Air matanya mulai menetes. Nafasnya semakin berat. Tembok-tembok memantulkan isak tangis yang disembunyikannya di ruangan yang tak terlalu besar ini. Suaranya menggema.

“Bagi saya, bahagianya adalah bahagia saya, Dok. Saya harus paham bahwa keputusan itulah yang membuatnya lebih bahagia. Dan saya bangga karena dia berhasil menunjukkan bagaimana dia akan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya.”

“Saya harus memulai hidup saya kembali, Dok. Mungkin saya masih butuh dokter sama temen-temen PPT ya, Dok.”

“Sayangnya PPT hanya melayani perempuan dan anak-anak, Bro,” jawab saya, “tapi karena umurmu masih di bawah 18 tahun, kamu masih dianggap anak-anak.”

Kami tertawa.

“Dok,” dia menerawang kembali, “sometimes people are not meant together even when they are together, ya Dok,” katanya.

Bagaimana menurut njenengan?

_____
Kisah ini telah dimodifikasi dan didramatisir, tentunya.

Advertisements